Tentang Menulis dan Tulisan

Well, harus kuakui, blog ini amat jarang kuperhatikan. Malas memang jadi kendala utama, selain waktu, tentunya. Sebenarnya, aku bukannya tidak menuliskan isi pikiran ; ide, gagasan, memoir, cerpen, atau bahkan sepenggal syair dan puisi. Sebagai penerima beasiswa PPSDMS Nurul Fikri, sudah menjadi kewajibanku mengirimkan satu artikel opini ke media massa tiap bulan. Bahkan lebih dari itu ; aku bisa mengirim satu hingga dua artikel opini tiap minggunya dan alhamdullilah, beberapa sudah ada yang pernah dimuat. Hebat kan? Hehe..

Tapi, setelah aku ‘bongkar-gudang’ file-file tulisanku, aku jadi semakin sadar gaya penulisan yang sangat tipikal ; terlalu serius, kaku, dan seringkali mengangkat tema-tema, yang barangkali dianggap ‘berat’ bagi sebagian mahasiswa (itu juga salah satu sebab kenapa blog ini jarang dikunjungi orang ). Sangat mungkin ilmu filsafat, jurusan yang kuambil di UI, menjabat Ketua BEM, dan sederet aktivitas di dunia kemahasiswaan membentuk pola pikirku saat ini.. Memang, aku punya minat luas pada bidang sosial-humanioara. Cakupan tema bidang itu menarik karena menantang kita agar terus berpikir, menganalisis situasi, menemukan varian2 baru yang kiranya menuntut kreativitas dan inovasi yang “out of the box”.

Tapi itu juga yang jadi masalahnya. Tulisan seorang yang belajar ilmu sosial amat mungkin bias atau disalahartikan. Ada dua sebab ; pertama, ketidakmampuan penulis membedakan mana fakta independen yang bebas dari penafsiran penulis, analisis yang jernih dari penulis, dan/atau kutipan-gagasan yang sering di klaim sebagai pendapat penulis. Kedua, ketidakmampuan para pembaca tulisan2 ilmu sosial, dalam menafsirkan perbedaan2 diatas. Kemudian konteks pembicaraan ilmu sosial-humaniora juga rawan mengalami perluasan yang seringkali tak terhindarkan. Jadinya, tak cukup hanya mengandalkan satu varian teori dalam menganalisis persoalan. Disinilah dibutuhkan kejeniusan dari seorang penulis ; tafsir dan kemampuan imajinasi.

Berbicara mengenai interaksi antara pembaca dan penulis, ada satu teori bahasa yang diperkenalkan Roland Barthes (seoarang ahli semiotika) ”the death of the author”. Menurutnya, ketika sebuah tulisan sudah dipublikasikan alias masuk di ruang publik, maka peran penulis harus dikubur dalam-dalam. Pembaca bebas menafsirkan dan membentuk pemahamannya sendiri. Karena, cerita, bahkan privasi apa yang diceritakan menjadi tak berjarak. Penulis tak lagi bisa mengklaim (alur ceritanya harus begini-begitu) cerita itu miliknya. Cerita harus-mutlak menjadi milik pembaca. Darisini muncul pemahaman multitafsir yang mendukung konteks multikulturalisme dan pluralisme masyarakat modern.

Aku lumayan setuju dengan si Barthes ini, mengingat nasib penulis yang malang seringkali tidak diakibatkan oleh kedunguan mereka, melainkan judgement pembaca. Mungkin, dari sekian banyak penulis, yang paling apes adalah para novelis, pencerita, atau cerpenis terkemuka. Mengapa, karena orang akan dengan sangat mudah mengkaitkan apa yang mereka baca dengan sosok penulis. Kalau ada ketidaksinkronan antara fakta dan realita, maka siap2 menerima sanksi sosial yang diskriminatif ini. Terlebih, kita hidup di jejaring sosial yang penuh kecurigaan, ekpektasi berlebihan, penumpuan kesalahan atau harapan pada seseorang. Padahal menurutku, kemampuan yang dimiliki oleh para pencerita diatas tak ada duanya. Mereka punya yang namanya IMAJINASI. Ya, Imajinasi, itulah yang membuat dunia mengakui karya komponis seperti Mozart, Bach, dan Beethoven sebagai mahakarya. Atau penggambaran imajinatif novel Don Quixote karya Carventes, dan Hamlet, Romeo and Juliet hingga Macbeth karya Shakspeare. Kemampuan bercerita dan kritik sosial yang dibangun lewat syair, puisi, novel, roman – bagiku ada dilevel paling atas dari seorang “ahli bahasa” (mungkin karena ini juga bangsa arab sejak zaman kuno menganggap karya sastra sebagai budaya tinggi dalam peradaban mereka). Oleh karena itulah, cara menulis terbaik adalah menulis dengan rasa bebas-merdeka, tanpa tekanan (atau merasa tertekan) dari sudut manapun. Bebas mengkreasikan tulisan yang dituangkan lewat ide-ide bernas. Aku percaya sedang menuju kesana. : )

One thought on “Tentang Menulis dan Tulisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s