Sekilas tentang Reduksionisme

Dalam lingkup filsafat subjek, apa yang disebut ‘analisis rasional’ berpulang pada kemampuan identifikasi atas dimensi dunia luar. Klaim kepastian pengetahuan ialah soal keyakinan tentang kekuatan manusia menjalankan proyek emansipasi, dalam rangka menyebar egonya. Klaim rasionalisme yang populer lewat Descartes, mencerminkan penyederhanaan pilihan atas kompleksitas-kompleksitas alam. Upaya ini diperlukan karena dasar eksistensial yang tak terhindarkan ; kondisi mengharuskan manusia mengambil keputusan-keputusan dalam hidupnya.

Pilihan atas kompleksitas pada mulanya berawal dari kondisi ontologis ketidakpastian dan kecemasan yang senantiasa dihadapi manusia. Manusia hidup dalam ‘horor’ yang ia sendiri tak kuasa menyingkirkannya dari pikiran. Untuk itulah mesti ada pilihan. Celakanya apapun bentuk pilihan bukanlah satu gambaran sempurna dari dunia luar, melainkan sekadar menjalankan apa yang harus dilakukan untuk survive. Kemudian muncullah tindakan (action), muncullah konsep, tradisi, lokalitas, komunalitas, dalam gambaran umum dunia manusia. Semua adalah unsur-unsur yang terbahasakan. Dari situ, komunikasi dan konsepsi tentang pengetahuan (science) menjadi mungkin. Jadi, pengetahuan adalah bentuk reduksionis dari dunia yang terbahasakan.

Agak lucu ketika banyak orang beranggapan reduksionisme sebagai “menyederhanakan” karena sebetulnya reduksionisme sendiri adalah proses induktif panjang yang selanjutnya dibakukan melalui konsep ilmu pengetahuan. jadi, reduksionisme selayaknya dipahami sebagai “mempermudah” bukan “menyederhanakan”.

Dengan perkembangan situasi filsafat terakhir, semakin sulit mengatakan adanya kosa kata definitif atas penggunaan konsep-konsep yang reduksionistik. Selalu ada jejak (trace) dalam upaya penyederhanaan kompleksitas ke dalam konsep-konsep baku. Karena kalau tidak, reduksionisme akan menjebak manusia pada dunia yang ia ciptakan sendiri. Keinginan menerjemahkan dimensi-dimensi lain dari dunia justru dapat mengurung manusia pada kemandekan. Artinya, prinsip kesementaraan dan instabilitas harus disusupi dalam teori reduksionisme, agar ia terus-menerus memproduksi konsep-konsep baru yang lebih kaya dan tak terduga.

Kita menemukan praktek reduksionisme dalam pengetahuan, seperti di dalam teori determinisme. Determinisme menganggap bahwa selalu ada penjelasan atas fenomena dan gejala alam. Unsur tersembunyi – yang terdapat dalam konsep pengetahuan dan bahasa – sangat jarang ditemukan karena karakter totalitas dan pengungkapan kebenaran deterministik yang bercorak monolog. Misalnya, dalam teori evolusi Darwin. Prinsip survival adalah prinsip deterministik untuk menjelaskan kontinuitas alam semesta. Derivasi dari teori ini ditemukan dalam kategori dan klasifikasi yang fungsinya ‘memudahkan’ dalam melakukan distingsi pengetahuan.

Reduksionisme bukan tidak memiliki masalah. Satu segi yang bisa dipersoalkan yakni tentang cara manusia mendapat pengetahuan. Apakah unsur dominan pengetahuan itu dipengaruhi bahasa, dimana simbol dan ambiguitas merajalela, sehingga menjebak manusia dalam struktur wacana. Ataukah soal the lackness of subject dalam pencarian pengetahuan karena sifatnya yang tidak pernah bulat penuh. Ataukah ada cara lain, seperti dunia penghayatan, behaviorisme, represi dalam pengertian Freudian, dan sebagainya. Sebab, bagi saya, corak berpikir filsafat adalah frakmentasi dan keterpisahan dalam totalitas. Artinya, akan selalu ada ‘ampas’, selalu ada yang-tak-terkatakan, dalam upaya kita melakukan konseptualisasi dunia luar. Dan karena itulah, reduksionisme dan evolusi pengetahuan akan terus berlangsung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s