MENGGANGGU WACANA TERORISME

Apa yang bisa dikatakan dari penyergapan teroris baru-baru ini? Berita penyergapan menjadi headline hari ke hari. Polisi dan media begitu bersemangat memberitakan keberadaan gembong teroris yang telah lama dicari. Sampai dengan pengembangan kasus yang demikian cepat dari Aceh sampai Pamulang, satu per satu orang yang dianggap teroris ditangkap, tertembak (atau ditembak) mati.

Penyergapan yang bertepatan dengan sejumlah momentum penting politik Indonesia, tentu saja menimbulkan kecurigaan. Ada sekelumit jalinan peristiwa yang belum ada penjelasan. Kita tidak pernah tahu bagaimana pemberitaan sampai disekitar kita. Narasumber yang diterima masyarakat terbatas pada ‘aktor-aktor lama’ ; media, polisi, pengamat terorisme, dan beberapa orang dekat atau minimal pernah kontak langsung dengan kelompok teroris.

Selain itu, fakta sosial terungkapnya persembunyian teroris di Aceh, misalnya, hampir bisa dikatakan nihil. Penyergapan yang kita saksikan di televisi lebih menyerupai drama dan panggung teater yang direncanakan. Satu hal definitif yang bisa kita dapatkan yakni tentang matinya beberapa orang akibat tebasan timah panas. Di luar itu, apa yang diberitakan adalah informasi ‘siap saji’ yang tidak terlacal asal-usulnya.

Situasi ini berpotensi menyuburkan kecurigaan sosial. Tata integrasi masyarakat justru terancam dengan pemberitaan instan. Media yang memberitakan fakta kabur tanpa reserve justru menjadi musuh bagi ketertiban sosial. Kita saksikan, pemberitaan yang bertema ketidakadilan, kekerasan, dan terorisme menghiasi sumber-sumber diskursus publik.  Diskursus ini tidak menjadi pencerdasan. Malah justru menjadi tragedi bagi orang kebanyakan. Perisitiwa penting tidak menjadi titik tolak keberangkatan menuju kebaikan bersama melainkan titik degradasi sosial yang semakin mengkhawatirkan.

Semakin gawat karena kita mudah mengidentifikasi seseorang dan kelompoknya lewat atribut sosial. The social yang harus dipelihara agar terus plural dan jamak justru disederhanakan pada pengkategorian klasikal. Ini memungkinkan kerja ideologi terselebung yang bergerak dengan halus. Ideologi tidak lagi menampakkan dirinya secara telanjang, tetapi bekerja pada tatanan apa yang sejauh ini dianggap baik oleh orang banyak. Lokus ideologi berpindah ke ruang kondisi sosial karena ia cukup percaya diri mengontrol diskursus dengan alat kekuasaan yang tersedia. Jadi, ia bekerja setelah menilai apakah keadaan saat ini menguntungkan bagi eksistensi kekuasaan tertentu.

Apakah jalan keluar dari kondisi ini? Salah satu caranya adalah membuka kedok pemberitaan atau kepentingan yang berbungkus penyergapan teroris. Ada sejumlah alasan yang membuat kita mesti berontak secara konseptual. Pertama, kita mengkhawatirkan pluralitas dan antagonisme yang ada di level masyarakat justru dirawat dengan pembungkaman lewat penghakiman di media. Kita tahu relasi kekuasaan tidak pernah seimbang. Tetapi kita tidak boleh tinggal diam ketika praktik dominasi kekuasaan justru mendapat justifikasi lewat pemberitaan yang kita tidak bisa lacak asal-usulnya. Terlepas dari bersalah atau tidak gembong teroris, potensi dominasi ini justru rawan penindasan terhadap mereka yang tidak punya akses terhadap kekuasaan.

Kedua, kita patut kritis pada pemberitaan instan dan informasi yang dikutip dari ‘para ahli’. Seringkali distorsi informasi bukan berasal dari apa yang kita baca dan kita persepsikan. Tetapi disebabkan oleh gumpalan keyakinan akibat informasi bertubi-tubi yang kita dapatkan. Alih-alih memproduksi episteme, kondisi dan aktor sosial bisa memproduksi kebeneran versi mereka. Kompleksitas kondisi kita disederhanakan oleh pilihan-pilihan yang disodorkan begitu saja. Akibatnya, bukan lagi kebebasan sebagai pilihan yang kita ajukan tetapi pilihan atas pilihan itu sendiri.

Ketiga, rekonstruksi wacana terorisme. Apakah tepat menandai sekelompok orang dengan teori yang lebih berat segi identitasnya. Sangat mungkin wacana terorisme yang terus digulirkan adalah wacana usang tentang pembidanan dan pelegitimasian rezim tertentu dengan gaya baru namun isi yang sama. Sampai tahap tertentu, kuriositas terus kita kembangkan pada level wacana yang lebih luas. Apakah isu terorisme memungkinkan terbentuknya satu nasionalisme masyarakat internasional atau ini adalah manifestasi dari power relation yang tidak seimbang dalam konteks politik global.

Keempat, kita berdebat tentang Hak Asasi Manusia atas teroris yang ditembak mati. Akses informasi tidak kita dapatkan selain berita yang disebar bahwa teroris yang tertembak (atau ditembak) berpotensi memiliki bom atau melakukan perlawanan. Diluar itu, ucapan tentang kemanusiaan (apakah pantas kita berbicara kemanusiaan mengatasnamakan ‘teroris’) hampir tidak pernah terdengar.

Kita ingat tentang diskontinuitas sejarah yang pernah digagas Michel Foucault. Bahwa relasi kuasa dan pengetahuan ibarat sekeping mata uang. Di setiap waktu dan tempat, selalu ada kondisi yang memungkinkan munculnya pengetahuan-pengetahuan baru yang diproduksi terus-menerus lewat wacana. Sehingga yang terjadi bukan kausalitas masa lalu atas masa kini melainkan formasi diskursus yang dibentuk dan terus diucapkan oleh aparatus ideologi dengan sengaja.

Dengan mengungkap fakta dan alasan terselubung, kita tahu selalu ada jejak yang disembunyikan.

One thought on “MENGGANGGU WACANA TERORISME

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s