Menyambut Lebaran

Baru saja umat Islam di seluruh dunia, merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1430 H. Hari paling dinantikan dalam doktrin suci Islam untuk segenap umatnya. Diawali perjuangan satu bulan menahan nafsu, yang sebenarnya merupakan jihad paling keras sebagaimana pernah diucapkan Rasulullah selepas perang Badar, tibalah umat Islam dihari nan fitri, ketika semuanya suci, putih, seoalah-olah manusia kembali menjadi tabula rasa.

Dalam konteks tradisi di Indonesia, Idul Fitri ditandai dengan tradisi mudik (pulang kampung), saling memaafkan, menjalin kembali silaturahmi atau sering disebut halal bi halal. Konon tradisi seperti ini khas Indonesia dan tak ditemui di negeri muslim lainnya. Migrasi temporal yang dilakukan berjuta-juta manusia ini, menggerakkan perekonomian lewat perputaran trilyunan rupiah, mengisi pengalaman dan warna-warni baru kehidupan, atau bahkan menghentikan sejenak jantung aktivitas di kota-kota besar. Saya yang pulang ke kampung halaman di Jambi juga turut merasakan indahnya nuansa kefitrian itu. Sungguh, arti penting Idul Fitri secara materil dan imateril sangatlah luar biasa.

Namun ada sedikit renungan yang ingin saya shared dengan blog’ers sekalian, saya bertanya-tanya, mengapa pada hari itu manusia Indonesia merasa perlu menempuh perjalanan ratusan mil untuk bertemu sanak saudara – kendatipun hanya beberapa hari saja – sembari meninggalkan sederet aktivitas rutin mereka? Ini fenomena menarik untuk dicermati. Orang bisa setahun penuh bekerja mengumpulkan uang, memenuhi kebutuhan hidup, untuk mendapatkan apa yang dinamakan dengan identitas eksistensial, sebagaimana psikolog behavioristik menyebutkan ; keinginan untuk diakui, dicintai, agar manusia ‘meng-ada’ dalam dunianya. Aktivitas sosial menuntut adanya pre-condition of social environment sebagai latar apa yang akan kita lakukan kemudian. Dengan begitu, kita merasa perlu berpolah ; bekerja, beraktivitas, menaklukkan tantangan-tantangan dunia. Tapi, Idul Fitri mengalahkan itu semua. Aktivitas rutin selesai dihari itu.

Bagi saya, inilah salah satu kekhasan sifat manusiawi kita ; manusia adalah makhluk yang rindu pulang. Ya, kita semua, tak peduli darimana kita berasal dan latar belakang apapun itu, kita akan merindukan asal-muasal alias tanah kelahiran kita. Seingat saya, ide ini pernah dicetuskan oleh alm. Nurcholish Madjid ketika saya membaca bukunya sewaktu SMA dan saya bersepakat dengan itu.

Blog’ers, Orang Indonesia yang lama tinggal di luar negeri pada saat-saat tertentu pastilah terbesit dari lubuk hatinya kembali ke tanah air, begitupula para pekerja profesional di kota-kota besar seperti Jakarta, kita dengan mudah melihat eksodus besar-besaran kelompok ini kembali ke daerah asalnya menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri. Kini saya jadi lebih paham, dalam konteks kemerdekaan Indonesia, mengapa benih-benih nasionalisme dan cikal-bakal nasion Indonesia baru muncul pada awal abad 20. Kondisi sosial-politik kala itu memungkinkan sekelompok elit bangsa ini mengenyam pendidikan liberal ala Barat di Eropa (mayoritas mereka kala itu bersekolah di Belanda) ataupun pendidikan sekuler sebagai tindaklanjut politik etis akhir abad 19. Nun jauh disana, konon, elit modern generasi pertama Indonesia ini rutin melakukan pertemuan memikirkan nasib bangsa kedepan (paham nasionalisme ketika itu memang sudah menjadi tren pemikiran di penjuru Eropa). Mereka berdebat tentang visi masa depan nasion Indonesia, berpikir keras memajukan kecerdasan rakyat, mencari peluang dengan mencari format corong politik yang cocok ditengah represi kolonialis kala itu. Singkatnya, kerinduan akan tanah air dan kampung halaman membuncah berkali-kali lipat ketika mereka berada di luar negeri. Harus ada feedback yang bisa mereka berikan, sepadan dengan kesempatan emas yang mereka raih untuk belajar disana. Pengalaman yang sama persis diceritakan oleh beberapa teman yang sempat beranjangsana ke luar negeri. Mereka bilang, cinta tanah air bukan pengalaman yang bisa diajarkan seperti yang pernah saya alami di bangku sekolah, tetapi harus dialami sedalam mungkin kemudian kita menyimpulkan sendiri, lewat nasionalisme itu, apa yang bisa kita berikan untuk negeri ini.

Barangkali ini terlalu jauh, tetapi, saya kira seperti itu jualah kita sebaiknya memandang kematian. Sebab, kematian berarti pembebasan manusia yang paling hakiki. Disaat itulah kita ‘pulang’ keharibaan terbaik ; bertemu dengan Zat yang menggenggam jiwa ini. Tentu saja, sangat naïf kalau saya bilang kita tak perlu bersedih bila ditinggal oleh orang-orang dekat selama-lamanya. Tapi yang saya maksud, kematian sebagai pintu masuk keabadian (immortality), kebebasan, kesempatan berjumpa dengan Rabb dan para kekasih-Nya.

Sekarang pandangan saya tentang manusia sebagai “makhluk yang rindu pulang” dalam konteks lebaran tahun ini kira-kira berbunyi ; Idul Fitri adalah puncak pengalaman keagamaan manusia Indonesia. Karena pada hari itulah manusia Indonesia meninggalkan segala atribut duniawinya, mengembalikan mereka kembali ke sejarah awalnya, dan diatas itu semua, membawa mereka kembali pada kefitrian. Menjadi spesial karena pengalaman ini tidak dialami satu-dua orang saja, tapi melibatkan komponen masyarakat paling besar dan turut dirasa bahkan oleh orang-orang yang notabene tidak merayakan lebaran.

Allahumma inna ij ‘alna minnal ‘aidin waj ‘alna minnal fai’zin. “Ya Allah, setelah berpuasa ini, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang kembali ke fitrah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s