SURAT TERBUKA UNTUK GUBERNUR JAMBI

Assalamu’alaikum Wr Wb.

Salam sejahtera,

Semoga surat ini sampai ke meja Bapak Gubernur dalam kondisi yang sebaik-baiknya. Semoga Bapak beserta keluarga senantiasa diberi kesehatan melanjutkan amanah berat sebagai “pemimpin masyarakat” yang Bapak emban beberapa tahun ini.

Gubernur Zulkifli, surat ini tertulis atas dasar cinta teramat dalam terhadap Provinsi Jambi, tanah kelahiran saya. Saya bangga menjadi putra daerah Jambi. Di sinilah, masa kecil dan remaja saya habiskan dengan belajar begitu banyak hal. Waktu bermain dan menikmati suasana alami di pelosok Kenali Asam Atas dan Kebun Kopi memberikan saya inspirasi yang berpengaruh pada pendewasaan saya. Ketika itu saya belum terlalu mengenal dunia. Atau bisa jadi saya terlalu bergelayut dalam indahnya permainan masa kanak-kanak hingga tak terlampau peduli pada isu-isu disekitar. Saya juga belum mendapat bench mark pembangunan, karena belum menyentuh dunia luar.

Sampai pada tahun 2006, saya melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia. …

Sungguh, pengalaman tiga tahun belajar di daerah luar memberikan saya perspektif yang lebih luas. Saya berkenalan dan berinteraksi dengan banyak orang hebat dari seluruh pelosok Indonensia yang berkenan memberi sedikit kearifan bagi saya. Saya merasa disparitas pembangunan yang menghambat akses informasi kepada masyarakat menjadi salah satu penyebab ketidaktahuan, atau bisa jadi sikap cuek, masyarakat terhadap berbagai persoalan di daerahnya. Saya bersyukur, hal ini tidak terjadi pada kami, segelintir putra daerah yang bersentuhan dengan realitas sosial bangsa kita, putra daerah yang masih peduli akan nasib daerah ini selanjutnya.

Tentu sangat tidak adil apabila saya menyalahkan Anda atas carut-marutnya pembangunan daerah Jambi. Tapi, ihatlah sekitar kita. Saya menilai semangat generasi muda Jambi dewasa ini berada pada titik menghawatirkan. Kepribadian mereka mencirikan lemahnya pembangunan karakter yang harusnya menjadi tanggung jawab institusi pendidikan dan keluarga. Saya belum melihat visi jelas pembangunan generasi muda di dua termin kepemimpinan Anda. Berat bagi saya membayangkan, nasib daerah ini jikalau harus diwariskan kepada generasi muda yang lemah. Bagaimana mungkin kita mengharapkan kepedulian dan mawas diri dari mereka jika pendidikan dasar saja belum cukup baik membina mereka? Terlebih memikirkan ketidaksiapan mereka membendung arus informasi, teknologi, dan media?

Gubernur Zulkifli, kalau Anda punya waktu. Mampirlah ke daerah kebun Kopi, Kecamatan Jelutung Kota Jambi. Niscaya Anda akan melihat potret muramnya pembangunan infrastruktur kota ini. Sepanjang jalan yang kita lihat dan rasakan ialah jalan-jalan berlubang – yang tak jarang menjebak mobil karena tersangkut oleh gundukan tanah, atau terbenam oleh lubang sangat dalam – dengan kondisi amat memprihatinkan. Saya belum lihat adanya usaha serius memperbaiki infrastruktur jalan-jalan kita. Saya yakin, kondisi serupa dapat kita temui di tempat-tempat lain di Kota Jambi. sungguh ironis, ketika pada satu waktu Presiden SBY berkunjung ke Jambi, pemerintah kota justru bersolek mengaspal jalan-jalan rusak yang nantinya akan dilewati Presiden dan rombongan. Mungkin mereka ingin memberi kesan bahwa Jambi adalah kota yang sukses melaksanakan pembangunan. Tapi, bagaimana realitas bagi masyarakat kecil? Dimana keadilan bagi mereka? Sungguh saya sangat marah ketika menyaksikan ketidakberpihakan pemerintah daerah kala itu.

Gubernur Zulkifli, sebagai pembesar daerah, tentunya Anda harus bekerja dengan fasilitas yang nyaman dan lengkap. Lalu, apakah sebagian besar rakyat Anda juga merasakan hal yang sama? Setiap dua hari sekali listrik padam. Tak jarang di waktu malam ketika anak-anak sekolah sedang belajar, atau mengerjakan PR sehingga menghambat pembelajaran mereka. Mobilitas masyarakat juga terganggu oleh pemadaman ini. Belum lagi kalau kita berbicara kebutuhan pokok lainnya. Air seringkali mati (bahkan hingga tiga hari) yang membuat tempat penampungan tiap rumah kering. Atau kualitas air yang sering keruh. Saya yakin ini bentuk ketidakjelasan program dan pengawasan terhadap PLN dan PDAM. Tidakkah ada strategi dari pemerintah daerah mengatasi persoalan ini? Sampai kapan permasalahan ini berlanjut? Rakyat kecil hanya bisa menggumam sambil sesekali “mengutuk” para pemimpinnya yang bekerja secara tidak bertanggung jawab. Saya ngeri membayangkan jikalau suatu saat kata-kata mereka menjadi doa harian yang terkabulkan karena diucapkan oleh ribuan orang pada saat yang sama.

Pernah saya bertanya, bagaimana cara menumbuhkan cinta pada daerah ini kalau warisan-warisan budaya sendiri tidak dihargai? Saya yakin, kurang dari lima persen anak sekolah yang mengenal budaya asli Jambi karena minimnya kegiatan-kegiatan yang bersifat cultural-based. Saya juga menyaksikan monas di Kotabaru yang penuh coretan dan tidak terawat, kemudian lapangan bekas arena MTQ yang kumuh tidak tersentuh pemerintah daerah, dan masih banyak lagi. Semuanya adalah simbol kekayaan yang harus kita jaga dan kita lestarikan. Bukan dilihat hanya sebagai penunjang acara-acara seremoni yang setelah itu dilupakan. Sementara pada satu sisi, Anda memugar Kantor Gubernur dengan biaya milyaran rupiah hingga terlihat seperti Istana, jauh dan berjarak dari masyarakatnya. Apa maksud semua ini? Terus terang, setiap saya berkesempatan pulang kampung, saya rindu melihat perubahan signifikan bagi daerah ini.

Saya ingin melhat akselerasi Jambi mengungguli daerah-daerah lain di Indonesia. Sayang harapan saya terlalu tinggi. Saya lebih sering kecewa. Bahkan kekecewaan saya berlipat-lipat ketika melihat Anda mengkampanyekan seorang calon pimpinan partai di televisi baru-baru ini. Saya tidak peduli dari kelompok politik mana Anda berasal. Sungguh ironis, manakala ketidakjelasan visi dan arah pembangunan justru menjadikan Anda lupa pada amanah dan sibuk mengkonsolidasikan kepentingan politik praktis jangka pendek. Saya sangat menanti, berakhirnya era “politik dinasti” di daerah ini dan berubah menuju persaingan politik yang sehat, rasional, mencerahkan masyarakat, dan berlandaskan konsep ideologi serta program-program yang terukur dan terencana.

Gubernur Zulkifli, tidak bisakah kita mengambil teladah dari para pemimpin terdahulu? Pemimpin yang dirindukan rakyat karena kebersahajaan, kedekatan, dan kekuatannya menggalang perubahan? Saya teringat sosok mantan Presiden BJ Habibie pada tahun 1999, setelah SI MPR menolak pertanggungjawabannya, mengatakan tidak bersedia kembali dicalonkan sebagai Presiden persis ketika dukungan masyarakat kepadanya makin menguat. Barangkali karena ia tidak memandang kursi Presiden sebagai tujuan hidupnya dan mungkin pula karena beliau memperhatikan kepentingan nasional yang jauh lebih besar dalam rangka menyelamatkan agenda reformasi kala itu. Sungguh, sosok Habibie kala itu menginspirasi kita semua ketika ia dengan senyum mengembang berhasil membawa Indonesia dari krisis parah tanpa menyebabkan pertumpahan darah sedikitpun, menjamin kebebasan pers, melembagakan demokrasi, sehingga dapat turun dari kursi kepresidenan secara terhormat.

Gubernur Zulkifli, kepada Anda saya hanya ingin mengingatkan, bahwa seorang pemimpin akan diingat bukan karena garis keturunannya atau preferensi kepentingannya. tapi atas kontribusi dan karya-karya nyatanya. Sejarah mencatat dengan tinta emas keberhasilan pembangunan yang tidak hanya bersifat fisik tapi juga non fisik yang dijalankan dengan keteladanan para pemimpinnya.

Saya teringat satu pesan yang pernah disampaikan seorang teman ; “jikalau kita berpeluh dan jatuh dalam rangka memperjuangkan kebenaran, maka Allah akan mengistiratkan kita sejenak dan memulihkan semangat kita untuk melanjutkan perjuangan itu. Namun, ketika kita justru bermalas-malasan atas kebenaran yang nyata, maka Dia akan menggantikan kita dengan barisan-barisan baru yang lebih kuat dan lebih dicintai-Nya.”

Gubernur Zulkifli, saya yakin dengan kebijaksanaan, Anda tidak sampai hati tersinggung atau mencampakkan surat ini ke tong sampah. Saya yakin, dilubuk hati terdalam, setiap manusia memilih untuk percaya pada sesamanya dan saling menasehati dalam rangka kebenaran, sebagaimana yang tercetus di kitab suci kita. Semoga pengingatan ini diterima dengan lapang dada dan menjadi bekal Anda meneruskan amanah di bulan-bulan selanjutnya.

Wassalamu’alaikum wr wb

Putra daerah yang paham hak sosial-politiknya

NOORY OKTHARIZA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s