Sketsa Pemikiran Politik Alain Badiou

We are no longer in a situation in which there is a clear distinction between two opposed political orientations—as was the case in the 20th century. Not everyone agreed on what the exact nature of these opposed politics were, but everyone agreed that there was an opposition between a classical democratic bourgeois politics and another, revolutionary, option…Today, there is no agreement concerning the existence of a fundamental opposition of this sort, and as a result the link between philosophy and politics has become more complex and more obscure (Alain Badiou)

I

Filsafat Badiou harus dipahami dari penolakannya atas tradisi filsafat analitik, postrukturalis, dan pemikir-pemikir materialisme demokratik – yang menurutnya tidak memberi kontribusi apa-apa pada jalannya perubahan. Bukan hanya menyingkirkan konsep subjek emansipatoris, filsafat diatas telah menjauh dari ranah sosial kehidupan dan membuat filsafat semakin tidak berguna.

Selanjutnya, filsafat Badiou juga harus diartikan sebagai penolakan atas perdebatan klasik kaum empirisme dan rasionalisme. Yang satu memositkan determinisme empiris, dan yang lain memegang kepercayaan rasionalisme transendental, atau sintesis antara keduanya. Dua-duanya menurut Badiou bersifat pseudo-netral. Ia , sebaliknya, mengambil jarak dari dua tradisi besar filsafat dengan mengambil superposisi yang sama sekali berbeda : menggunakan matematika untuk menjelaskan fenomena “Ada” (ontologi).

Tulisan ini membahas aspek mendasar dari pemikiran Alain Badiou. Tulisan dibagi dalam tiga bagian besar : pendasaran matematika sebagai ontologi, etika politik, dan politik sebagai procedure of truth.

II

Latar dari ontologi Badiou dimulai dari “jalan kebenaran” yang pernah diangkat Parmenides. Menurut Parmenides, What is, is (“yang ada” itulah ada). Konsekuensinya adalah sebagai berikut : “yang ada” dan “yang tiada” tidak dapat ada sekaligus-bersamaan. Salah satu diantara keduanya harus ditolak. Parmenides memilih “yang ada” adalah satu, tidak berbagi, sempurna, dan mengisi segala tempat.

Selanjutnya, muncul problem One and Many (Satu dan Banyak) : kalau “yang ada” itu ada, maka ia terdiri dari Satu. Kalau “yang ada” itu Banyak, maka ia kumpulan dari Satu. Kalau tiada Satu, maka “yang ada” tak dapat dihitung. Begitu pula kalau tiada Satu, maka Banyak menjadi tidak mungkin. Dan kalau Satu itu banyak, maka “yang ada” menjadi niscaya. Kalau begitu kita bisa simpulkan : kalau tiada Satu, tidak ada sama sekali.

Badiou memandang persoalan One and Many tidak terpecahkan sampai saat ini. Alasan utamanya disebabkan kecenderungan filsuf menggunakan teorema filsafat rasionalisme dalam ontologi. Rasionalisme tidak dapat memecahkan modalitas ontologi (forma, materi, mungkin, tidak mungkin, ada, tidak ada, aktual, dll) yang bersifat infinite. Ia tidak setuju dengan Parmenides. Oleh karenanya, sebagaimana Parmenides dan beberapa filsuf rasional, mereka terjebak pada materialisme radikal (Parmenides, Marx) atau dikotomi nomena-fenomena, things-in-itself (Kant, Hegel). Problem tentang keberadaan “yang tiada” seoalah-olah dikesampingkan oleh filsafat. Bahkan, “yang tiada” dianggap bukan bagian dari pemikiran manusia sehingga mengimplisitkan kerja “roh” sebagai kekuatan diluar manusia.

Ontologi Badiou tidaklah bersih dari klaim transendental. Tetapi, ia meletakkan bidang transendentalisme filsafatnya pada matematika. Badiou mengusahakan posisi netral – diluar kekuatan jiwa dan materi – sebagai jalan masuk menjelaskan multiplisitas.

Multiple multiplicities dalam pemikiran Badiou harus dipahami dari kacamata teori himpunan (set theory) matematik. Teori himpunan memungkinkan kita menjelaskan kumpulan dari kumpulan, atau bagian dari bagian. Bayangkan sebuah bola basket yang disimpan dalam keranjang, kemudian keranjang merupakan bagian dari kamar, kamar bagian dari rumah, rumah bagian dari perumahan, dan seterusnya. Dalam teori himpunan dijelaskan : setiap himpunan memiliki himpunan bagian, atau tidak ada himpunan yang tidak merupakan bagian. Dengan kata lain, pendapat Parmenides bahwa “yang ada” itu Ada menyeluruh, tak terbagi, dan sempurna tertolak. Karena tidak mungkin kita membayangkan himpunan yang mencakup seluruh himpunan anggotanya. Sebuah bola basket yang disimpan di dalam keranjang tidak mungkin mencakup anggota himpunan lain secara keseluruhan karena ia memiliki kategori diferensial dengan anggota himpunan lain.

Dengan begitu, multiple multiplicities (kemajemukan yang majemuk) dibayangkan secara matematis oleh teori himpunan. Bagian-bagian yang dimunculkan dalam teori himpunan – yang dapat diambil secara acak lewat pemilihan angka-angka – disebut Badiou sebagai “state of situation1 atau sering juga dinamai represented multiplicities, yang merujuk pada situasi, keadaan, dan kondisi dunia, yang tergambarkan saat ini2. Teori himpunan juga memungkinkan kita memikirkan sebuah posisi transfinite – dimana setiap bagian dari himpunan bersifat tak terhingga dalam dimensi-dimensi yang tak terbayangkan banyaknya. Menurut Badiou, kita hidup dalam dunia-dunia.

Lalu, bagaimana dengan bagian-bagian lain yang ada dalam teori himpunan? Atau dalam bahasa sederhana, bagaimana menjelaskan keberadaan “yang tiada”? Seperti yang telah dipahami, teori himpunan memiliki bagian yang infinite. Ontologi situasi atau dunia, dengan demikian, juga bersifat tak terbatas. Tetapi, kita dapat menjelaskan keberadaan “yang tiada” secara intermediasi – yakni menjelaskan keberadaan bagian lain dari teori himpunan (atau “bentuk-bentuk situasi yang tak tampak”) berdasarkan karakteristiknya. Dalam kosakata Badiou, “yang tiada” ini ia sebut Void, kosong. Kosong (void) merujuk pada situasi dari keseluruhan “Ada” yang belum terpresentasikan. Singularitas dari tiap “Ada” merupakan wujud count-as-one dan kemajemukan sekaligus. Mengapa demikian? Karena bagi Badiou yang Satu dan Banyak haruslah ada sekaligus. Partikularitas keadaan dapat menciptakan universalisme. Dengan cara ini, ia menolak Parmenides.

Matematika bersifat nonrefleksif. Ia bisa menjelaskan transendentalisme angka-angka secara transfinite, berdasarkan perbedaan komposisi dan karakteristik himpunan-himpunan. Tetapi, matematika tidak dapat memikirkan dirinya. Hanya filsafat yang bersifat refleksif terhadap matematik untuk kemudian dihubungkan dengan situasi dunia (Being-there). Maka kita harus paham, matematika yang digunakan oleh Badiou bukan konsep matematika formil, tetapi keberadaan logis suatu situasi ontologi tanpa melulu harus dibuktikan secara demonstratif. Dengan memikirkan ontologi sebagai matematika maka ia menjadi logis secara pikiran tetapi niscaya terhadap realitas. Badiou menempatkan “yang mungkin” pada derajat lebih tinggi dari “yang faktual”.

II

Sebagai seorang Maoist, Badiou memulai pemikiran politik untuk menjawab pertanyaan penting ; dalam kondisi apa yang dapat disebut politik? dan apa yang bisa dilakukan manusia dalam politik?

Dunia tunduk dalam logika hukum matematik. Begitu pula manusia. Perbedaan mendasarnya manusia bersifat refleksif terhadap situasi. manusia dapat memikirkan dirinya sebagai bagian dari dunia. Walau demikian, manusia tidak dapat mengelak dari keberadaannya (Being-there). Ia sudah ada-begitu-saja karena ia adalah bagian dari ontologi. Keberadaan manusia bergantung pada kehidupan diluar dirinya. Ia tak lagi dapat mengandalkan kesadaran-yang-solid untuk berbuat. Tetapi manusia harus mengarahkan perhatian pada Event (Kejadian).

Event, menurut Badiou, adalah momen politik, sebuah momen pemutus yang hanya bisa diraih oleh aktivitas politik – yang membedakannya dengan aktivitas politisi. Event adalah “yang mungkin”, yang keberadaannya telah terpresentasikan. Ia merujuk pada situasi yang luar biasa, yang tak dapat dikalkulasi, dan yang mengubah keadaan secara keseluruhan. Manusia yang mengarahkan perhatian pada Event disebut subjek militan.

Event adalah bentuk impossibility of possible. Ia tak bisa dan tak boleh dinamai. Sebab, penamaan sebuah Event akan menjatuhkannya pada kategori simbolik – yang justru merupakan sesuatu yang ingin dilampaui Badiou. Event bukan bagian dari order of neccesity sebagaimana negara. Bukan pula suatu order of contingency sebagaimana yang diinginkan para pengikut post-fondational philosophy. Event adalah aspek supplementary dari rententan kejadian. Ia adalah sesuatu yang ditambahkan agar sesuatu menjadi disruptif.

Mengapa Event dibutuhkan? Jawabannya karena negara. Negara adalah necessary evil. Keberadaannya dibutuhkan sekaligus dibenci. Tetapi, persoalan utamanya bahwa keberadaan negara selalu melebihi representasi. Negara tampil dalam the sovereign sehingga penyandaran kekuasaan ada pada dirinya sendiri. Negara sebenarnya tidak butuh legitimasi. Representasi dan presentasi, dua-duanya adalah bentuk infinite dari dua kualitas berbeda. Tetapi, dalam kasus ini bentuk-bentuk representasi negara, lewat kekuasaan, telah mengungguli presentasi – yang sebetulnya dalam pemikiran Badiou juga amat besar banyaknya karena mencakup jumlah bilangan yang infinite. Tugas negara menetapkan norma, membatasi peraturan, bahkan menginstitusionalisasi kebebasan. Negara berusaha mengunci seluruh bentuk-bentuk infinitas dalam rezim simbolik.

Representasi negara melalui kekuasaan (power) tidak dapat dilihat dari bentuk-bentuk kekuasaan, tetapi dari sisi determinasinya, yakni, sesuatu yang terus-menerus direpresi sehingga tak tampak dipermukaan. Artinya, negara selalu berusaha menutup kemungkinan atas Kebenaran.

Demi keperluan ini, Badiou membedakan pengetahuan dan kebenaran. Yang pertama mengandung repetisi sedangkan yang kedua mengandung kebaruan. Kebenaran berarti menjauhkan manusia dari relativitas sehari-hari. Sebagaimana kritik kerasnya terhadap demokrasi parlementer di Prancis yang tak kunjung menciptakan kebaruan. Kebenaran berawal dari proses subjektivisasi, yaitu keinginan subjek dalam situasi partikular yang kemudian menempatkan Kebenaran di cakrawala.

Keperluan kita tentang Kebenaran menambah pemahaman kita : momen politik bagi Badiou adalah momen yang menyoroti surplus representasi kekuasaan dengan cara menghadirkan “yang lain” yang belum muncul dalam state of situtation. Momen politik, bagi Badiou, haruslah dilihat dari relasinya atas kekuasaan. Dan tujuan dari etika politik adalah menyingkirkan segala kecenderungan yang mengenyampingkan Kebaruan dan Kejadian dalam politik.

III

Satu-satunya cara mengungguli negara adalah lewat maxim politik kesetaraan. Kesetaraan disini tidak merujuk pada status, pengasilan, etnis, dan hal-hal atributif lain. Kesetaraan yang dimaksud ialah pra-andaian sebelum tindakan. Ia mendahului norma dan kepatutan. Kesetaraan, menurut Badiou, bukan untuk dibicarakan tetapi ia adalah aksioma dari tindakan. Kesetaraan bukan tujuan.

Ketika negara memanfaatkan politik bahasa lewat eufemisme demi melapangkan kekuasaan, etika kesetaraan adalah prosedur awal yang harus dijalankan sebelum tindakan. Negara selalu berupaya – atas nama apa saja – mengamankan kekuasaannya yang berlebihan. Setiap pilihan-pilihan egaliter dianggap tidak masuk akal. Itulah sebabnya perubahan radikal tidak mungkin diharapkan lewat negara. Perubahan selalu diawali oleh subjek militan. Revolusi Prancis, Revolusi 1917, gerakan mahasiswa mei 1968, atau reformasi 1998 di Indonesia – semuanya adalah kejadian-kejadian luar biasa yang mengubah total keadaan – dan tak ada satupun yang difasilitasi negara.

Politik sebagai prosedur kebenaran adalah politik yang mensyaratkan kolektifitas. Momen politik hanya berarti jikalau ia secara material bersifat kolektif, atau jika ia punya “dimensi sosial” yang sama dengan orang lain.

Momen politik ini sejalan dengan momen kebebasan. Berbagai upaya saat ini untuk mencengkram kebebasan secara formil dapat dipandang sebagai usaha menutupi “jalan revolusi” bagi kebenaran politik yang memang langka. Badiou jelas adalah seorang pengkritik Demokrasi Liberal yang menurutnya telah dikuasai permainan modal. Tetapi jelas ia bukan seorang yang anti demokrasi. Sebagaimana menurutnya “Demokrasi yang sesungguhnya adalah langka. Demokrasi memiliki banyak nama yang lain pada masa lalu. Kini, ia memiliki nama yang lain, dan ia akan tetap memiliki nama lain di kemudian hari”.3

REFERENSI

  • Alain Badiou, Being and Event, trans : Oliver Feltham, Continuum, New York, 2005
  • Simon Critchley, Demanding Approval : On The Ethics of Alain Badiou, Radical Philosophy, May-June 200
  • Alain Badiou, The Communist Hypothesis dalam New Left Review January-February 2008
  • Raymond Lotta dkk, Alain Badiou’s “Politics of Emancipation” Communism Locked Within the Confines of the Bourgeois World
  • Bagus Takwin, dalam Bab Metapolitik Alain Badiou, dalam Kembalinya Politik, Marjin Kiri, 2008
  • K Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, Kanisius, Yogyakarta, 1999
  • Richard Oh, Kesetaraan dan Keabadian : Dua Pandangan Multiplisitas yang Saling Menganyami Namun Tidak Bisa disamakan Antara Deleuze dan Badiou (Paper di diskusi Komunitas Salihara)

 

1 Dalam bukunya Logic of Worlds, Badiou sering menggunakan “state of world” sebagai padanan “state of situation”

2 State of situation untuk menjelaskan dunia-dunia sejalan dengan konsep the symbolic dalam pengertian Lacan – yakni segala ihwal yang telah terjamah dunia-bahasa.

3 Badiou dalam Equality as a Formal Condition of Politics dalam seminar di University of Essex, Colchester, Inggris 17-18 Mei 2002. Terjemahan Daniel Hutagalung

One thought on “Sketsa Pemikiran Politik Alain Badiou

  1. waw sudah nulis lagi. but it’s too hard to be understood. u’re totally a deep thinker ~.~ btw, mampirlah ke rumah mayaku satu-satunya (baca : blog). twitter sudah hanyut, FB lagi disegel😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s