Ketidaksadaran atas Kesadaran : Ulasan Singkat Perilaku Filsafat Subjek

Rasionalitas barat diyakini sebagai peletak dasar kemunculan budaya modern. Sejak abad 17, modernisasi barat ditandai dengan keyakinan akan progress kebudayaan dan peradaban manusia atas dasar rasio. Dengan rasio, manusia dianggap mampu melakukan objektifikasi atas alam dan ilmu pengetahuan. Gambaran rasio kita merepresentasikan gambaran realitas. Dengan akumulasi pikiran dan studi panjang, keyakinan objektifikasi yang “bebas-nilai” ini menggayungi keyakinan manusia modern hingga saat ini.

Tentu saja rasionalitas tidak muncul di ruang hampa. Ia adalah anak kandung dari peradaban kelam ketidakberpihakan kaum agamawan abad pertengahan atas kebebasan berpikir manusia. Para teoritisi hukum kodrat semenjak Hobbes dan John Locke meyakini, kebebasan manusia sebagai suatu yang nature, yang kodrati– dan dengan begitu tak perlu dipertentangkan dengan doktrin agama. Artinya, kalau agama bertentangan dengan semangat humanisme, maka patut dicurigai apakah agama telah berselingkuh dengan kekuasaan. Ada sekelompok “orang suci” yang berbicara atas nama agama tetapi tidak cukup meyakinkan kaum intelektual pada era itu yang sebentar lagi akan menyingkap tabir modernisme. Artinya, yang terjadi kala itu adalah penyalahgunaan agama pada ruang publik dengan bukti ikut campurnya agama dalam preferensi kebijakan yang bersangkut-paut dengan orang banyak. Kelak, kita mengenali latar historis ini sebagai alasan traumatik pemisahan agama dan negara (atau dengan kata yang seringkali kontroversial, sekularisasi) di dunia barat. ini juga menjelaskan benih-benih pemisahan ruang publik dan ruang privat dalam konteks filsafat politik.

Fakta bahwa rasionalitas yang didahului emansipasi semangat renaissance itu baru berusia sekitar 4 abad, kita simpulkan ada sirkulasi doktrin paradigma berpikir manusia. Kita bisa mulai dari era mitologi mesir dan yunani kuno yang kaya dewa-dewa, kemudian masuk ke era substansial monotheistik, era raja-raja yang berkuasa, era sekularisasi hingga sekarang. walaupun pada tiap fase tidak ada batasan rigid tentang paradigma, kita bisa pastikan rasionalisme saat ini sebagai paham yang sangat mungkin tergantikan.

Filsafat Subjek
Dalam literatur sejarah filsafat barat, jamak diketahui tonggak modernisme adalah kemunculan Descartes dengan adagium cogito ergo sum. Descartes menemukan satu-satunya kepastian adalah “aku yang berpikir”. Kontemplasi panjang membawa ia pada dualisme tubuh dan jiwa. Filsafat Cartesian mendorong upaya induksi sebagai tren berpikir ilmiah-saintifik. Dapat juga saya katakan filsafat Cartesian mengokohkan fondasi antroposentrisme, manusia sebagai pusat realitas, karena ia berpikir. Artinya kesadaran akan subjek-yang-berpikir sudah menjadi aksioma dan dianggap benar dengan sendirinya. Subjektiftas inilah yang menganggap “kesadaran” sebagai sesuatu yang telah selesai. Apa yang kita lakukan murni datang dari kesadaran atas subjek-diri-yang-berpikir.

Kesadaran akan subjek mengarahkan manusia pada dunia sekitarnya, alam dan segenap isinya, untuk mengupayakan kepentingan-kepentingan manusia. Kita meyakini adanya “kebenaran objektif”. Dengan cara ini, kita menyaksikan kemunculan ilmu pengetahuan, teknologi modern, pengklasifikasian, yang semuanya dipercanggih oleh kebudayaan. Peradabaan modern dianggap telah “tinggal landas” sejak era pra-modern. Kemunculan kebudayaan kontemporer membuat term “modern” dengan sedirinya berasosiasi positif. Setiap bangsa berlomba-lomba menjadi “modern” dengan berpedoman pada bandul ke arah barat.

Dalam konteks ini, menjadi sangat berarti sumbangan pemikir pasca pencerahan yang menggempur rasionalisme sebagai predikat yang tidak pernah mencukupi. Mereka mengingatkan segi-segi tak tampak yang selama ini tak disadari oleh rasionalisme. Nietzsche, Freud, Popper, para teoritisi mazhab Frankfurt, Richard Rorty – untuk menyebut beberapa nama, telah melakukan kritik keras terhadap fondasionalisme seperti ini. Bahwa rasionalisme, subjektivisme, kesadaran, dan segenap derivasinya, adalah sesuatu yang in the making, sesuatu yang berproses lewat mekanisme tertentu. Rasionalisme tidak boleh terjebak dalam absolutisme, layaknya dogma, sehingga menihilkan perdebatan. Artinya, rasionalisme itu sendiri mesti ditempatkan pada posisi “siap uji” untuk menentukan kadar ilmiahnya. Semakin ia bisa tergantikan maka semakin dapat diterima logikanya. Sebaliknya, semakin ia menunjukkan potensi absolutisme kebenaran maka semakin harus dijauhi logika rasionalisme tersebut.

Penerimaan baru atas rasionalisme ini memang menimbulkan implikasi luas. Kita harus mulai meragukan filsafat subjek dengan segenap derivasinya. Kebenaran dengan sendirinya terikat pada konteks waktu dan tempat yang spesifik. Kesadaran atas perilaku juga patut dicurigai karena kita yakin nilai falibilis dari objektifikasi pengetahuan akan segera tergantikan. Bukan karena nilai-nilai lama yang kita anut salah, melainkan kesepakatan masyarakat plural yang mendesak dilakukannya redifinisi terhadap konsep-konsep tentang kebenaran.

Posisi Agama
Pertanyaan penting yang layak diajukan, lalu dimana posisi agama atau keyakinan kita? Saya kira, penerimaan baru atas rasionalisme, justru menyelamatkan agama. Dalam kondisi masyarakat plural, diperlukan satu kesepatakan yang merelokasi agama pada posisi terhormat. Agama harus mengatasi nilai-nilai falibilis yang dibuat manusia. Sebab, percakapan final tentang paham keagamaan tidak mungkin diperdebatkan dengan paham “yang sosial”. Terkecuali terjadi diskriminasi agama yang dibuktikan lewat ketidakadilan sosial yang diterima para pemeluknya, maka percakapan tentang persoalan keagamaan menjadi tak terhindari. Namun tetap, perdebatan tidak boleh menyentuh wilayah, isi, doktrin, wahyu, dari agama tersebut melainkan aspek sosialnya. Ruang eksklusif itu harus dijaga lewat kesadaran bahwa apabila agama ditempatkan pada wilayah publik, dan simbol-simbolnya digunakan untuk mengatur administrasi negara, potensi penyalahgunaan doktrin agama menjadi sangat mungkin.

Dengan cara demikianlah, percakapan dalam rangka mengupayakan kebajikan sosial kemanusiaan dapat kita lanjutkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s