Pemuda dan Gerakan Stratejik-Politik

Problem besar nasional pasca reformasi agaknya bertambah banyak. Kalau dahulu tuntutan reformasi yang didengungkan oleh banyak kalangan belum membuat kita berpuas, maka tantangan dan tuntutan bangsa ke depan mengindikasikan bahwa kita mesti lebih cepat belajar. Betapa tidak, agenda-agenda mendesak silih berganti datang menghampiri republik ini. Perubahan cepat yang terjadi disekeliling kita dibandingkan dengan konsolidasi demokrasi saat ini sering berjalan satu kaki.

Bagi pemuda, tantangan paling dekat yang harus mendapat perhatian ekstra adalah proyeksi kepemimpinan bangsa. Sepuluh tahun reformasi ternyata tidak menjamin jalannya tata kelola pembangunan yang menyeluruh dan menyentuh beragam aspek di masyarakat. Walhasil, kita melihat disana-sini kesenjangan semakin merebak. Untuk itu, penguatan kepemimpinan bangsa sebagai pilar kemajuan merupakan agenda yang tak bisa ditawar lagi.

Sayangnya keinginan kuat untuk merubah keadaan itu masih terhambat oleh oligarki kekuasaan yang merajalela. Buah yang dipupuk oleh rezim orba masih kental menghiasi frame berpikir mayoritas penguasa negeri ini. Kekuasaan ternyata masih dipandang sebagai domestikasi keadaan yang harus dijaga kelanjutannya. Sehingga, setiap kali isu suksesi kepemimpinan diwacanakan, resistensi yang mengiringinya nyaris selalu bernada parokial. Figur-figur muda-berkualitas bukannya tidak ada, namun lebih kepada ketidakmampuan menembus budaya elit partai yang memiskinkan kreativitas mereka.

Mewacanakan terus isu penguatan kepemimpinan bangsa – pada kondisi tertentu – bisa menyebabkan kejenuhan sosial bila tidak dikendalikan dengan bijak. Beberapa wacana publik yang terus terjadi akhir-akhir ini mengafirmasikan kepada kita hal ini. Publik terkesan jenuh dengan isu-isu yang berkutat disekeliling mereka yang pada akhirnya menciptakan persaingan yang tidak sehat ditingkat elit. Menjawab itu, pewacanaan kepemimpinan harus bergerak sesegera mungkin menjadi sebuah political movement yang progresif.

Political movement bercirikan ide-ide yang tersebar digunakan bukan untuk dikonsumsi sebagai wacana harian semata. Ia hadir demi common interest yang diyakini kelompok tertentu. Pemuda bisa mengarahkan para loyalisnya kearah tujuan ini. Dalam tingkat tertentu, gagasan ini memerlukan landasan stratejik dan operasional yang memadai.

Pada tingkat stratejik, landasan dari gagasan ini harus mampu menguasai wacana publik melalui penyebaran ide-ide intelektual yang bisa dilakukan oleh para cendekiawan maupun aktivis pergerakan. Pergulatan wacana masih menjadi senjata andalan di era ketika sekat-sekat informasi menjadi tak berarti. Tinggal bagaimana mengelola agar wacana seperti ini tidak cepat dilupakan begitu saja.

Langkah selanjutnya adalah melakukan kaderisasi kepemimpinan politik. Perbedaan paling mencolok antara dunia politik dan bisnis adalah, belum adanya budaya meritokrasi dalam dunia politik. Regenerasi kepemimpinan masih jauh dari logika meritokrasi disebabkan masih kuatnya will to power yang dimiliki oleh penguasa. Keharusan setiap kita untuk tidak membiarkan hal ini terus terjadi melalui reaksi-reaksi kultural yang sifatnya kontinu.

Pada tataran operasionalnya, kita memerlukan serangkaian terobosan sebagai landasan kuat dalam berpijak. Pertama, harus diingat, kegagapan partai membaca situasi yang diiringi keharusan perubahan budaya politik kearah kosmopolit adalah agenda kepartaian – melalui komunikasi politik – yang harus ditunaikan secepatnya. Kita harus mulai membangun sistem dan budaya kepemimpinan kolektif sebagai syarat kondisi keberlangsungan partai modern. Singkatnya, perlu diperhatikan penguatan kelembagaan partai termasuk institusi-institusi negara lainnya sebagai pilar demokrasi.

Kedua, pemberdayaan masyarakat banyak sebagai silent majority dalam pewacanaan penguatan kepemimpinan bangsa. Pengelolaan suara masyarakat akan efektif manakala dilakukan jauh sebelum perhelatan pemilu yang menentukan dimulai. Pemberdayaan seperti ini tentunya memerlukan sensitifitas kultural yang baik dan komunikasi serta pendidikan politik yang melibatkan segenap masyarakat.

Jangan lupa, demokrasi yang kini dianut Indonesia meniscayakan perputaran uang yang tidak sedikit. Apalagi untuk sekedar dikenal oleh masyarakat melalui iklan-iklan yang bertebaran dimana-mana. Untuk itu selain penguatan semua hal diatas, kemandirian ekonomi di dalam dunia politik menjadi penting.

Modal yang cukup akan menjamin berjalannya fungsi-fungsi strategis penyebaran gagasan-gagasan besar ke masyarakat. Kemandirian ekonomi dalam politik tidaklah identik dengan korporatokrasi karena ia mengisyaratkan unit-unit usaha politik dapat berjalan secara mandiri.

Agaknya model aliansi “Ide Muda”– Kepemimpinan – Modal – akan menentukan nasib perjalanan bangsa kita ke depan. Kegagalan kita menemukan konsep yang tepat dalam menjawab tantangan kepemimpinan bangsa akan mengakibatkan ongkos sosial yang tak terkira besarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s