My Jakarta : NOORY OKTHARIZA

short interview with Jakarta Globe, National Daily Newspaper

Advertisements

SURAT TERBUKA UNTUK GUBERNUR JAMBI

Assalamu’alaikum Wr Wb.

Salam sejahtera,

Semoga surat ini sampai ke meja Bapak Gubernur dalam kondisi yang sebaik-baiknya. Semoga Bapak beserta keluarga senantiasa diberi kesehatan melanjutkan amanah berat sebagai “pemimpin masyarakat” yang Bapak emban beberapa tahun ini.

Gubernur Zulkifli, surat ini tertulis atas dasar cinta teramat dalam terhadap Provinsi Jambi, tanah kelahiran saya. Saya bangga menjadi putra daerah Jambi. Di sinilah, masa kecil dan remaja saya habiskan dengan belajar begitu banyak hal. Waktu bermain dan menikmati suasana alami di pelosok Kenali Asam Atas dan Kebun Kopi memberikan saya inspirasi yang berpengaruh pada pendewasaan saya. Ketika itu saya belum terlalu mengenal dunia. Atau bisa jadi saya terlalu bergelayut dalam indahnya permainan masa kanak-kanak hingga tak terlampau peduli pada isu-isu disekitar. Saya juga belum mendapat bench mark pembangunan, karena belum menyentuh dunia luar.

Sampai pada tahun 2006, saya melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia. …

Continue reading

Ketidaksadaran atas Kesadaran : Ulasan Singkat Perilaku Filsafat Subjek

Rasionalitas barat diyakini sebagai peletak dasar kemunculan budaya modern. Sejak abad 17, modernisasi barat ditandai dengan keyakinan akan progress kebudayaan dan peradaban manusia atas dasar rasio. Dengan rasio, manusia dianggap mampu melakukan objektifikasi atas alam dan ilmu pengetahuan. Gambaran rasio kita merepresentasikan gambaran realitas. Dengan akumulasi pikiran dan studi panjang, keyakinan objektifikasi yang “bebas-nilai” ini menggayungi keyakinan manusia modern hingga saat ini.

Tentu saja rasionalitas tidak muncul di ruang hampa. Ia adalah anak kandung dari peradaban kelam ketidakberpihakan kaum agamawan abad pertengahan atas kebebasan berpikir manusia. Para teoritisi hukum kodrat semenjak Hobbes dan John Locke meyakini, kebebasan manusia sebagai suatu yang nature, yang kodrati– dan dengan begitu tak perlu dipertentangkan dengan doktrin agama. Artinya, kalau agama bertentangan dengan semangat humanisme, maka patut dicurigai apakah agama telah berselingkuh dengan kekuasaan. Ada sekelompok “orang suci” yang berbicara atas nama agama tetapi tidak cukup meyakinkan kaum intelektual pada era itu yang sebentar lagi akan menyingkap tabir modernisme. Artinya, yang terjadi kala itu adalah penyalahgunaan agama pada ruang publik dengan bukti ikut campurnya agama dalam preferensi kebijakan yang bersangkut-paut dengan orang banyak. Kelak, kita mengenali latar historis ini sebagai alasan traumatik pemisahan agama dan negara (atau dengan kata yang seringkali kontroversial, sekularisasi) di dunia barat. ini juga menjelaskan benih-benih pemisahan ruang publik dan ruang privat dalam konteks filsafat politik.

Continue reading