Arti Penting Jawa pada Pilpres 2019

Published in Kompas, 18 May 2019. Here is the original link: 

Pilpres 2019 yang telah bersama-sama kita lewati memperlihatkan fenomena pergeseran suara di sejumlah provinsi dan, dalam tahap tertentu, perubahan perilaku pemilih yang perlu diperhatikan bagi pemerintahan terpilih.

Hal paling mendasar dari Pilpres 2019 adalah terjadinya kecenderungan polarisasi antarwilayah di Indonesia. Pada 2014, Presiden Jokowi memenangkan suara di seluruh wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Papua. Kemenangan ini dapat dilihat dari jumlah provinsi maupun kabupaten – kota yang dimenangkan oleh Jokowi – JK.

Lima tahun lalu, eks Gubernur DKI Jakarta ini unggul di 23 dari total 33 provinsi. Di tingkat kabupaten kota, menurut data yang dilansir kawalpemilu.org, secara keseluruhan Jokowi memenangkan 331 wilayah, berbanding 172 wilayah yang dimenangkan Prabowo atau jika dikonversi dalam persentase suara menjadi 66 vs 34 persen.

Sedangkan di tahun 2019, menurut perhitungan manual dari KPU yang masih berlangsung, Jokowi kalah telak di Sumatera. Dia unggul mutlak di Jawa, Kalimantan, Bali, dan Papua. Sementara di Sulawesi, meskipun hanya kalah di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan, ia unggul di empat provinsi lain. Tetapi dalam hal jumlah kemenangan di kabupaten – kota se-Sulawesi, Jokowi ternyata masih kalah dari Prabowo dengan perbandingan 37 dan 39 wilayah.

Di Sumatera, jika tahun 2014 Jokowi masih mendominasi dengan perolehan kemenangan 54 berbanding 46 persen, tahun ini ia terpuruk di angka 37 persen saja. Jokowi hanya berhasil menang di 58 daerah, sementara Prabowo unggul di 97 daerah. Kemenangan Jokowi di wilayah Barat Indonesia ini juga sangat tipikal. Dia unggul di provinsi yang memiliki demografi etnis Jawa yang besar seperti Lampung, atau di wilayah dimana masyarakat Muslim adalah minoritas, misalnya di banyak daerah di Sumatera Utara.

Selain itu Jokowi juga unggul di wilayah-wilayah kepulauan terluar Sumatera, misalnya di daerah-daerah yang menjadi bagian dari gugus kepulauan provinsi Kepulauan Riau, Sumatera Utara, dan Bengkulu. Tetapi di bagian dalam Pulau Sumatera, termasuk di nyaris seluruh kota-kota kunci pulau ini, Prabowo mendapat keunggulan mutlak.

Secara keseluruhan, menurut hasil sementara dari KPU, perbandingan kemenangan Jokowi dan Prabowo di tingkat kabupaten – kota adalah 280 dan 203. Masih ada data dari beberapa wilayah, terutama di Papua, yang belum masuk ke website KPU hingga tulisan ini dibuat.

Kalau kita hitung berdasarkan presentase, maka total suara Jokowi dan Prabowo berdasarkan jumlah kemenangan di kabupaten – kota di Pilpres 2019 adalah 58 dan 42 persen. Artinya meskipun secara jumlah kemenangan Prabowo berhasil memenangkan lebih banyak wilayah dibandingkan lima tahun lalu, tetapi jumlah suara yang ia raih akan lebih sedikit dibandingkan dengan perolehannya di 2014.

Dua Alasan

Mengapa hal itu bisa terjadi? Ada setidaknya dua penjelasan.

Pertama, Jokowi diuntungkan karena kemenangan besar yang ia peroleh di dua provinsi kunci, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Per 7 Mei 2019, perhitungan KPU menunjukkan Jokowi – Ma’ruf mendapat 77.4 persen di Jawa Tengah sementara Prabowo – Sandi 22.6 persen. Total suara masuk adalah 80.3 persen. Sementara di Jawa Timur dengan suara masuk 58 persen, kandidat petahana memperoleh 67 persen.

Meskipun perhitungan masih berjalan, tren perolehan suara ini diyakini tidak akan berubah banyak.

Jika dibandingkan dengan perolehan di 2014, Jokowi ketika itu “hanya” mendapat 66.6 persen di Jawa Tengah. Ini berarti ada lonjakan sekitar 10 persen suara yang menguntungkan Jokowi. Di Jawa Timur kenaikan suara malah lebih tinggi. Lima tahun lalu mantan Walikota Solo ini memperoleh 53.1 persen berbanding 46.1 persen untuk Prabowo; artinya ada kenaikan sekitar 13 persen di Jawa Timur.

Selisih dua digit untuk provinsi sebesar Jawa Tengah dan Jawa Timur ini terbilang sangat besar. Total pemilih dari dua provinsi ini sekitar 60 juta. Ini berarti Jokowi sudah memperoleh surplus suara lebih dari enam juta dibandingkan Prabowo hanya dari dua provinsi ini saja.

Sementara total pemilih se-Sumatera saja jika digabungkan adalah sekitar 38 juta pemilih. Artinya kekalahan mutlak yang dialami Jokowi di Sumatera dapat dikompensasi dengan kemenangan hanya di dua provinsi Pulau Jawa ini.

Penjelasan kedua, yaitu berkaitan dengan stagnasi suara Prabowo – Sandi di Jakarta dan Jawa Barat, dua provinsi besar lain yang dianggap sebagai basis pemilih pasangan ini.

Pada tahun 2014, Prabowo mendapatkan masing-masing 47 dan 60 persen di dua provinsi. Tetapi per hari ini ia hanya memperoleh 48 dan 58 persen di Jakarta dan Jawa Barat, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan efek elektoral yang diharapkan.

Padahal Prabowo layak berharap lebih mengingat dua provinsi ini dalam dua tiga tahun terakhir menunjukkan sinyalemen perilaku politik yang lebih dekat dengan kubu Prabowo – Sandi. Di Jakarta, misalnya, terpilihnya Anies Baswedan sebagai Gubernur Ibukota dengan dukungan dari kelompok 212 sebetulnya memperlihatkan momentum politik yang lebih berpihak kepada Prabowo. Demikian pula dengan masyarakat di Jawa Barat yang merupakan penyuplai massa paling banyak bagi gerakan 212 tiga tahun silam.

Akan tetapi momentum tersebut ternyata tidak serta-merta berbuah dukungan di kotak suara. Kemenangan telak yang diraih Anies Baswedan atas Basuki Tjahaja Purnama pada Pilkada 2017 lalu, misalnya, ternyata tidak dapat dijadikan pedoman dalam membaca arah dukungan di Pilpres 2019. Jakarta tetap menjadi provinsi dengan persaingan ketat, alias battleground province, yang pada tahun ini ternyata kembali dimenangkan oleh Jokowi. Sementara di Jawa Barat, suara Prabowo justru mengalami penurunan jika dibandingkan 2014, meskipun ia dan Sandi sudah sangat sering menghabiskan waktu berkampanye di provinsi ini.

Stagnasi suara yang dialami Prabowo di dua provinsi ini ditambah dengan kekalahan telak yang ia alami di Jawa Tengah dan Jawa Timur tak pelak menahbiskan Jawa sebagai daerah kunci bagi kemenangan di Pilpres 2019.

Noory Okthariza, Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial, CSIS.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s