Antara Teror dan Kepentingan

ini tulisan  iseng yang sudah di recycle di blog saya. eh, ternyata dimuat di koran Sindo. hehe, entah apa yang ada di pikiran editornya waktu itu sampe tulisan yang biasa-biasa aja ini masuk koran  🙂

Peristiwa pengeboman yang meluluhlantakkan hotel JW Marriot dan Ritz Carlton beberapa hari lalu tak hanya mengundang beragam spekulasi siapa otak dibalik aksi teror keji ini. Tetapi, lebih jauh, kita bisa berdebat apa yang memotivasi pelaku – jika benar bom bunuh diri – bersedia menghilangkan nyawanya untuk sesuatu yang ia yakini.

Penjelasan klasik dan paling mudah adalah argumen psiko-religius. Bahwa seseorang – dengan didasari keyakinan ideologis dirinya – berpotensi melakukan teror terhadap orang lain. Sayang sekali, agama dan ideologi, terlalu mudah dijadikan means of violence, semacam solidarity maker yang menyatukan para pelaku teror. Dalam bahasa Max Weber, terdapat “dimensi asketis”, yang hanya mampu didapat lewat hal-hal yang disucikan seperti keyakinan, atau sesuatu yang sangat personal sifatnya. Sekali agama dan ideologi digunakan untuk kepentingan diluar dirinya, berikutnya ia akan berulang pada bentuk kepentingan lain yang lebih mengerikan.

Saya bersepakat dengan analisis Anies Baswedan, bahwa faktor ideologi, agama, atau budaya, bukan pilihan yang mendasari seseorang melakukan tindak kekerasan melainkan kalkulasi rasional dan kepentingan dibalik tindakan itu. Identifikasi lawan dan kawan lebih mengedepankan kalkulasi untung-rugi, insentif dan disinsentif, dari sebuah tindakan. Hal ini bukan berarti kita menafikan penggunaan kekerasan atas nama agama sebagaimana yang disinyalir beberapa kalangan. Namun, harus diakui hal tersebut hanya ada pada level mikro, pada individu-individu eksekutor kekerasan. Agama sering dijadikan justifikasi penggunaan bentuk-bentuk kekerasan. Tapi landasan stategisnya, murni ditentukan oleh kepentingan strategis. Artinya, aktor intelektual bergerak tidak murni atas dasar kepentingan ideologis, melainkan memutarbalikkan makna transenden agama untuk kepentingan dirinya.

Sejauh ini, kesulitan kita menganalisis kejadian-kejadian teror lebih disebabkan penggunaan pisau analisa kultural yang kurang memadai. Penggunaan idiom-idiom identitas akan menjebak kita pada stereotype berlebihan. Hal ini diperparah dengan penetrasi media yang menghegemoni pemberitaan war on terrorism, seolah-olah ada definisi tunggal tentang bagaimana mengkategorikan sekelompok teroris dan bagaimana mengidentifikasi kawan dan lawan. Cara identifikasi “pukul rata” seperti ini tak akan banyak bermanfaat, kecuali menambah kebingungan publik atas pemberitaan yang bias.

Segala bentuk tindakan teroristik sebagai salah satu bentuk privatisasi kekerasan tentu tak dapat ditolerir. Negara dan masyarakat harus responsif sedini mungkin menyadari gejala-gejala kekerasan sebelum ia muncul dalam bentuk operasionalnya. Ketakutan sebagian pihak bahwa negara kita menuju pada banalization of violence harus dijawab dengan mengukur sejauh mana motif dan kepentingan pelaku teror tersalurkan lewat bentuk teror yang mereka gunakan. Kita mesti melihat persoalan terorisme – tidak hanya di Indonesia – secara jernih. Jangan sampai kita terjebak pada bentuk primordialisme gaya baru yang menguntungkan pihak-pihak tertentu, atau lebih parah, menghancurkan dimensi hakiki keyakinan dari dalam.

Dimuat di Sindo, edisi 23 Juli 2009

Advertisements

Bom dan Kepentingan

Kemarin pagi, bom kembali meledak di Jakarta. Di sentra bisnis kuningan, bom meledak di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Dikabarkan 9 orang tewas, termasuk warga negara asing dan tak kurang dari 50 orang dirawat di rumah sakit.

Sontak saja bom dipagi buta itu mengejutkan dunia. Bagaimana bisa, hotel bintang lima dengan pengamanan berlapis-lapis kebobolan oleh ulah segelintir teroris? Berbagai spekulasi berkembang : aksi sebagian pihak yang kecewa terhadap hasil Pilpres, rangkaian teror sejak serangan beruntun di area Freeport, Papua, perampokan uang bank Rp 15 M tak lama sebelum bom, ataupun spekulasi klasik : kelompok JI – dengan segenap perangkatnya – kembali beraksi di Indonesia.

Saya menyayangkan, respon Presiden SBY atas peristiwa ini. Sekurang-kurangnya ia memanfaatkan momen publik untuk kepentingan pribadinya. Soal keamanan dihubung-hubungkan dengan permasalahan politik. Rakyat butuh kejelasan dan ketenangan. Presiden SBY gagal memberikan itu. Ditengah-tengah kebingungan publik, ia menuding sekelompok orang yang tak puas dengan hasil Pilpres berpotensi berada dibalik aksi. Dan tak seperti biasanya, Presiden bersikap defensif : melaporkan hasil investigasi intelijen terkait pihak-pihak tertentu yang ingin menghabisinya persis ketika bom terjadi. Kalau sudah tahu akan ada serangan terhadap dirinya, kenapa itu harus disampaikan pada saat bom meledak? Mengapa tidak langsung segera dikomunikasikan ke publik saat rilis laporan itu diterima oleh Presiden?

Yang tambah membuat saya bertanya-tanya, kepala BIN Sjamsir Siregar mengakui tak ada laporan intelijen yang mengindikasikan akan terjadi serangan bom ini. Pertanda bobroknya sistem keamanan di negeri kita.

Bukan hanya penggemar Manchester United yang kecewa, tapi segenap insan cendekia yang peduli pada nasib bangsa pasti gundah-gulana. Kepercayaan internasional kembali harus ditanam dari awal, investasi akan melemah, dan ini akan berdampak pada perkembangan ekonomi dan kesejahteraan Indonesia, dan dan kabar terakhir, travel warning kembali dikeluarkan oleh Pemerintah Australia bagi penduduknya yang ingin berkunjung ke Indonesia.

Itulah sederet fakta yang saya rekam dua hari pasca pengeboman. Sekarang pertanyaan kita, apa yang memotivasi seseorang mau menghilangkan nyawanya lewat bom bunuh diri?

Saya sepakat dengan analisis Anies Baswedan, bahwa faktor ideologis, agama, dan budaya, bukan pilihan yang mendasari seseorang melakukan kekerasan melainkan kalkulasi rasional dan kepentingan. Identifikasi lawan dan kawan lebih mengedepankan untung-rugi, insentif dan disinsentif, sebuah tindakan. Saya tidak menafikan penggunaan kekerasan atas nama psiko-religius, namun, harus diakui hal tersebut hanya ada pada level mikro, pada individu-individu eksekutor kekerasan. Tapi landasan stategisnya, murni ditentukan oleh kepentingan rasional.

Selama ini, kesulitan kita menganalisa kejadian-kejadian teror lebih disebabkan penggunaan pisau analisa kultural. Melihat orang berjenggot, memiliki nama-nama Islam, orang dengan mudah mengasosiasikannya dengan kelompok garis keras/teroris. Ditambah lagi dengan penetrasi media barat yang menghegemoni war on terrorism.

Sayang sekali, agama dan ideologi, terlalu mudah dijadikan means of violence, semacam solidarity maker yang menyatukan para pelaku teror. Dalam bahasa Max Weber, terdapat dimensi asketis, yang hanya mampu didapat lewat hal-hal yang disucikan, keyakinan, atau sesuatu yang sangat personal sifatnya. Sekali agama dan ideologi digunakan untuk kepentingan diluar dirinya, kedua kali ia akan berulah pada bentuk kepentingan-kepentingan lain yang lebih mengerikan.

Alhasil saya ingin mengatakan, mari kita melihat persoalan ini secara jernih. Jangan sampai kita terjebak pada bentuk primordialisme gaya baru yang menguntungkan pihak-pihak tertentu, atau lebih parah, menghancurkan dimensi hakiki keyakinan kita dari dalam. Terorisme yang mengaitkan agama sebagai pemicunya sama sekali tak berdasar. Satu-satunya yang dipercaya : Terroris punya kepentingan rasional disekitar kita.

Batal ikut International Conference

Dengan berat hati, rencana keikutsertaan saya mewakili Indonesia dalam International Youth Leadership Conference di Praha bulan Juli ini terpaksa dibatalkan. Sayang sekali, karena kurang cekatan dan tidak mempersiapkan segalanya dengan serius, saya melewatkan kesempatan emas berkunjung ke Praha. Masalahnya di biaya. Saya sudah mencoba mengirimkan proposal bantuan anggaran ke beberapa instansi, tapi nihil. Padalah konferensi ini cukup prestisius karena mengangkat tema-tema kontemporer seperti Global economic crisis, social justice, dan democracy. Pesertanya 120 pemuda dari 35 negara. Peserta konferensi juga berkesempatan mengunjungi beberapa kedutaan, berjumpa dengan tokoh bisnis dan para politisi dunia, atau bahkan sekedar mendapat learning experience yang tak bisa kita dapatkan di sini. Huhf…, semoga dilain waktu saya lebih beruntung.