Kenaikan TDL dan Absennya Visi Pembangunan

Terbit di Sindo 24 Juli 2010

Sengkarut kontroversi kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), dipahami lewat konstruk politik, mencerminkan watak rezim SBY dalam mengeksekusi kebijakan ; miskin persiapan, minus koordinasi, dan meminimalkan risiko.

Politik anggaran pemerintah tidak memperlihatkan keberpihakan kepada rakyat kecil. Seperlima APBN yang habis untuk subsidi menjadi alasan utama kenaikan TDL yang dilakukan secara bertahap. Ini bertentangan dengan semangat pemberdayaan masyarakat yang selama ini telah dikampanyekan pemerintah. Program percepetan pengentasan kemiskinian seperti PNPM Mandiri, KUR, jaminan distribusi Raskin, dan Jamkesnas kini menjadi tak berarti. Kenaikan TDL yang dibatasi pada pelanggan 1300 dan 2200 volt ampere ke atas layak diragukan prospeknya. Banyak UKM yang justru mengandalkan daya listrik sebesar itu untuk menjalankan usaha. Artinya, apapun dalih pemerintah tetap akan bermuara pada kenaikan harga, bahkan nasib PHK bagi sebagian orang sebagai konsekuensi naiknya ongkos produksi.

Yang memalukan dari kontroversi kenaikan TDL adalah ketika muncul silang pendapat antara pemerintah dan dunia usaha. Rata-rata hitung-hitungan pemerintah kenaikan TDL tidak akan lebih dari 18%. Sedangkan kenyataannya kenaikan mencapai 35-47% bahkan untuk UKM mencapai 80%. Ini menunjukkan lemahnya koordinasi antara pemerintah pusat dan instansi-instansi terkait sebelum ide ini diwacanakan ke publik. Belakangan baru diketahui, 8 juta pelanggan yang mengalami kenaikan harus menanggung 32 juta pelanggan golongan 450-900 volt ampere yang tidak naik. Sementara insentif yang biasa diperoleh PLN dari perhitungan tarif daya maksimal dan tarif multiguna sebesar 12 triliun diminta dihapuskan. Skema perhitungan yang kacau dan berubah-ubah akhirnya menciptakan ketidakpastian. Rakyat kecil tidak akan mengikuti perdebatan yang terlampau teknis seperti ini.

Kecenderungan meminimalkan risiko dari rezim pemerintahan saat ini dapat dilihat dari timing eksekusi kebijakan. Tahun 2010 hingga 2012 rakyat Indonesia akan terus dikejutkan dengan “gebrakan-gebrakan” yang dilakukan pemerintah, karena dua tahun ke depan adalah “masa-masa pembangunan” sebelum pemerintah injak rem melalui program populis dalam rangka menyambut tahun politik 2014.

Dari sini kita bisa menilai, lemahnya koordinasi dan miskinnya persiapan yang dilakukan pemerintah dapat berakibat fatal. Akar persoalan kelistrikan di Indonesia, selain mahalnya ongkos produksi yang mengandalkan BBM, juga minimnya pasokan listrik. Kenaikan BBM pasti memicu kenaikan TDL. Buruknya manajemen pengelolaan dan ketiadaan visi pengelolaan sumber daya alam di Indonesia menyebabkan persoalan TDL tidak pernah selesai. Sebagai contoh, sebuah perusahaan tambang batubara di Kalimantan Timur dapat menghasilkan batubara sebanyak 45 juta ton, tetapi pemasarannya hanya 5% untuk kebutuhan domestik dan sisa 95% disediakan untuk kepentingan ekspor. Studi komparatif dari World Coal Institute tahun 2008 menunjukkan dari 246 juta ton produksi batubara, Indonesia mengekspor 203 juta ton atau 82,52% dan sisanya baru digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. Berbeda dengan China sebagai produsen batubara terbesar di dunia yang hanya mengalokasikan 1,7% untuk kepentingan ekspor dan sisa 98,3% untuk kepentingan dalam negeri!

Sekali lagi, ini bukan soal sekunder mencari formula perhitungan TDL yang paling tepat. Tetapi, ini adalah soal bagaimana visi strategis pemerintah dalam rangka menginisiai sungguh-sungguh amanah di pasal 33 UUD 1945. Negara korporasi yang mengutamakan bisnis rente atas nama kebijakan negara harus disikat habis. Produk-produk hukum yang memberi kesempatan luas kepada pemodal untuk melakukan kegiatan tambang di bumi Indonesia harus segera direvisi. Pemerintah harus benar-benar menunjukkan keberpihakan kepada rakyat yang ditunjukkan lewat keberanian melakukan terobosan-terobosan visioner. Bukan sekadar hitung-hitungan di atas kertas!

Advertisements

Kemenangan Sepakbola Indah

tulisan iseng mengomentari kesuksesan Spanyol di Piala Dunia

Piala dunia 2010 usai sudah. Spanyol secara gemilang keluar sebagai juara untuk pertama kali. Tim matador dengan meyakinkan keluar sebagai pemenang yang mengusung sepakbola indah. Ya, sepakbola indah. Begitulah yang dikatakan Vicente del Bosque, pelatih Spanyol, dalam menilai keberhasilan negaranya menjuarai Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Secara sederhana, sepakbola indah adalah karakter permainan yang mengedepankan taktik menyerang tik-tak, umpan-umpan pendek, dan skill individu pemain yang memukau. Kemenangan bukan menjadi tujuan akhir dari sebuah pertandingan. Filosofi dasar dari sepakbola indah ini sederhana ; lebih dari sekadar olahraga, sepakbola adalah seni pertunjukan. Dan karena ia seni, maka sepakbola haruslah elok dipandang. Penghargaan atas sepakbola bukan saja dilihat sebagai bagian dari olahraga, tetapi sebagai pertunjukan yang memiliki nilai tersendiri. Boleh dibilang, sepakbola adalah salah satu temuan permainan terbaik yang pernah diraih manusia abad 20. Sepakbola mengalihkan perhatian kita dari sejumlah informasi yang lebih sering mengedepankan aspek-aspek negatif.  Dalam kasus Indonesia, konon perhelatan Piala Dunia membuat sejumlah isu-isu politik menguap kepermukaan karena setiap orang, baik pemerintah, politisi, aparat penegak hukum, dan masyrakat luas sibuk nonton bola!

Sepakbola indah akhir-akhir ini mengalami tantangan serius dari sepakbola negatif (negative football). Tim yang menganut paham sepakbola negatif berpikir sebaliknya. Hasil akhir dari pertandingan adalah segala-galanya. Pola permainan hanya penting sejauh ia bisa membawa tim pada kemenangan. Alhasil, sepakbola negatif membuat sebuah kesebelasan bermain pragmatis, bertahan, dan membosankan. Tentu masih jelas dalam ingatan bagaimana Jose Mourinho membuat Barcelona frustasi ketika berhadapan dengan pola super defensif yang diperagakan Inter Milan di semifinal Liga Champion. Meskipun sepakbola negatif tidak dapat dikatakan gagal. Malah sebaliknya, sepakbola negatif efektif meredam tim yang berhasrat menyerang sangat tinggi. Tetapi, sepakbola negatif justru melihat sepakbola secara muram. Sepakbola negatif hanya memandang olahraga demi olahraga itu sendiri. Tidak ada keinginan memberi nilai lebih pada jutaan pasang mata yang merindukan akrobat cantik bak seniman di lapangan hijau.

Sejarah panjang

Usaha menempatkan tren sepakbola dengan permainan menawan, sebagaimana yang diperlihatkan spanyol, sebenarnya dimulai dengan perjuangan panjang. Satu dasawarsa terakhir, sepakbola Spanyol ditandai dengan melimpah ruahnya pemain-pemain kelas dunia yang merumput di negeri mereka. Spanyol kini menjadi kiblat sepabola dunia. Gelontoran Euro dikeluarkan untuk mendatangkan bintang-bintang dunia. Seniman sepakbola asal Prancis, Brazil, Inggris, Argentina berlomba-lomba mendapat tempat utama di klub-klub Spanyol. Adakalanya usaha ini dipandang sinis para pengamat olahraga. Mereka bilang, magnet sepakbola telah membuat sepakbola menjadi bisnis, dan pemain-pemain yang dibayar sangat mahal dianggap telah “melecehkan” sebagian orang, hanya karena banyak penikmat sepakbola bukan berasal dari kalangan ekonomi atas.

Kedatangan pemain-pemain terbaik dunia ke Spanyol tampaknya secara tidak langsung mempengaruhi pola permainan tim nasional Spanyol. Tak kurang dari Zinedine Zidane, Ronaldinho, dan Lionel Messi telah memeragakan permainan sepakbola indah yang mencengangkan mata. Sepakbola indah yang dimainkan Barcelona dan Real Madrid, dua klub raksasa sepakbola Spanyol, tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan dimana-mana. Disinilah kehebatan Spanyol. Kemampuan mereka mendatangkan bintang-bintang sepakbola dunia tidak membuat mereka lupa untuk terus mengasah kemampuan pesepakbola lokal. Mereka tahu, apalah artinya sukses diajang klub tetapi tim nasional sendiri amburadul. Kita melihat dideretan line up pemain Barcelona, Real Madrid atau Valencia, selalu bercokol banyak pemain lokal. Pemain Spanyol tidak pernah gagal bersaing dengan bintang-bintang negara lain.

Rahasia lain dibalik kesuksesan Spanyol adalah pembinaan sepakbola sejak usia dini. Banyak pemain kunci Spanyol dibidani dari kesuksesan sebuah akademi sepakbola. Xavi Hernandez, Iniesta, Puyol, dan Cassilas, untuk menyebut sedikit nama, adalah pesepakbola yang lahir dari rahim akademi sepakbola lokal. Bakat sepakbola mereka lahir dan ditemukan di negeri sendiri. Bahkan Lionel Messi, pesepakbola terbaik dunia saat ini, lahir dari akademi sepakbola Barcelona! Dengan cara ini, Spanyol mengalami surplus pemain dengan skil individu istimewa. Mereka memiliki dua lapis pemain yang sama baiknya. Ini adalah buah dari usaha panjang yang dibangun oleh kesadaran penuh dalam mengelola sepakbola secara profesional, sistematis, dan terukur.

Masa Depan Sepakbola

Piala Dunia 2010 telah berakhir. Kesuksesan Spanyol mejadi juara telah membuat rakyatnya berpesta. Mereka setidaknya dapat melupakan sejenak krisis perekonomian yang melanda negeri itu akibat tumpukan utang dan tingginya tingkat pengangguran.

Namun, yang terus harus didukung dari perhelatan akbar empat tahunan ini adalah kesadaran segenap insan sepakbola tentang filosofi sepakbola indah. Karena gegap gempita Piala Dunia telah menegaskan bahwa sepakbola sudah menjadi milik umat manusia. Dan untuk itu, sudah menjadi kewajiban bagi tiap pemain dan pelatih mempertontonkan permainan cantik dan menghibur. Spanyol sudah melakukan itu, dan mereka berhasil. Kemenangan Spanyol adalah kemenangan sepakbola indah.

Berharap Pada Ketua KPK

Masuk Koran Sindo 1 Juli 2010

Vedi R Hadiz, guru besar Murdoch University, pernah mengulas panjang-lebar tentang upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Ia berkesimpulan bahwa pemberantasan korupsi bukan soal sistem, aturan, atau ideologi. Pemberantasan korupsi adalah tentang komitmen politik ; yakni, sejauh mana Presiden dan pejabat-pejabat tinggi pemerintahan memiliki political will untuk bersungguh-sungguh memberantas korupsi tanpa pandang bulu. Watak sistemik korupsi telah menggurita sehingga menghubungkan institusi-institusi pemerintahan dalam lingkaran setan. Pemberantasan korupsi niscaya menimbulkan resistensi karena ada indikasi kuat keterlibatan orang-orang penting di dalamnya. Dalam kasus di Indonesia, korupsi sudah pada tingkat sangat mengkhawatirkan karena ia bermain di level institusi penegak hukum, sehingga membuat kredibilitas hukum jatuh di mata masyarakat.

Komitmen politik itulah yang sekarang kita rindukan karena kondisi kekinian KPK patut membuat kita waspada. Momentum reformasi dan pemberantasan korupsi terancam oleh penonaktifan dua pimpinan KPK pasca penolakan SKPP oleh pengadilan. Hak-hak istimewa KPK sebagai superbody seperti penyadapan dan penuntutan terus digerogoti. Bahkan Presiden pun pernah mengingatkan tentang wewenang KPK yang dianggap terlampau besar. Komitmen pemberantasan korupsi yang kerap mengancam kepentingan banyak pihak membuat KPK tidak disukai dan keberadaannya terus-menerus dipertanyakan oleh mereka yang tidak suka hukum ditegakkan di negeri ini. Padahal, citra positif KPK yang diraih lewat keberanian mengungkap sejumlah kasus korupsi justru menunjukkan kegagalan institusi penegak hukum lain dalam memerangi korupsi. Keberadaan KPK bukan untuk menyaingi kepolisian atau kejaksaan, tetapi untuk mengakselerasi pemberantasan korupsi yang luar biasa di Indonesia.

Di dalam situasi seperti itu lah pemilihan ketua KPK yang baru berlangsung. Nasib pemberantasan korupsi sedang dipertaruhkan. Sejumlah nama-nama beken yang tak diragukan integritasnya di mata publik ditunjuk menjadi panitia seleksi (pansel). Kita senang dengan keputusan Todung Mulya Lubis, salah satu anggota pansel, yang menolak masuk menjadi anggota dewan pembina partai Demokrat karena agenda pemberantasan korupsi saat ini jauh lebih penting baginya. Semangat non partisan memang harus dijaga oleh setiap anggota pansel supaya pansel bisa berkonsentrasi dan mengambil jarak dari lobi-lobi kekuasaan.

Dari 287 pendaftar, sebanyak 145 nama lolos administrasi. Mereka yang lulus tahap administrasi bisa dikategorikan dalam empat kritieria, mantan pengacara koruptor, jaksa, orang-orang yang belum terdengar kiprahnya dalam pemberantasan korupsi, dan orang-orang reformis. Masing-masing kelompok boleh jadi mencerminkan dua kekuatan yang sedang berseteru ; kubu koruptor dan anti koruptor. Hanya akan ada dua orang yang diajukan ke DPR yang kemudian akan memilih ketua KPK yang baru. Calon ketua KPK bukan saja harus dinilai integritas dan kapabilitasnya, tetapi sejauh mana ia memiliki akseptabilitas di mata DPR. Pada analisa terakhir, memang kepentingan politik lah yang akan menentukan selera ketua KPK. Oleh karena itu, pengawasan dan advokasi dari masyarakat sipil mutlak diperlukan untuk memastikan pemilihan ketua KPK dari awal sampai akhir berjalan sesuai dengan semangat anti korupsi.

Kita sangat berharap ketua KPK adalah seorang yang tanpa cela dan terbiasa melakukan reformasi hukum dimanapun ia bekerja. Ketua KPK bukan orang yang harus belajar lagi anatomi korupsi, tetapi orang yang hafal luar dalam bagaimana korupsi bekerja. Ia harus orang yang bernyali, tak bisa didikte, dan melawan korupsi tanpa tebang pilih sehingga mengembalikan harapan kembalinya KPK yang kuat, bersih, dan mandiri.

Sekali kita gagal, maka momentum gerakan nasional melawan korupsi akan hilang. Kepercayaan dan harapan masyarakat akan lumpuh. Dan entah kapan Indonesia akan bangkit dari keterpurukan.