Nasionalisme di Luar Negeri

Saya ingat seorang teman pernah berkata: Tinggal jauh dari tanah air bisa membuat rasa nasionalisme kita menebal. Saya rasa pernyataan itu ada benarnya. Mereka yang sering pergi jauh berkelana ke luar negeri pasti sering membanding-bandingkan kemajuan negaranya dengan negara lain; mulai dari kedisiplinan berkendara, kondisi jalan, kualitas layanan-layanan publik yang demikian maju seperti customer services,layanan kesehatan dan masih banyak lagi. Kalau datang ke negara yang secara ekonomi lebih miskin, mungkin kita akan berbesar hati sambil diam-diam berkata: “Indonesia ternyata masih lebih baik dalam hal ini-itu”. Tetapi kalau sudah berkunjung ke negara maju, reaksi yang mungkin muncul ada dua. Yang termudah adalah orang dengan gampangnya mengkritik keburukan-keburukan di negeri sendiri – sambil sekali-kali membuat lelucon tentangnya. Sementara reaksi yang agak idealistik adalah orang akan berpikir sedikit preskriptif dengan menawarkan “solusi-solusi” yang mesti dijalankan supaya negaranya menjadi lebih maju dan sejahtera . Nah, which sides are you on? 🙂

Tentu saja saya sedang menyederhanakan persoalan. Orang yang cenderung berpikir preskriptif bisa saja memulai argumen mereka dengan kritik. Sedangkan si tukang kritik juga tak jarang melengkapi kritikannya dengan tawaran-tawaran yang bersifat solutif. Kritik dan solusi tak mungkin ada tanpa kesadaran adanya celah, atau kesenjangan, atau gap (whatever you name it) antara idealita dan realita. Idealita dan realita adalah dua kutub ekstrim yang dibentuk oleh pengalaman unik masing-masing individu. Ada yang menarik disini. Berbicara soal idealita dan realita hanya relevan kalau kita sedang membanding-bandingkan, misalnya, A lebih baik dari B. Tetapi saya percaya sikap kita ketika membandingkan sesuatu sebetulnya bersifat ambivalen. Kita senantiasa mulai dengan gap imajiner yang kita bikin sendiri; ada idealita dan realita. Keduanya adalah jarak  imajiner yang membuat perbandingan menjadi mungkin. Tanpa jarak imajiner, mustahil melakukan perbandingan.

Catatan singkat ini dilatarbelakangi oleh rasa penasaran saya: Apakah mungkin nasionalisme dan rasa cinta tanah air muncul dari kebiasan banding-membandingkan ini? Mari sedikit kita tilik sejarah. Dulu di awal-awal abad ke-20, adalah hal yang lazim jika Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengasingkan pribumi-pribumi yang dianggap berbahaya ke negeri Belanda (atau ke tempat-tempat lain di Hindia seperti Ende, Maluku, dan Boven Digul sebagaimana yang dialami Sukarno dan Hatta). Gubernur Jenderal punya hak exorbitante yang mana merupakan hak tanpa syarat untuk memenjarakan atau mengasingkan orang-orang yang dianggap “berbahaya” di tanah jajahan tanpa proses pengadilan. Nah, pribumi-pribumi yang diasingkan ini tentu sudah memiliki kiprah politik tersendiri (ya kalau nggak mana mungkin juga mereka diasingkan, hehe). Misalnya, ada yang dianggap kiri-radikal seperti Semaun; ada yang dianggap mengusik ketertiban sosial Hindia karena pamflet-pamflet yang mereka tulis seperti Tirto Adhisoerjo dan tiga serangkai (Dowes Dekker, Tjipto, dan Ki Hajar Dewantara). Tetapi jangan lupa, ada juga diantara mereka yang memang disekolahkan oleh pemerintah Hindia Belanda seperti Sjahrir dan Bung Hatta (Hatta sendiri berangkat ke Belanda untuk belajar ekonomi di Erasmus University Rotterdam tahun 1921 waktu dia belum genap 19 tahun dan kembali ke Indonesia 11 tahun kemudian).

Pengalaman diasingkan atau proses pembelajaran (bagi mereka yang kuliah) di negeri Belanda pada masa itu saya bayangkan betul-betul full of hardships; tak ada internet, tak ada pesawat terbang dan juga surat-surat/majalah yang bisa memberi kabar tentang kondisi tanah air (saya sulit membayangkan bagaimana bisa konsentrasi belajar di luar negeri tanpa kepastian kabar dari keluarga). But they went through that processes thoroughly. Mereka saling berkomunikasi lewat surat yang membutuhkan waktu berminggu-minggu atau malah berbulan-bulan untuk mendapatkan balasan. Komunikasi lainnya biasanya mereka lakukan melalui majalah Hindia Putra milik Perhimpunan Indonesia yang terbit dwibulanan di Belanda.

Saya membaca artikel menarik dari Hilmar Farid soal pengasingan dalam politik kolonial ini. Disana ia menjelaskan bahwa dalam kurun waktu 1855–1920, setidaknya ada 1150 kasus exorbitantedi Hindia. Kata Hilmar Farid, pengasingan yang pada awalnya ditujukan untuk meredam gejolak sosial di tanah Hindia justru berbalik arah menjadi kekuatan politik yang menentang pemerintah kolonial. Pengasingan memang berhasil memisahkan mereka dari tanah kelahiran. Tetapi pengasingan ini juga menyediakan waktu dan sarana bagi anak-anak muda ini untuk memikirkan ulang gagasan-gagasan tentang perjuangan mereka; pengasingan menghubungkan mereka dengan pusat-pusat kemajuan di Eropa; mendekatkan mereka pada teori-teori sosial Marxisme; dan juga membuat mereka akrab tentang tata tertib organisasi-organisasi modern. Semuanya ini adalah amunisi tak ternilai bagi perjuangan antikolonialisme di Hindia Belanda awal abad ke-20.

Saya berasumsi bahwa semua pengalaman-pengalaman berharga di luar negeri tadi menciptakan jarak psikologis dan kebudayaan yang kian dalam antara Belanda (atau Eropa) sebagai penjajah dan Hindia sebagai negeri jajahan. Jarak imajiner tercipta. Dan benih-benih nasionalisme mungkin muncul darisini, bagi mereka yang hidup dan menetap di luar negeri. Mereka dengan mudah bisa membandingkan idealita di luar negeri dan realita di tanah air. Pada mulanya mungkin muncul keprihatinan. Kemudian terejawantahkan menjadi semacam nasionalisme yang kian kokoh.

Tentu saja kondisi hari ini amat berbeda. Kita tak mengenal hak exorbitante atau kebijakan-kebijakan pengasingan seperti yang terjadi di masa lalu (yang ada sekarang malah orang mengasingkan diri secara sukerala :)). Keberadaan teknologi membuat semuanya menjadi lebih mudah. Jarak antara Indonesia dan luar negeri, sejauh apa pun itu, sebetulnya hanya one click away. Tetapi menurut saya “psikologi membandingkan-bandingkan” inilah yang membuat nasionalisme tetap relevan bagi mereka yang tinggal di luar negeri.

NB: karena pas tanggal 17 Agustus, saya kasih lagu nasional yang sering bikin hati saya basah mendengarnya. Pas buat Indonesia yang hari ini genap berusia 70 tahun.

 

https://www.youtube.com/embed/Knn2UhNLTWE?feature=player_embedded

 

 

Advertisements

Sedikit Kabar..

Ini catatan gado-gado. Saya baru kembali dari Indonesia. Kira-kira 1.5 bulan saya di tanah air, menghabiskan bulan puasa sekaligus berlebaran bersama keluarga dan teman-teman. Lumayan juga melepas rindu setelah setahun pisah. Karena libur cukup lama, saya  bisa ketemu dengan teman-teman yang dulu pernah bareng dari SD sampai kuliah. Ngobrol-ngobrol dari yang serius sampai ngalor-ngidul hingga tengah malam. Menyenangkan sekali rasanya bisa ngobrol lepas sambil mengingat kekonyolan-kekonyolan di masa lalu.

Dulu waktu kuliah S1, saya termasuk sering pulang ke kampung halaman di Jambi. Saya ingat betapa senangnya saya kalau sudah naik bus Damri ke Cengkareng. Dalam perjalanan itu biasanya saya suka sedikit kontemplasi soal apa yang sudah dipelajari selama sekian bulan di Depok, kemudian mikir apa yang bisa saya bagikan ke keluarga selama kepulangan nanti. Dan giliran mau kembali ke Depok, saya stress luar biasa. Biasanya di satu-dua malam terakhir balik ke Depok. Waktu selalu terasa kurang kalau sudah pulang ke rumah. Dan entah kenapa kemana pun saya pergi, seperti ada magnet yang ingin terus menarik saya supaya cepat-cepat pulang lagi.

Sekarang tentu lain. Kalau keseringan pulang bisa bikin kantong jebol. Tiket Amerika-Indonesia tidak ada yang murah. Bahkan untuk low season sekalipun masih tergolong tinggi harganya. Uang itu lumayan kalau dipakai untuk jalan-jalan keliling Amerika selama summer. Tapi akhirnya saya memilih pulang juga. Bukan karena banyak uang. Tapi ya itu tadi, kebersamaan bareng keluarga memang susah dinilai. Karena itu saya pastikan betul supaya kepulangan saya kemarin sepadan dengan biaya yang harus saya keluarkan.

Nah ketika sampai di Amerika, hal pertama yang harus saya lakukan adalah bersih-bersih apartemen. Leasesaya berakhir 31 Juli. Sementara saya datang 26 Juli. Artinya saya punya waktu setidaknya 4 hari buat bersih-bersih. Saya tinggal bersama 3 orang housemate. Cuma pada saat datang, hanya ada saya dan seorang subleaser yang menyewa 1 kamar apartemen kami selama summer. Si subleaser ini bikin saya khawatir karena dia membawa barang yang banyak sekali. Saya bilang semua barangnya harus bersih paling telat jam 12 siang tanggal 31 Juli.

Ternyata kegiatan bersih-bersih apartemen ini luar biasa menghabiskan tenaga. Bikin keringat mengucur deras dan badan pegal-pegal. Sebabnya empat: Pertama, saya kerja sendiri. Kedua, saat saya datang, keadaan apartemen mirip kapal pecah dan kotor sekali. Ketiga, pada saat yang sama saya juga harus sudah mendapatkan tempat tinggal baru per 1 Agustus. Dan terakhir, saya harus memindahkan sebagian barang yang masih berguna ke storage (tempat penyimpanaan sewaan) yang letaknya kira-kira 10 miles dari tempat saya tinggal. Jadi begitu nyampe Amerika nggak ada alasan-alasan jet lag: Saya harus atur waktu dan strategi supaya bisa kerja seefisien mungkin dan dapat mengembalikan kunci apartemen tepat pada waktunya.

Saya mulai dengan membuang barang-barang yang tidak digunakan ke tempat sampah. Kemudian bersih-bersih dapur dan kamar mandi. Kemudian bolak-balik memindahkan barang dari apartemen ke storage. Nah, masalah muncul ketika ada beberapa items yang tidak mungkin bisa diangkat sendiri. Ada dua buah sofa besar, dua meja belajar, dan dua kasur besar yang butuh 2-3 orang untuk mengangkatnya. Awalnya saya mau minta tolong teman, tetapi semua sedang sibuk ngurus pindahan masing-masing di tanggal yang sama. Saya ingat itu sudah tanggal 31 siang. Paling telat saya harus mengembalikan kunci di hari itu pada jam 12 malam. Akhirnya saya  coba cari-cari di internet private moving services yang tersedia saat itu juga. Dari sekian banyak pilihan, cuma ada satu yang siap datang dengan biaya $180/dua jam. Saya tanya apakah mereka menyediakan truk untuk angkut barang. Mereka jawab “No truck. We only provide traditional muscles to help you moving your stuff out.” Saya langsung lemas karena saya sudah kontak semua perusahaan truk sewaan beberapa hari sebelumnya dan mereka bilang semua truk sudah booked up hingga satu minggu ke depan.

Saya coba cara lain: Cek di craiglist. Saya kontak beberapa orang yang menawarkan jasa angkat-angkat barang dengan harga yang bisa ditawar. Akhirnya dapat satu yang bersedia datang langsung ke apartemen dan dia bilang juga menyediakan truk yang bisa dipakai memindahkan barang. Tapi dia jual mahal pasang harga $300! Hahaha. Saya coba nego-nego lewat telepon supaya dia nurunin harga sambil bilang “ntar gw bantuin lo juga deh”. Si cowok ini kemudian jawab, “ok, saya datang ke tempat kamu dulu untuk ngeliat barang-barangnya. If it is worth doing for money, we’ll do it together.” Singkat cerita dia datang ke apartemen dan setelah liat-liat, dia bilang “ok I’ll do it for 200 bucks. But I need you to help me.” Haah. Tanpa pikir panjang langsung saya iyakan tawarannya. Dia langsung keluarkan alat-alat dari mobil untuk memotong-motong sofa dan meja yang masih terlalu berat bagi kita berdua. Yang nggak penting dibuang. Yang masih bisa digunakan diangkut ke truk dan langsung dipindahkan ke tempat tinggal saya yang baru.

Waktu melihat apartemen sudah bersih dan kosong, tiba-tiba saya mendapati diri saya termenung. Mungkin ada perasaan sedih juga meninggalkan apartemen itu setelah setahun tinggal disana. Banyak cerita dan nostalgianya.

Anyway, masalah apartemen beres. Kini saya tinggal sendiri di sebuah duplex houseyang letaknya kira-kira 5 miles dari kampus. Pemilik rumah adalah seorang professor matematika asal Vietnam. Waktu pertama kali datang, saya suka dengan tempatnya yang jauh dari keramaian, cukup besar, dan di atas bukit Saya merasa ini tempat yang cukup ideal untuk belajar. Harganya juga terjangkau. Jadi waktu datang melihat, saya tidak berpikir panjang lagi dan langsung deal dengan pemilik rumah untuk tinggal disana selama setahun ke depan.

Sekarang masih libur summer. Kuliah mulai 24 Agustus. Saya berencana mengambil 18 credits. Rencananya saya akan mengambil dua mata kuliah pilihan di jurusan ekonomi dan administrasi publik. Satu independent study dan satu mata kuliah pilihan di subfield comparative politics. Di tahun kedua ini mahasiswa di jurusan saya lumayan punya pilihan menentukan kuliah-kuliah yang disuka. Sekarang saya semakin tahu minat dan kecenderungan saya. Tahun pertama bisa dibilang masa-masa “mengembara” dimana kami lebih banyak dijejali perdebatan-perdebatan dasar ilmu politik serta metodologi. Di tahun kedua ini saya merasa lebih fokus dan bisa memilih. Saya berdoa agar setahun ke depan bisa berjalan lancar sesuai rencana.