Menuju Kepemimpinan Decisive

Tulisan yang gagal dimuat di media : )

Kemenangan mutlak Capres Incumbent SBY pada Pilpres yang lalu mengindikasikan tingginya ekspektasi rakyat kepada Presiden terpilih. Berbagai persoalan domestik, serangan kubu lawan, plus kampanye berbau SARA menjelang pencontrengan tak menghalangi preferensi mayoritas rakyat menentukan pilihan kepadanya. SBY mengantongi 60% suara, jauh melampaui dua pasangan lainnya.

Bola emas ada ditangan Presiden. Sistem Presidensial harus dijalankan sebagaimana mestinya. Kekuasaan Eksekutif yang bebas dari intervensi legisltatif dapat dibuktikan dengan kemerdekaan mengangkat menteri-menteri yang memimpin departemen dan non departemen. Pengalaman politik akamodasionis selama lima tahun terakhir harus diakhiri, mengingat kabinet dijadikan ajang kompromi beragam kepentingan. Kemenangan mutlak Demokrat plus barisan pendukungnya diperkuat dengan popularitas SBY yang menjulang adalah garansi berjalannya pemerintahan yang efektif.

Kepemimpinan decisive SBY sebetulnya semakin terlihat jelas dalam tiga level menjelang Pilpres. Pertama, berbeda dengan image peragu yang digembar-gemborkan lawan politiknya, SBY menentukan kalkulasi politiknya sendiri dengan memilih Boediono – seorang yang tak memiliki basis massa jelas – sebagai pendampingnya, ditengah “lamaran” partai-partai koalisi. Keberaniannya menentukan kalkulasi politik tidak populer dilakukan dengan tidak menempatkan popularitas pragmatis dalam prioritas utama. SBY lebih memilih menyelamatkan prioritas ekonomi jangka panjang ketimbang menggantungkan harapan “bermain aman” dengan mengesampingkan cawapres lain yang dianggap lebih populer. Kedua, pilihannya untuk tidak mengumbar janji manis selama kampanye. Kampanye SBY-Boediono bukanlah bentuk kampanye populis. Berbeda dengan retorika kerakyatan yang diumbar calon lain, SBY tahu betul target-target realistis yang bisa dicapai pemerintahannya, tentu dengan mengandalkan komunikasi ke konstituen yang eloquent. Ketiga, pernyataan SBY bahwa koalisi bukan ajang bagi-bagi kursi cukup melegakan kita karena SBY tak ingin terjebak pada tekanan keputusan yang ia ambil sendiri. Kita menunggu untuk menyaksikan janji SBY dalam merealisasikan “Kabinet Kerja” bukan “Kabinet Koalisi”. Karena ketakutan paling mendasar dari pembentukan kabinet saat ini adalah berulangnya “politik balas budi” alias “dagang sapi”. Partai-partai yang merasa memiliki saham dalam mengantarkan SBY ke tampuk pemerintahan akan berharap kader mereka ditempatkan di kabinet. Perilaku ini aneh karena seharusnya sistem presidensial menjamin independensi hubungan antara eksekutif dan legislatif. Presiden tak boleh ragu-ragu menentukan hak prerogatifnya. Terlebih, SBY dipilih langsung oleh rakyat dengan tingkat keterpilihan lebih besar dibanding 2004.

Lewat momentum inilah kepemimpinan decisive SBY lagi-lagi diuji. Kita berharap munculnya orang-orang yang tak diragukan kapabilitasnya, bersih, dan tanpa cela memimpin lembaga pemerintahan.

Dukungan Presiden

Namun perlu diingat, dukungan publik (public support) terhadap Presiden terpiilih selama kampanye tidak serta merta berkelindan dengan dukungan politik (political support) pada pemerintahan. Padahal, kepemimpinan decisive butuh contoh pengambilan keputusan yang cepat, tegas, dan tak populer demi kemaslahatan publik. Sayang dalam kosakata politik Indonesia, istilah perubahan belum merupakan sesuatu yang populer. Pemimpin politik lebih diidolakan dengan kesantunan dan etika ketimbang gagasan dan ide-ide bernas.

Tugas SBY adalah mengelola negara dengan melampaui harapan (exceed expectation) tanpa keraguan mengambil kebijakan. Jurang yang memisahkan antara modal sosial dan modal elektoral harus didekatkan sehingga tercipta sistem Presidensial yang efektif. Dengan dukungan tadi, sangat pantas kita berharap banyak pada Presiden terpilih. Tidak boleh ada ruang bagi kegagalan menyalahgunakan kekuasaan. Perilaku rakyat pemilih yang memilih strategi straight-ticket bukan split-ticket, yakni satu paket Presiden dan Partai pada pemilihan yang lalu akan memengaruhi efektifitas jalannya sistem presidensial. SBY akan menikmati dukungan mayoritas anggota parlemen yang juga dikuasai Partai Demokrat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s