Hidup di “Awan”

Betulkah hubungan sosial pada dasarnya adalah beban? Apakah setiap orang benar-benar membutuhkan kehidupan nyata? Mungkinkah kita hidup tanpa beban dan memperlakukan orang lain dengan patut tanpa melanggar hak-hak mereka? Apakah saya betul-betul menginginkan pernikahan? Apakah pernikahan niscaya membawa pada kebahagiaan?

Beberapa pertanyaan itu muncul setelah saya menonton film Up In The Air yang diperankan George Coloney (Ryan Bingham). Film berkisah tentang seorang konsultan yang diberi tugas memecat pegawai-pegawai perusahaan. Untuk itu, ia harus terbang dari satu tempat ke tempat lain. Ia habiskan 270 hari dalam setahun di udara. Tinggal dari hotel ke hotel, memegang member khusus klub eksekutif, makan gratis di restoran-restoran mahal, termasuk menjadi satu dari tujuh orang di dunia yang berhak mendapat kartu American Airline karena telah terbang sejauh 1,6 juta km. Keluarga bukan soal bagi Ryan. Karena ia selalu bertemu orang-orang baru. Mereka semua cukup memberinya kebahagiaan. Cinta? Bukan masalah. Ia bisa bersua banyak wanita, bahkan gonta-ganti pasangan tanpa perlu diminta tanggung jawab.

Di luar itu, Ryan sangat cinta pekerjaannya. Suatu ketika ia dikenalkan pegawai muda wanita yang cantik, lulusan Cornell, yang membawa cara baru memecat orang tanpa harus terbang ke tempat tujuan. Tujuannya menciptakan efisiensi keuangan perusahaan yang paling banyak dihabiskan untuk akomodasi pulang-pergi. Cara baru yang dimaksud wanita bernama Natalie, yakni duduk di depan layar komputer berhadap-hadapan dengan si pegawai-yang-akan-segera-dipecat –dan mengatakan terus-terang bahwa ia tak lagi dibutuhkan perusahaan.

Sontak saja Ryan terkejut mendengar cara seperti itu. Pekerjaan ini memang kejam tetapi tidak sesederhana yang diduga Natalie. Karena yang penting baginya bagaimana “membuat malapetaka bisa ditoleransi” sehingga yang harus dilakukan “membangkitkan harapan orang dengan membawanya ke pinggir lautan agar ia bisa berenang”. Pekerjaan ini lebih dari sekedar remeh-temeh efisiensi perusahaan. Yang penting bagaimana agar orang yang dipecat tidak hilang harapan akan masa depannya. Bukankah orang-orang ini punya tagihan yang harus dibayar? Memiliki anak-anak yang harus dipikirkan sekolahnya? Jaminan kesehatan? Menginginkan hidup yang tenang dan layak? Bagaimana jadinya kalau mereka di pecat? Bukankah – di jaman modern ini – pekerjaan bagian dari harga diri?

Lucunya, Ryan – walaupun ia punya segalanya – tidak dengan kehidupan pribadinya. Keluarganya terbilang miskin. Kakaknya diambang perceraian. Pernikahan adiknya bahkan terancam gagal karena sang calon suami tiba-tiba berubah pikiran ketika memikirkan apa yang harus ia kerjakan untuk menanggung istri, anak, rumah, dan sederet kebutuhan-kebutuhan hidup yang nanti jadi tanggung jawabnya. Sedangkan Ryan dalam setiap pidato-pidatonya dihadapan para pekerja, mengibaratkan semua yang menjadi milik mereka (harta benda, keluarga, kekasih, teman-teman terdekat) agar dimasukkan ke dalam ransel, rasakan beratnya, kemudian mulailah berpikir mengeluarkan mereka satu per satu agar beban di pundak tidak terlalu berat.

Pada akhirnya, Ryan tetaplah seorang manusia. Ia jatuh cinta dengan Alex, wanita yang ditemuinya disebuah klub. Karena tuntutan pekerjaan, mereka sering janjian bertemu dari satu kota ke kota lain. Ryan menemukan perasaannya pada Alex karena tahu Alex tidak pernah berkeberatan dengan hubungan tanpa status (relationship without responsibility). Sampai pada suatu ketika Ryan mengetahui kalau Alex sudah berkeluarga dan sengaja merahasiakan hal tersebut karena menurutnya, “you’re just an escape, you are a break from our normal lives”. Sebagai wanita dewasa, Alex sadar punya dunia nyata, punya keluarga, suami, dan anak-anak, meski ia tak menampik terkadang butuh “jeda” untuk terbebas dari rutinitas kehidupan yang membosankan.

Film ini menangkap dengan jernih patologi kehidupan modern, dimana antara manusia, pekerjaan, hubungan sosial, terkadang tidak saling berhubungan. Orang tidak lagi bertanya makna hidup yang sering ditemukan dari kesederhanaan. Cinta ditengah keluarga, keceriaan di meja makan, rasa empati, bisa ikut merasakan kesedihan dan penderitaan orang lain, semuanya seperti sesuatu yang hilang dari Ryan. Walaupun ia tidak menafikan pernikahan, karena pada saat yang sama, dia justru menyarankan sang adik menikah dan bahagia. Apakah Ryan termasuk orang yang tidak mau peduli? Tidak juga. Justru dia banyak menghidupkan kembali harapan-harapan orang lain. Orang-orang yang di PHK – yang mungkin berada pada titik kritis dalam hidupnya – bangkit lagi, memulai hidup baru dengan optimis, setelah mendengar motivasi-motivasi sederhana Ryan. Termasuk membangkitkan harapan sang calon suami adiknya dari keterpurukan dan ketidakpercayaan atas pernikahan, meski Ryan pribadi tidak pernah menginginkan pernikahan. Cukup adil menyebut Ryan sebagai Ironist – bila kita gunakan perspektif “orang normal” karena kita pasti bertanya-tanya.  Tetapi, bukankah inti hidup untuk membantu sebanyak-banyak orang? Dan Ryan lakukan itu tanpa memikirkan dirinya.

Advertisements