Kuriositas di Ujung Tanduk

Plagiarisme menjadi perbincangan khas di Indonesia baru-baru ini. Pemantiknya, tulisan seorang guru besar Universitas Parahyangan di The Jakarta Post 19 November 2009 yang berjudul “RI as a New Middle Power”. Belakangan redaktur koran menemukan artikel mirip yang ditulis Carl Ungerer di Australian Journal of Politics and History: Volume 53, Number 4, pada tahun 2007 “The Middle Power Concept in Australian Foreign Policy‘”. Jadi dua tahun berselang, orang menemukan pemilihan frase dan konsep pemikiran yang sama sekali tidak orisinil.

Moralitas akademik adalah satu-satunya etika yang dijunjung tinggi di Universitas. Suatu ideal tempat bersemayamnya kejujuran, etika, dan profesionalitas – meskipun tanpa kita sadari banyak praktisi pendidikan telah melakukan kejahatan intelektual. Bagaimana mungkin, demikian orang bertanya, dalam sebuah institusi akademik yang dipenuhi kaum intelektual dengan integritas yang diakui terjadi tindakan-tindakan yang justru sangat dangkal secara normatif.

Paradigma berpikir yang diajarkan di institusi pendidikan sejauh ini masih mengedepankan rasio praktis ; standarisasi, portofolio, sertifikasi, dan sebagainya. Banyak kebijakan penyeragaman keberhasilan pendidikan diukur dari statistik yang diperoleh. Dengan itu, orang bisa melakukan apa saja untuk mengamankan posisinya. Kita berpulang pada kondisi alamiah manusia yang pernah diajukan Hobbes ; dalam kondisi terdesak, orang akan memultiplikasi kepribadiannya. Akhirnya, pendidikan dimitoskan sebagai kata benda, yang dapat direngkuh ketika kita menjalani proses sesuai kebijakan pendidikan dasar. Sedangkan keutuhan pengalaman konkrit individu, sebagaimana fenomenologi, tak tersentuh. Atau acap kali sengaja dilupakan.

Kita defisit kuriositas, tentang cara kita bertanya pada dunia. Orang masih gandrung memandang satu “ada”. Kepastian dan pegangan adalah harga mahal sebuah transaksi.

Ini karena kita hidup di dunia tragedi, dunia yang tak mengenal kepastian dan sayangnya, tak terelakkan. Kita hidup di dunia yang menolak sakralisasi keyakinan tunggal, termasuk yang transenden. Bahkan filsuf postmodern yang agak optimis menyarankan detransendentalisasi, sebagai satu-satunya kesempatan memperpanjang nafas kita, dalam berkonsensus.

Dengan begitu, “Kebenaran” hanya buah pertimbangan praktis. Kita sepakat karena kita tak bisa terus-menerus bertengkar untuk menentukan bahwa A adalah A. karena besok kita harus bekerja untuk hidup, dan untuk itu harus ada kepastian tertentu (Caping edisi 1 Maret). Itulah problem eksistensial yang menjangkiti manusia sepanjang hidup.

Terlepas dari itu, plagiarisme adalah soal budaya dan mentalitas akut yang mewabah oleh indoktrinasi. Budaya kita adalah budaya doktriner yang menghambakan manusia pada sakralisasi keyakinan. Kita hidup dialam demokrasi yang ironis. Efeknya terasa pada diskusi kontemporer yang macet justru disaat kita membutuhkan ruang-ruang baru untuk ventilasi percakapan sosial – kemanusiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s