Kritik Film From Paris With Love

Menonton film From Paris With Love yang dibintangi John Travolta, kembali saya saksikan pola pandang tipikal dalam menilai terorisme.

Film ini mengisahkan  tentang Richard Stevens (Jonathan Rhys Meyers), seorang intelijen keduataan besar Amerika Serikat di Perancis yang jatuh cinta dengan perempuan Prancis (Caroline) yang ternyata bekerja sama dengan kelompok teroris untuk menyerang delegasi Amerika Serikat yang akan datang ke Prancis dalam rangka KTT bantuan negara-negara miskin Afrika.

Charlie Wax (John Travolta) adalah pria yang membuka mata Richard tentang risiko sebenarnya dari pekerjaan ini. Charlie adalah seorang agen CIA yang dikirim ke Perancis untuk menggagalkan sebuah usaha terorisme yang telah tercium pihak intelijen Amerika. Berbeda dengan Richard, Charlie adalah orang yang lucu namun tak ragu-ragu menembak bila itu diperlukan.

Karena tugas mengharuskan, tak ada pilihan buat Richard selain mendampingi Charlie selagi ia berusaha melacak jejak para teroris ini. Pengalaman baru jelas ia dapatkan. Promosi bisa dipastikan sudah di depan mata. Masalahnya, benarkah Richard Steven sudah siap dengan semua risiko yang akan ia hadapi saat berhadapan dengan para teroris yang sedang ia buru ini? (kutipan dari kapanlagi.com)

Singkat cerita, aksi tembak-menembak dan kejar-kejaran layaknya film action menjadi menu utama film. Tapi yang layak dikritisi adalah bagaimana cara film ini menceritakan siapa dan bagaimana terorisme.

Richard Stevens mengalami dilema ketika ia tahu Caroline adalah bagian dari sindikat teroris Pakistan yang ada di Paris. satu bagian yang membuat saya tersadarkan ‘proyek ideologis’ dari film ini ketika Caroline menelepon Richard “enam tahun lalu aku bertemu seseorang yang membuat aku berubah. hidupku kini memiliki tujuan yang jelas” (diakhir cerita menjadi jelas “tujuan” yang ia maksud adalah melakukan bom bunuh diri (Jihad) di KTT dengan tujuan membunuh Menlu Amerika Serikat).

Ada pula satu scene yang dengan latar “Allah” dan bahasa Arab tempat bersembunyinya para ‘teroris’. Diceritakan secara kontroversial, teroris mendapat logistik dari hasil penjualan obat-obatan terlarang dan pasar prostitusi (dimana Caroline yang diasumsikan mengenal Islam lewat seseorang tadi juga terlibat di dalamnya dan banyak adegan2 Caroline dan Richard yang justru bertolak belakang dari nilai-nilai Islam.).

Pesan yang ingin diangkat film ini menjadi muram ketika cerita yang diangkat justru menyederhanakan terorisme yang dipandang terlalu simplistis ; dilihat dari segi identitas seorang muslim dan orang-orang Arab. Makna ‘kedamaian’, ‘jilbab’, dan ‘tujuan hidup’ yang dikatakan Caroline pun bermakna pejoratif.

Meskipun tidak satupun scene dan dialog yang secara eksplisit mengatakan Islam sebagai biang keladi munculnya terorisme di Prancis, tapi kita tahu, film ini dibuat dengan pengetahuan yang tidak memadai tentang terorisme. bagaimana bisa mengharap interfaith dialogue kalau cara pandang identitas masih kita gunakan dalam melihat orang lain?

Selanjutnya, kita tahu, apapun memang bisa dijadikan alat hegemoni kekuasaan, termasuk film.

One thought on “Kritik Film From Paris With Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s