Bom dan Kepentingan

Kemarin pagi, bom kembali meledak di Jakarta. Di sentra bisnis kuningan, bom meledak di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Dikabarkan 9 orang tewas, termasuk warga negara asing dan tak kurang dari 50 orang dirawat di rumah sakit.

Sontak saja bom dipagi buta itu mengejutkan dunia. Bagaimana bisa, hotel bintang lima dengan pengamanan berlapis-lapis kebobolan oleh ulah segelintir teroris? Berbagai spekulasi berkembang : aksi sebagian pihak yang kecewa terhadap hasil Pilpres, rangkaian teror sejak serangan beruntun di area Freeport, Papua, perampokan uang bank Rp 15 M tak lama sebelum bom, ataupun spekulasi klasik : kelompok JI – dengan segenap perangkatnya – kembali beraksi di Indonesia.

Saya menyayangkan, respon Presiden SBY atas peristiwa ini. Sekurang-kurangnya ia memanfaatkan momen publik untuk kepentingan pribadinya. Soal keamanan dihubung-hubungkan dengan permasalahan politik. Rakyat butuh kejelasan dan ketenangan. Presiden SBY gagal memberikan itu. Ditengah-tengah kebingungan publik, ia menuding sekelompok orang yang tak puas dengan hasil Pilpres berpotensi berada dibalik aksi. Dan tak seperti biasanya, Presiden bersikap defensif : melaporkan hasil investigasi intelijen terkait pihak-pihak tertentu yang ingin menghabisinya persis ketika bom terjadi. Kalau sudah tahu akan ada serangan terhadap dirinya, kenapa itu harus disampaikan pada saat bom meledak? Mengapa tidak langsung segera dikomunikasikan ke publik saat rilis laporan itu diterima oleh Presiden?

Yang tambah membuat saya bertanya-tanya, kepala BIN Sjamsir Siregar mengakui tak ada laporan intelijen yang mengindikasikan akan terjadi serangan bom ini. Pertanda bobroknya sistem keamanan di negeri kita.

Bukan hanya penggemar Manchester United yang kecewa, tapi segenap insan cendekia yang peduli pada nasib bangsa pasti gundah-gulana. Kepercayaan internasional kembali harus ditanam dari awal, investasi akan melemah, dan ini akan berdampak pada perkembangan ekonomi dan kesejahteraan Indonesia, dan dan kabar terakhir, travel warning kembali dikeluarkan oleh Pemerintah Australia bagi penduduknya yang ingin berkunjung ke Indonesia.

Itulah sederet fakta yang saya rekam dua hari pasca pengeboman. Sekarang pertanyaan kita, apa yang memotivasi seseorang mau menghilangkan nyawanya lewat bom bunuh diri?

Saya sepakat dengan analisis Anies Baswedan, bahwa faktor ideologis, agama, dan budaya, bukan pilihan yang mendasari seseorang melakukan kekerasan melainkan kalkulasi rasional dan kepentingan. Identifikasi lawan dan kawan lebih mengedepankan untung-rugi, insentif dan disinsentif, sebuah tindakan. Saya tidak menafikan penggunaan kekerasan atas nama psiko-religius, namun, harus diakui hal tersebut hanya ada pada level mikro, pada individu-individu eksekutor kekerasan. Tapi landasan stategisnya, murni ditentukan oleh kepentingan rasional.

Selama ini, kesulitan kita menganalisa kejadian-kejadian teror lebih disebabkan penggunaan pisau analisa kultural. Melihat orang berjenggot, memiliki nama-nama Islam, orang dengan mudah mengasosiasikannya dengan kelompok garis keras/teroris. Ditambah lagi dengan penetrasi media barat yang menghegemoni war on terrorism.

Sayang sekali, agama dan ideologi, terlalu mudah dijadikan means of violence, semacam solidarity maker yang menyatukan para pelaku teror. Dalam bahasa Max Weber, terdapat dimensi asketis, yang hanya mampu didapat lewat hal-hal yang disucikan, keyakinan, atau sesuatu yang sangat personal sifatnya. Sekali agama dan ideologi digunakan untuk kepentingan diluar dirinya, kedua kali ia akan berulah pada bentuk kepentingan-kepentingan lain yang lebih mengerikan.

Alhasil saya ingin mengatakan, mari kita melihat persoalan ini secara jernih. Jangan sampai kita terjebak pada bentuk primordialisme gaya baru yang menguntungkan pihak-pihak tertentu, atau lebih parah, menghancurkan dimensi hakiki keyakinan kita dari dalam. Terorisme yang mengaitkan agama sebagai pemicunya sama sekali tak berdasar. Satu-satunya yang dipercaya : Terroris punya kepentingan rasional disekitar kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s