Sedikit Cerita Soal Ilmu Politik di Amerika

Waktu berjalan cepat sekali. Tak terasa sudah dua semester saya lalui di jurusan Ilmu Politik Ohio University. Artinya sudah separuh perjalanan. Tahun depan, jika semua lancar sesuai rencana, saya bisa lulus dengan gelar master.

Saya mau cerita sedikit soal dinamika perkuliahan setahun terakhir. Cerita ini mungkin tak bisa digeneralisasi dan hanya relevan untuk jurusan ilmu politik. Siapa tahu ada yang secara spesifik meng-google seluk-beluk kuliah pascasarjana ilmu politik di Amerika, tulisan ini barangkali bisa sedikit memberi gambaran.

Jika anda telah diterima disalah satu kampus di Amerika, jauh-jauh hari sebelum perkuliahan di mulai, tentukanlah subfield yang ingin ditekuni. Jurusan ilmu politik lazimnya terbagi atas lima subfields: political theory, international relations, comparative politics, American politics, dan political methodology. Pengalaman saya untuk program master, kita diminta fokus cukup untuk satu subfield saja. Tetapi professor akan meminta kita menjelaskan minat kajian secara lebih spesifik. Sebagai contoh, saya menekuni subfield comparative politics dengan kajian khusus soal isu-isu demokratisasi dan pembangunan, state-formation, dan pembangunan politik di Indonesia dan Malaysia. Saya ingin meneliti seberapa jauh efek transisi demokrasi yang permanen terhadap pembangunan di Indonesia dan dibandingkan dengan Malaysia dalam kurun waktu yang sama. Jadi dependent variablenya adalah economic outcomes yang mesti dipilah-pilah ke dalam beberapa  kategori yang lebih spesifik. Singkatnya, saya ingin menaksir seberapa jauh demokratisasi di Indonesia, yang ditandai dengan pergantian rezim pemerintahan, memiliki efek positif/negatif terhadap pembangunan dibandingkan dengan soft-authoritarian yang stabil seperti di Malaysia. Ini saja masih dianggap terlalu makro dan kurang spesifik oleh professor saya (mudahan-mudahan seiring berjalannya waktu bisa menjadi lebih jelas dan terukur).

Saya kurang paham bagaimana dengan studi PhD. Tetapi sejauh yang saya ketahui, selain satu major wajib, PhD student juga diharapkan mengambil minor untuk satu – dua subfield lain. Jadi misalkan majornya di comparative politics, minornya bisa di political methodology dan/atau political theory. Pengkhususan ini sebenarnya bermuara pada mata kuliah apa yang akan kita ambil selama menempuh studi pascasarjana. Mereka yang mengambil major di political theory, sebagai contoh, akan diwajibkan mengambil minimal sekian credit hours untuk kelas-kelas berorientasi filsafat politik (critical race theory, feminist theory, political liberalism, democratic theory, etc) sementara yang ingin fokus di international relations akan berkutat dengan kuliah-kuliah seperti international political economy, international organization, IR theory, dan sebagainya.

Meskipun kita sudah menentukan subfield khusus, menariknya, jurusan ilmu politik di Amerika tetap mewajibkan mahasiswa mengambil setidaknya dua mata kuliah pokok dari subfield lain. Biasanya mata kuliah upper classes ini ditawarkan dalam bentuk seminar (lebih banyak diskusi sesama mahasiswa sementara dosen tidak lagi memberi lecture). Partisipasi di kelas, selain paper tentu saja, menjadi salah satu elemen penilaian terpenting untuk grade akhir mahasiswa. Berdasarkan pengalaman, banyak international students – termasuk saya sendiri – mengalami kendala dalam berpartisipasi di kelas. Entah karena masalah bahasa, tak punya cukup ide, atau perasaan kurang percaya diri untuk berpartisipasi. Sementara graduate students asal Amerika adalah termasuk orang-orang yang sangat pede dan tahu benar apa yang mereka katakan. Kabar baiknya, professor dan mahasiswa disini sangat welcome dengan segala bentuk partisipasi. Mereka akan memuji atau sebaliknya memberi catatan secara layak jika melihat ada kelemahan dalam argumen yang kita sampaikan. Professor tidak akan secara langsung mematahkan argumen anda. Sebaliknya ia akan menyampaikan pandangan-pandangan alternatif yang memungkinkan kita menimbang segala sesuatu dari banyak sisi.

Kembali lagi soal mata kuliah, selain mata kuliah seminar dan subfield, grad students juga akan digembleng dengan beberapa mata kuliah dasar yang bertujuan mengantarkan perdebatan-perdebatan klasik dan mutakhir dalam literatur ilmu politik. Di luar itu, kita juga diwajibkan mengambil mata kuliah statistik untuk metodologi. Belum lagi kalau kita merasa punya kecenderungan ke riset kualitatif. Kuliah pengantar riset kualitatif menjadi wajib hukumnya (selain kuantitatif yang merupakan “default” metodologi disini). Kelas-kelas wajib ini adakalanya membuat kita kesulitan mengambil elective courses dalam dua semester pertama. Sebab, mata kuliah wajib seperti teori dan metodologi memang diwajibkan untuk dua semester awal. Kecuali jika anda siap mengambil lebih dari tiga mata kuliah dalam satu semester, saya tidak menyarankan mengambil elective courses di tahun pertama.

Kenapa tidak saya sarankan mengambil lebih dari tiga mata kuliah? Well, ini pengalaman pribadi yang mungkin tidak bisa digeneralisasi. Untuk satu mata kuliah pokok, kita diwajibkan membaca paling tidak 250-300an halaman per minggu. Bila dikali tiga mata kuliah berarti bisa 1000 halaman. Belum lagi tugas review bacaan untuk tiap mata kuliah yang harus dikumpulkan tiap minggunya. Bagi saya ini berat. Apalagi kalau kita juga terinspirasi melakukan riset/proyek independen di luar kuliah yang sedang kita ambil.

Jika ingin lulus dari program master, setidaknya kita harus mengambil minimal 48 credit hours yang dibagi ke dalam 4 semester. Jika mengambil 3 mata kuliah (atau 12 credit) setiap semester, anda bisa berharap lulus dalam 2 tahun. Ada juga mahasiswa yang nekat ingin lulus dalam 1.5 tahun. Caranya dia ambil tiga semester full courses plus summer class. Jadi dikala mahasiswa lain menikmati libur musim panas, si mahasiswa rajin ini tetap setia belajar di kampus.

Satu catatan khusus. Program MA ilmu politik sebenarnya tidak lazim di kampus-kampus Amerika Serikat (sering disebut dengan terminal degree karena program MA memang idealnya ditujukan sebagai persiapan menjalani PhD). Normalnya, seorang mahasiswa langsung mencemplungkan diri di program PhD begitu lulus dari sarjana (sementara gelar MA akan diraih secara otomatis ketika sedang menempuh PhD, atau non terminal degree). Kebetulan program beasiswa yang sedang saya jalani hanya memungkinkan saya menempuh program master. Tetapi adalah suatu yang sangat umum jika mahasiswa program MA langsung melanjutkan studi ke program PhD. Jika melanjutkan ke kampus yang sama, credit hours yang telah diambil di program master bisa dihitung sebagai credit di program PhD. Sementara jika melanjutkan ke kampus lain, kita harus mulai dari awal, belajar lagi teori-teori dan metodologi dari nol. Lama? Ya. Tetapi begitulah sistem pendidikan di Amerika. Perlu persistent, motivasi, rasa cinta dan hobi melakukan riset secara independent jika ingin survive. Program MA normalnya diselesaikan dalam 2 tahun. Sementara PhD di Amerika bisa diselesaikan dalam jangka waktu 5 – 7 tahun, sebuah investasi waktu lama yang tidak semua orang siap menjalaninya. Konon banyak mahasiswa PhD yang berpikir ulang ketika menjalani masa studi. Selain soal waktu, masalah lain seperti ketidakpastian finansial (stipend yang tak banyak), tekanan akademik, keinginan untuk segera established di usia yang semakin matang, dan soal-soal non-akademik lainnya kerap menjadi persoalan yang berujung pada terhentinya perkuliahan.

Masih banyak sebetulnya serba-serbi perkuliahan yang menarik untuk diceritakan. Saya akan cicil dalam beberapa posts. Semoga catatan singkat ini bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s