Sedikit Kabar..

Ini catatan gado-gado. Saya baru kembali dari Indonesia. Kira-kira 1.5 bulan saya di tanah air, menghabiskan bulan puasa sekaligus berlebaran bersama keluarga dan teman-teman. Lumayan juga melepas rindu setelah setahun pisah. Karena libur cukup lama, saya  bisa ketemu dengan teman-teman yang dulu pernah bareng dari SD sampai kuliah. Ngobrol-ngobrol dari yang serius sampai ngalor-ngidul hingga tengah malam. Menyenangkan sekali rasanya bisa ngobrol lepas sambil mengingat kekonyolan-kekonyolan di masa lalu.

Dulu waktu kuliah S1, saya termasuk sering pulang ke kampung halaman di Jambi. Saya ingat betapa senangnya saya kalau sudah naik bus Damri ke Cengkareng. Dalam perjalanan itu biasanya saya suka sedikit kontemplasi soal apa yang sudah dipelajari selama sekian bulan di Depok, kemudian mikir apa yang bisa saya bagikan ke keluarga selama kepulangan nanti. Dan giliran mau kembali ke Depok, saya stress luar biasa. Biasanya di satu-dua malam terakhir balik ke Depok. Waktu selalu terasa kurang kalau sudah pulang ke rumah. Dan entah kenapa kemana pun saya pergi, seperti ada magnet yang ingin terus menarik saya supaya cepat-cepat pulang lagi.

Sekarang tentu lain. Kalau keseringan pulang bisa bikin kantong jebol. Tiket Amerika-Indonesia tidak ada yang murah. Bahkan untuk low season sekalipun masih tergolong tinggi harganya. Uang itu lumayan kalau dipakai untuk jalan-jalan keliling Amerika selama summer. Tapi akhirnya saya memilih pulang juga. Bukan karena banyak uang. Tapi ya itu tadi, kebersamaan bareng keluarga memang susah dinilai. Karena itu saya pastikan betul supaya kepulangan saya kemarin sepadan dengan biaya yang harus saya keluarkan.

Nah ketika sampai di Amerika, hal pertama yang harus saya lakukan adalah bersih-bersih apartemen. Leasesaya berakhir 31 Juli. Sementara saya datang 26 Juli. Artinya saya punya waktu setidaknya 4 hari buat bersih-bersih. Saya tinggal bersama 3 orang housemate. Cuma pada saat datang, hanya ada saya dan seorang subleaser yang menyewa 1 kamar apartemen kami selama summer. Si subleaser ini bikin saya khawatir karena dia membawa barang yang banyak sekali. Saya bilang semua barangnya harus bersih paling telat jam 12 siang tanggal 31 Juli.

Ternyata kegiatan bersih-bersih apartemen ini luar biasa menghabiskan tenaga. Bikin keringat mengucur deras dan badan pegal-pegal. Sebabnya empat: Pertama, saya kerja sendiri. Kedua, saat saya datang, keadaan apartemen mirip kapal pecah dan kotor sekali. Ketiga, pada saat yang sama saya juga harus sudah mendapatkan tempat tinggal baru per 1 Agustus. Dan terakhir, saya harus memindahkan sebagian barang yang masih berguna ke storage (tempat penyimpanaan sewaan) yang letaknya kira-kira 10 miles dari tempat saya tinggal. Jadi begitu nyampe Amerika nggak ada alasan-alasan jet lag: Saya harus atur waktu dan strategi supaya bisa kerja seefisien mungkin dan dapat mengembalikan kunci apartemen tepat pada waktunya.

Saya mulai dengan membuang barang-barang yang tidak digunakan ke tempat sampah. Kemudian bersih-bersih dapur dan kamar mandi. Kemudian bolak-balik memindahkan barang dari apartemen ke storage. Nah, masalah muncul ketika ada beberapa items yang tidak mungkin bisa diangkat sendiri. Ada dua buah sofa besar, dua meja belajar, dan dua kasur besar yang butuh 2-3 orang untuk mengangkatnya. Awalnya saya mau minta tolong teman, tetapi semua sedang sibuk ngurus pindahan masing-masing di tanggal yang sama. Saya ingat itu sudah tanggal 31 siang. Paling telat saya harus mengembalikan kunci di hari itu pada jam 12 malam. Akhirnya saya  coba cari-cari di internet private moving services yang tersedia saat itu juga. Dari sekian banyak pilihan, cuma ada satu yang siap datang dengan biaya $180/dua jam. Saya tanya apakah mereka menyediakan truk untuk angkut barang. Mereka jawab “No truck. We only provide traditional muscles to help you moving your stuff out.” Saya langsung lemas karena saya sudah kontak semua perusahaan truk sewaan beberapa hari sebelumnya dan mereka bilang semua truk sudah booked up hingga satu minggu ke depan.

Saya coba cara lain: Cek di craiglist. Saya kontak beberapa orang yang menawarkan jasa angkat-angkat barang dengan harga yang bisa ditawar. Akhirnya dapat satu yang bersedia datang langsung ke apartemen dan dia bilang juga menyediakan truk yang bisa dipakai memindahkan barang. Tapi dia jual mahal pasang harga $300! Hahaha. Saya coba nego-nego lewat telepon supaya dia nurunin harga sambil bilang “ntar gw bantuin lo juga deh”. Si cowok ini kemudian jawab, “ok, saya datang ke tempat kamu dulu untuk ngeliat barang-barangnya. If it is worth doing for money, we’ll do it together.” Singkat cerita dia datang ke apartemen dan setelah liat-liat, dia bilang “ok I’ll do it for 200 bucks. But I need you to help me.” Haah. Tanpa pikir panjang langsung saya iyakan tawarannya. Dia langsung keluarkan alat-alat dari mobil untuk memotong-motong sofa dan meja yang masih terlalu berat bagi kita berdua. Yang nggak penting dibuang. Yang masih bisa digunakan diangkut ke truk dan langsung dipindahkan ke tempat tinggal saya yang baru.

Waktu melihat apartemen sudah bersih dan kosong, tiba-tiba saya mendapati diri saya termenung. Mungkin ada perasaan sedih juga meninggalkan apartemen itu setelah setahun tinggal disana. Banyak cerita dan nostalgianya.

Anyway, masalah apartemen beres. Kini saya tinggal sendiri di sebuah duplex houseyang letaknya kira-kira 5 miles dari kampus. Pemilik rumah adalah seorang professor matematika asal Vietnam. Waktu pertama kali datang, saya suka dengan tempatnya yang jauh dari keramaian, cukup besar, dan di atas bukit Saya merasa ini tempat yang cukup ideal untuk belajar. Harganya juga terjangkau. Jadi waktu datang melihat, saya tidak berpikir panjang lagi dan langsung deal dengan pemilik rumah untuk tinggal disana selama setahun ke depan.

Sekarang masih libur summer. Kuliah mulai 24 Agustus. Saya berencana mengambil 18 credits. Rencananya saya akan mengambil dua mata kuliah pilihan di jurusan ekonomi dan administrasi publik. Satu independent study dan satu mata kuliah pilihan di subfield comparative politics. Di tahun kedua ini mahasiswa di jurusan saya lumayan punya pilihan menentukan kuliah-kuliah yang disuka. Sekarang saya semakin tahu minat dan kecenderungan saya. Tahun pertama bisa dibilang masa-masa “mengembara” dimana kami lebih banyak dijejali perdebatan-perdebatan dasar ilmu politik serta metodologi. Di tahun kedua ini saya merasa lebih fokus dan bisa memilih. Saya berdoa agar setahun ke depan bisa berjalan lancar sesuai rencana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s