Hidup di “Awan”

Betulkah hubungan sosial pada dasarnya adalah beban? Apakah setiap orang benar-benar membutuhkan kehidupan nyata? Mungkinkah kita hidup tanpa beban dan memperlakukan orang lain dengan patut tanpa melanggar hak-hak mereka? Apakah saya betul-betul menginginkan pernikahan? Apakah pernikahan niscaya membawa pada kebahagiaan?

Beberapa pertanyaan itu muncul setelah saya menonton film Up In The Air yang diperankan George Coloney (Ryan Bingham). Film berkisah tentang seorang konsultan yang diberi tugas memecat pegawai-pegawai perusahaan. Untuk itu, ia harus terbang dari satu tempat ke tempat lain. Ia habiskan 270 hari dalam setahun di udara. Tinggal dari hotel ke hotel, memegang member khusus klub eksekutif, makan gratis di restoran-restoran mahal, termasuk menjadi satu dari tujuh orang di dunia yang berhak mendapat kartu American Airline karena telah terbang sejauh 1,6 juta km. Keluarga bukan soal bagi Ryan. Karena ia selalu bertemu orang-orang baru. Mereka semua cukup memberinya kebahagiaan. Cinta? Bukan masalah. Ia bisa bersua banyak wanita, bahkan gonta-ganti pasangan tanpa perlu diminta tanggung jawab.

Di luar itu, Ryan sangat cinta pekerjaannya. Suatu ketika ia dikenalkan pegawai muda wanita yang cantik, lulusan Cornell, yang membawa cara baru memecat orang tanpa harus terbang ke tempat tujuan. Tujuannya menciptakan efisiensi keuangan perusahaan yang paling banyak dihabiskan untuk akomodasi pulang-pergi. Cara baru yang dimaksud wanita bernama Natalie, yakni duduk di depan layar komputer berhadap-hadapan dengan si pegawai-yang-akan-segera-dipecat –dan mengatakan terus-terang bahwa ia tak lagi dibutuhkan perusahaan.

Sontak saja Ryan terkejut mendengar cara seperti itu. Pekerjaan ini memang kejam tetapi tidak sesederhana yang diduga Natalie. Karena yang penting baginya bagaimana “membuat malapetaka bisa ditoleransi” sehingga yang harus dilakukan “membangkitkan harapan orang dengan membawanya ke pinggir lautan agar ia bisa berenang”. Pekerjaan ini lebih dari sekedar remeh-temeh efisiensi perusahaan. Yang penting bagaimana agar orang yang dipecat tidak hilang harapan akan masa depannya. Bukankah orang-orang ini punya tagihan yang harus dibayar? Memiliki anak-anak yang harus dipikirkan sekolahnya? Jaminan kesehatan? Menginginkan hidup yang tenang dan layak? Bagaimana jadinya kalau mereka di pecat? Bukankah – di jaman modern ini – pekerjaan bagian dari harga diri?

Lucunya, Ryan – walaupun ia punya segalanya – tidak dengan kehidupan pribadinya. Keluarganya terbilang miskin. Kakaknya diambang perceraian. Pernikahan adiknya bahkan terancam gagal karena sang calon suami tiba-tiba berubah pikiran ketika memikirkan apa yang harus ia kerjakan untuk menanggung istri, anak, rumah, dan sederet kebutuhan-kebutuhan hidup yang nanti jadi tanggung jawabnya. Sedangkan Ryan dalam setiap pidato-pidatonya dihadapan para pekerja, mengibaratkan semua yang menjadi milik mereka (harta benda, keluarga, kekasih, teman-teman terdekat) agar dimasukkan ke dalam ransel, rasakan beratnya, kemudian mulailah berpikir mengeluarkan mereka satu per satu agar beban di pundak tidak terlalu berat.

Pada akhirnya, Ryan tetaplah seorang manusia. Ia jatuh cinta dengan Alex, wanita yang ditemuinya disebuah klub. Karena tuntutan pekerjaan, mereka sering janjian bertemu dari satu kota ke kota lain. Ryan menemukan perasaannya pada Alex karena tahu Alex tidak pernah berkeberatan dengan hubungan tanpa status (relationship without responsibility). Sampai pada suatu ketika Ryan mengetahui kalau Alex sudah berkeluarga dan sengaja merahasiakan hal tersebut karena menurutnya, “you’re just an escape, you are a break from our normal lives”. Sebagai wanita dewasa, Alex sadar punya dunia nyata, punya keluarga, suami, dan anak-anak, meski ia tak menampik terkadang butuh “jeda” untuk terbebas dari rutinitas kehidupan yang membosankan.

Film ini menangkap dengan jernih patologi kehidupan modern, dimana antara manusia, pekerjaan, hubungan sosial, terkadang tidak saling berhubungan. Orang tidak lagi bertanya makna hidup yang sering ditemukan dari kesederhanaan. Cinta ditengah keluarga, keceriaan di meja makan, rasa empati, bisa ikut merasakan kesedihan dan penderitaan orang lain, semuanya seperti sesuatu yang hilang dari Ryan. Walaupun ia tidak menafikan pernikahan, karena pada saat yang sama, dia justru menyarankan sang adik menikah dan bahagia. Apakah Ryan termasuk orang yang tidak mau peduli? Tidak juga. Justru dia banyak menghidupkan kembali harapan-harapan orang lain. Orang-orang yang di PHK – yang mungkin berada pada titik kritis dalam hidupnya – bangkit lagi, memulai hidup baru dengan optimis, setelah mendengar motivasi-motivasi sederhana Ryan. Termasuk membangkitkan harapan sang calon suami adiknya dari keterpurukan dan ketidakpercayaan atas pernikahan, meski Ryan pribadi tidak pernah menginginkan pernikahan. Cukup adil menyebut Ryan sebagai Ironist – bila kita gunakan perspektif “orang normal” karena kita pasti bertanya-tanya.  Tetapi, bukankah inti hidup untuk membantu sebanyak-banyak orang? Dan Ryan lakukan itu tanpa memikirkan dirinya.

Advertisements

Kemenangan Sepakbola Indah

tulisan iseng mengomentari kesuksesan Spanyol di Piala Dunia

Piala dunia 2010 usai sudah. Spanyol secara gemilang keluar sebagai juara untuk pertama kali. Tim matador dengan meyakinkan keluar sebagai pemenang yang mengusung sepakbola indah. Ya, sepakbola indah. Begitulah yang dikatakan Vicente del Bosque, pelatih Spanyol, dalam menilai keberhasilan negaranya menjuarai Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Secara sederhana, sepakbola indah adalah karakter permainan yang mengedepankan taktik menyerang tik-tak, umpan-umpan pendek, dan skill individu pemain yang memukau. Kemenangan bukan menjadi tujuan akhir dari sebuah pertandingan. Filosofi dasar dari sepakbola indah ini sederhana ; lebih dari sekadar olahraga, sepakbola adalah seni pertunjukan. Dan karena ia seni, maka sepakbola haruslah elok dipandang. Penghargaan atas sepakbola bukan saja dilihat sebagai bagian dari olahraga, tetapi sebagai pertunjukan yang memiliki nilai tersendiri. Boleh dibilang, sepakbola adalah salah satu temuan permainan terbaik yang pernah diraih manusia abad 20. Sepakbola mengalihkan perhatian kita dari sejumlah informasi yang lebih sering mengedepankan aspek-aspek negatif.  Dalam kasus Indonesia, konon perhelatan Piala Dunia membuat sejumlah isu-isu politik menguap kepermukaan karena setiap orang, baik pemerintah, politisi, aparat penegak hukum, dan masyrakat luas sibuk nonton bola!

Sepakbola indah akhir-akhir ini mengalami tantangan serius dari sepakbola negatif (negative football). Tim yang menganut paham sepakbola negatif berpikir sebaliknya. Hasil akhir dari pertandingan adalah segala-galanya. Pola permainan hanya penting sejauh ia bisa membawa tim pada kemenangan. Alhasil, sepakbola negatif membuat sebuah kesebelasan bermain pragmatis, bertahan, dan membosankan. Tentu masih jelas dalam ingatan bagaimana Jose Mourinho membuat Barcelona frustasi ketika berhadapan dengan pola super defensif yang diperagakan Inter Milan di semifinal Liga Champion. Meskipun sepakbola negatif tidak dapat dikatakan gagal. Malah sebaliknya, sepakbola negatif efektif meredam tim yang berhasrat menyerang sangat tinggi. Tetapi, sepakbola negatif justru melihat sepakbola secara muram. Sepakbola negatif hanya memandang olahraga demi olahraga itu sendiri. Tidak ada keinginan memberi nilai lebih pada jutaan pasang mata yang merindukan akrobat cantik bak seniman di lapangan hijau.

Sejarah panjang

Usaha menempatkan tren sepakbola dengan permainan menawan, sebagaimana yang diperlihatkan spanyol, sebenarnya dimulai dengan perjuangan panjang. Satu dasawarsa terakhir, sepakbola Spanyol ditandai dengan melimpah ruahnya pemain-pemain kelas dunia yang merumput di negeri mereka. Spanyol kini menjadi kiblat sepabola dunia. Gelontoran Euro dikeluarkan untuk mendatangkan bintang-bintang dunia. Seniman sepakbola asal Prancis, Brazil, Inggris, Argentina berlomba-lomba mendapat tempat utama di klub-klub Spanyol. Adakalanya usaha ini dipandang sinis para pengamat olahraga. Mereka bilang, magnet sepakbola telah membuat sepakbola menjadi bisnis, dan pemain-pemain yang dibayar sangat mahal dianggap telah “melecehkan” sebagian orang, hanya karena banyak penikmat sepakbola bukan berasal dari kalangan ekonomi atas.

Kedatangan pemain-pemain terbaik dunia ke Spanyol tampaknya secara tidak langsung mempengaruhi pola permainan tim nasional Spanyol. Tak kurang dari Zinedine Zidane, Ronaldinho, dan Lionel Messi telah memeragakan permainan sepakbola indah yang mencengangkan mata. Sepakbola indah yang dimainkan Barcelona dan Real Madrid, dua klub raksasa sepakbola Spanyol, tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan dimana-mana. Disinilah kehebatan Spanyol. Kemampuan mereka mendatangkan bintang-bintang sepakbola dunia tidak membuat mereka lupa untuk terus mengasah kemampuan pesepakbola lokal. Mereka tahu, apalah artinya sukses diajang klub tetapi tim nasional sendiri amburadul. Kita melihat dideretan line up pemain Barcelona, Real Madrid atau Valencia, selalu bercokol banyak pemain lokal. Pemain Spanyol tidak pernah gagal bersaing dengan bintang-bintang negara lain.

Rahasia lain dibalik kesuksesan Spanyol adalah pembinaan sepakbola sejak usia dini. Banyak pemain kunci Spanyol dibidani dari kesuksesan sebuah akademi sepakbola. Xavi Hernandez, Iniesta, Puyol, dan Cassilas, untuk menyebut sedikit nama, adalah pesepakbola yang lahir dari rahim akademi sepakbola lokal. Bakat sepakbola mereka lahir dan ditemukan di negeri sendiri. Bahkan Lionel Messi, pesepakbola terbaik dunia saat ini, lahir dari akademi sepakbola Barcelona! Dengan cara ini, Spanyol mengalami surplus pemain dengan skil individu istimewa. Mereka memiliki dua lapis pemain yang sama baiknya. Ini adalah buah dari usaha panjang yang dibangun oleh kesadaran penuh dalam mengelola sepakbola secara profesional, sistematis, dan terukur.

Masa Depan Sepakbola

Piala Dunia 2010 telah berakhir. Kesuksesan Spanyol mejadi juara telah membuat rakyatnya berpesta. Mereka setidaknya dapat melupakan sejenak krisis perekonomian yang melanda negeri itu akibat tumpukan utang dan tingginya tingkat pengangguran.

Namun, yang terus harus didukung dari perhelatan akbar empat tahunan ini adalah kesadaran segenap insan sepakbola tentang filosofi sepakbola indah. Karena gegap gempita Piala Dunia telah menegaskan bahwa sepakbola sudah menjadi milik umat manusia. Dan untuk itu, sudah menjadi kewajiban bagi tiap pemain dan pelatih mempertontonkan permainan cantik dan menghibur. Spanyol sudah melakukan itu, dan mereka berhasil. Kemenangan Spanyol adalah kemenangan sepakbola indah.

Memaknai Bulan Bung Karno

Sekarang bulan Juni. Pemerintah secara simbolik menerima  bulan Juni sebagai bulan Bung Karno. 1 Juni kemarin ada sikap politik kenegaraan resmi yang menganggap 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. 1 Juni 65 tahun lalu, sebuah pencapaian kebangsaan brilian diucapkan oleh Bung Karno di depan sidang Dokuritsu  Zyunbi Tyoosakai. Konon, setelah tiga hari bersidang, Bung Karno gerah dengan sikap “njelimet” yang ditunjukkan peserta sidang. Padahal, sejak puluhan tahun sebelumnya nasionalisme dan cita-cita kemerdekaan Indonesia sudah digaung-gaungkan. Ketika muncul kesempatan emas mempersiapkan kemerdekaan – yang difasilitasi Jepang – para founding fathers itu malah zwaarwichtig, menjadi gentar hatinya. Inilah yang menjadi sumber kegeraman Bung Karno yang kemudian ia kemukakan pada pidatonya.

Bagi Bung Karno, kemerdekaan itu dia analogikan dengan kawin. Ada yang berani kawin, lekas kawin, dan ada yang takut kawin. Ada yang berani kawin “kalau sudah punya rumah gedung, sudah ada permadani, lampu listrik, dan tempat tidur mental-mentul”. Ada yang berani kawin “kalau sudah mempunyai meja satu, kursi empat, dan tempat tidur”. Beda dengan orang Marhaen, yang “kalau punya satu gubug, satu tikar, satu priuk : dia kawin”. “Sang Klerk dengan satu meja, empat kursi, dia kawin”. Jadi, yang jadi soal adalah : “kita ini berani merdeka atau tidak?” karena kalau masih menunggu ini itu selesai sebelum merdeka, atau menunggu tiap-tiap dari 70 juta rakyat Indonesia merdeka dulu jiwanya, maka “sampai lobang kubur pun Indonesia tidak akan pernah merdeka”.

Dan sikap berani itu pula yang menghantarkan kita pada “jembatan emas” kemerdekaan. Kemerdekaan tidak berarti segala tugas selesai. Kemerdekaan justru membuat kita bekerja. Kemerdekaan berarti membangun kembali potongan-potongan pendek optimisme Indonesia. Bahwa ada tugas maha berat yang menanti diujung sana. Dalam perjalanannya, tak jarang kemerdekaan dipahami secara pejoratif. Kemerdekaan kita katanya “semu”. Indikatornya banyak, mulai dari ketakleluasaan menentukan arah pembangungan, hutang-hutang yang menumpuk di masa lalu, ketidaktegasan para pemimpin, sampai soal kemiskinan. Apa yang dulu dinamakan cita-cita kemerdekaan belum dibayar lunas. Kita masih hidup dalam kondisi berkekurangan.

Tetapi, itu pula yang diingatkan oleh Bung Karno. Karena “disebrang jembatan emas” itu lah tantangan sesungguhnya akan kita hadapi. “Di dalam Indonesia merdeka itulah akan kita cerdaskan rakyat Indonesia, kita sehatkan, dan kita latih pemuda kita agar supaya menjadi kuat”. Jadi, bukan menunggu ini itu tersedia. Sekali lagi, kemerdekaan adalah soal nyali. Soal keberanian.

Bung Karno membangkitkan kembali optimisme kebangsaan. Dia menyarankan Indonesia ini dibangun lewat dasar yang merupakan intisari keindonesiaan, sesuatu yang tidak muncul dalam satu – dua tahun saja, tetapi merupakan pergulatan suatu bangsa yang telah melewati ujian-ujian panjang di pentas sejarah. Itulah Pancasila. Yang dasar-dasarnya dimulai dengan kebangsaan, internasionalisme, mufakat-permusyawaratan, kesejahteraan, dan ketuhanan. Masih menurut Bung Karno, kalau Pancasila itu diperas menjadi tiga, maka kita dapat Trisila ; sosial-demokrasi, sosial-nasionalisme, dan ketuhanan. Kalau masih diperas lagi, maka intisari sesungguhnya dari Indonesia itu ialah “Gotong Royong”. Betapa hebatnya. Negara gotong royong. Inilah jenius Indonesia yang mendasari perjalanan bangsa kita sejak nenek moyang “Indonesia” pertama kali menjejakkan kaki. Gotong royong pula yang menyatukan bangsa-bangsa di nusantara sehingga merenda suatu tenunan keindonesiaan. Jadi, jelas sekali bagi Bung Karno, the state follow the nations. Ada bangsa dulu baru ada negara. Bangsa yang dimaksud disini bukan satu imaji keindonesiaan tunggal, melainkan bangsa-bangsa, yang telah melewati jerit-tangis sejarah. Itulah sebabnya, sampai awal abad 20, apa yang dirasa sebagai perjuangan di bumi Pasundan, misalnya, belum dianggap penting oleh mereka-mereka di Borneo, atau bagi orang-orang di Bali. Karena konsepsi tentang nasionalisme itu belum dilihat secara utuh. Itulah sebabnya, Bung Karno tidak menganggap Prabu Siliwangi di Padjadjaran, Sultan Agung Tirtayasa di Banten, atau Sultan Hasanuddin dari Makassar, sebagai nasion. Nasion adalah sekelompok manusia yang memiliki keterikatan nasib dan tempat, yang digariskan oleh satu titik kepulauan. Dan peta mana pun di dunia ini, akan menunjukkan, gugus kepulauan Indonesia, adalah maha karya yang tak dapat dipisahkan oleh pendefinisian apapun. Indonesia adalah negara kepulauan, yang diapit dua samudra – Pasifik dan India – dan dua benua – Asia dan Australia. Melepaskan Indonesia dari pulau dan laut, yang berarti menyekat nusantara (pulau-pulau yang dikelilingi lautan) berarti menghilangkan transendensi Indonesia sebagai satu imaji kesatuan. Dan itu tidak mungkin. Itulah sebabnya, definisi keindonesiaan dalam perspektif NKRI selalu didefinisikan secara politik. Hal itu penting mengingat segala pluralitas agama, suku, bahasa, adat-istiadat, hanya dapat disatukan oleh kesamaan perasaan bahwa kita ada dalam satu kesatuan ; keindonesiaan. Keindonesiaan dan NKRI adalah bahasa politik bersama yang kita butuhkan. Dan dengan begitu, keindonesiaan amat musykil didefinisikan. Lebih dari sekedar kesamaan nasib, keindonesiaan mensyaratkan kesamaan imajinasi sebagai bangsa.

Dan sebagaimana yang kita tahu, imajinasi adalah konsep dinamis, sesuatu yang diusahakan secara aktif. Imajinasi berarti mensyukuri. Karena imajinasi hanya mungkin kalau kita menatap masa depan. Dengan imajinasi, kita mengantisipasi apa yang akan datang. Atau, kalau boleh saya gunakan Martin Heidegger, imajinasi mirip dengan Sorge (mencandra waktu) ; kesatuan antara masa lalu (faktisitas) yakni keberadaan lahiriah kita sebagai “orang Indonesia”, masa sekarang (eksistensi) yakni apa yang kita alami disini dan saat ini, dan masa depan (antisipasi) yakni kemampuan membaca kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Imajinasi adalah “mesin waktu”. Imagination is power, kata Einstein. Kita membayangkan apa yang kira-kira terjadi kalau kita lakukan “A”, sementara pada saat yang sama, kalau kita lakukan “B”. Imajinasi adalah kemampuan kita membuat pilihan-pilihan.

Imajinasi pula yang tampaknya membidani lahirnya nasionalisme Indonesia awal abad ke-20. Saya selalu terkagum-kagum kala membaca betapa nasionalisme itu tidak jatuh pada hal-hal yang berbau partikular. Nasionalisme kita tidak jatuh pada chauvinisme kedaerahan, tidak pada komunisme, tidak pada Indonesia ubber alles seperti Hitler di Jerman, dan tidak pada materialisme. Hemat saya, nasionalisme kita adalah nasionalisme yang patriotik. Bung Karno seorang Jawa. Tetapi dari sikap dan gagasan-gagasannya, ia jelas bukan “jawa” dalam pengertian tradisional. Nasionalisme menurutnya adalah prasyarat menjalankan internasionalisme yang di dalam bait-bait UU 1945 bertujuan ikut serta dalam membentuk ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Nasionalisme kita tidak mungkin berwatak egois. Nasionalisme patriotik adalah gagasan yang menempatkan dimensi keadilan sosial sebagai bentuk solidaritas sesama warga negara. Coba bayangkan, seadainya gagasan nasionalisme itu dibelokkan oleh Bung Karno – sebagai pembaca berat Marx – pada perjuangan kelas, maka sejarah awal Indonesia akan dilalui melalui revolusi fisik proletariat. Tetapi, kekhawatiran itu tidak terjadi di sejarah modern kita. Bung Karno percaya pada ketimpangan sosial yang mendasari perbedaan kelas. Tetapi kelas-kelas sosial itu sendiri bukan justifikasi dari tindakan. Oleh karena itu, formulasi politik kenegaraan lewat ideologi Marxist yang populer diantara aktivis pemuda di negara dunia ketiga pada awal abad ke 20 tidak berlaku dalam sejarah Indonesia. Bung Karno malah merujuk pada Marhaenisme, yang diinspirasi oleh sekelompok petani-petani kecil di pinggiran Jawa yang terpinggirkan secara sosial, tetapi masih memiliki unit-unit kecil produksi. Jadi, bukan kaum buruh yang terpinggirkan secara sosial, ekonomi, dan politik karena ketiadaan alat-alat produksi. Kaum Marhaen masih memiliki faktor-faktor produksi, tetapi mereka tidak bisa bebas karena terbelenggu penjajah kolonial. Nasionalisme Indonesia tidak mungkin berbau rasial. Kita tidak mengenal istilah pribumi dan non pribumi yang membatasi hak-hak kaum asli dan pendatang, sebagaimana yang terjadi di Malaysia sampai saat ini. Riak-riak kecil sentimen etnisitas memang kerap kita rasakan, tetapi itu tidak lebih dari akrobat yang disulut oleh petualang-petualang politik yang tidak suka Indonesia bersatu. Saya percaya, selama kita teguh memegang dasar-dasar keindonesian tadi, maka nasionalisme Indonesia selamanya adalah nasionalisme yang patriotik.

Dengan begitu, patriotisme dan imajinasi keindonesiaan mensyaratkan sikap yang senantiasa optimis. Optimisme itulah yang kini diam-diam dicuri oleh para koruptor, para demogog politik, dan termasuk mereka yang berusaha mejelek-jelekkan awal kelahiran Indonesia sebagai “kekalahan” dari umat Islam, sehingga sampai sekarang masih terus mendengung-dengungkan aspirasi negara Islam. Mereka mencoba menghisap intisari Indonesia dari dalam. Lama-kelamaan Indonesia bisa lemas, lumpuh, dan mungkin hancur. Tetapi, Indonesia tidak boleh jatuh dalam kondisi seperti itu. Bangsa ini harus terus hidup dan berjalan meskipun seringkali terseok-seok. Optimisme dan perjuangan harus terus diucapkan. Itulah sebabnya, pentingnya politics of hope dalam kerangka patriotisme. Karena Indonesia adalah takdir kita. Tugas kita adalah mengisinya dengan karya dan gagasan untuk menjawab tantangan takdir dan sejarah ini sebaik-baiknya.

Dana Aspirasi dan Penguatan Demokrasi

Kontroversi usulan Dana Aspirasi yang diajukan Golkar terlanjur mendapat respon negatif dari berbagai kalangan. Banyak yang menduga ini adalah upaya Golkar mendulang uang milik negara sebanyak-banyaknya. Bahkan ada yang dengan sinis melihat Dana Aspirasi sebagai tukar guling atas konsekuensi pelepasan kasus Century. Saya tergoda membayangkan isu ini dari perspektif lain. Meskipun dari awal saya cukup heran melihat keberanian Golkar bertarung sendirian ditengah penolakan fraksi-fraksi di parlemen. Dengan berlindung pada isu populis, Golkar menyindir parpol lain sebagai yang “kurang peduli terhadap pembangungan di daerah”. Benarkah demikian?

Polemik usulan Dana Aspirasi yang diajukan Golkar sebenarnya merupakan tawaran debat substansial mengenai bagaimana demokrasi harus dibiayai. Sepuluh tahun lebih demokrasi dijalankan di Indonesia tanpa kejelasan apa implikasi penerapan demokrasi terhadap pembiayaan dan pembangunan sistem demokrasi yang dilembagakan. Masih terdapat masalah-masalah mendasar yang membuat ongkos demokrasi kita menjadi mahal. Tidak salah kalau ada yang menganggap hanya orang-orang kaya yang bisa dipilih dalam demokrasi kita. Akibatnya, penyelenggaraan demokrasi bergantung pada aktor-aktor yang memiliki kekuatan finansial. Pengertian demokrasi sebagai dari, oleh, dan untuk rakyat menjadi semu. Dari sini amat mungkin kongkalikong penguasa – pengusaha bermain melampaui pengutamaan kepentingan publik.

Selain itu, sistem proporsional dengan segala variannya yang dipilih Indonesia menyebabkan jarak yang terbangun antara pemilih dan wakil-wakilnya terlalu jauh. Apalagi ditambah dengan faktor geografis dan proporsi keterwakilan, dimana wakil-wakil rakyat di tiap Dapil belum tentu orang yang benar-benar paham kondisi dan aspirasi pemilihnya. Akibatnya, pemilih cepat dilupakan (atau melupakan) dan hanya dimanfaatkan parpol menjelang Pemilu. Rakyat sesungguhnya tidak pernah benar-benar berpartisipasi dalam politik.

Usulan Dana Aspirasi ini adalah salah satu alternatif penguatan demokrasi via representasi. Pelan-pelan, kita sedang menuju demokrasi yang berbasis konstituen (constituent-based) yang mengandaikan kepedulian masyarakat sipil atas seangkarut isu-isu publik. Sudah cukup waktu dan energi dikeluarkan dalam mengelola politik demokrasi tanpa partisipasi dalam arti sebenarnya. Kalau selama ini anggota dewan berteriak bahwa tugas mereka adalah menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah, sekarang saatnya konstituen demokrasi menjalankan fungsi yang sama terhadap wakil-wakil mereka. Dengan begitu, kemungkinan pelembagaan dan jaring aspirasi yang lebih kuat dapat berjalan beriringan dengan kepedulian wakil rakyat terhadap Dapil-nya.

Bukan rahasia lagi kalau kelemahan partai politik Indonesia senantiasa bergantung pada siapa pemegang uang. Golkar bukannya tidak sadar isu populis bagi “rakyat” ini ternyata berubah menjadi sangat tidak populis ketika masuk pada debat tumpang-tindihnya fungsi pengawasan DPR dibanding dengan kemungkinan anggota dewan menjadi pelaksana program pembangunan. Naluri politik Golkar tampaknya menginginkan sejauh mana respon publik terhadap usulan ini sembari mempersiapkan langkah awal investasi 2014.

Meskipun begitu, secantik apapun tema baru yang diwacanakan tetap harus membuat kita curiga. Karena dalam politik hanya orang bodoh yang percaya bahwa seorang politisi akan berbaik hati membantu orang lain tanpa mengutamakankepentingan dirinya. Dengan penguatan representasi, yang ditandai dengan partisipasi masyarakat di tiap Dapil, kita dapat mencegah atau katakanlah meminimalisir unsur-unsur kecurangan politisi, menagih janji, sekaligus menghukum mereka dengan tidak memilih lagi di Pemilu selanjutnya. Kita ingin memastikan tak ada politisi yang meraup untung pribadi tanpa memprioritaskan kepentingan publik yang menjadi tugas mereka.

Pembodohan oleh TV ONE

Mengejutkan sekali, ternyata di Indonesia bukan hanya ada markus pajak, markus pengadilan, atau beberapa “markus” yang jamak diketahui di beberapa lembaga pemerintahan. Sekarang ada lagi “marta”(makelar berita) di tv one, milik Bakrie.

Sangat menjijikkan, ditengah trust masyarakat yang semakin rendah terhadap lembaga negara, kini justru pers ikut-ikutan menyebarkan berita dan kebohongan yang tak bertanggung jawab. Orang yang dijadikan narasumber adalah orang yang tidak-tahu-menahu tentang persoalan apa yang dibicarakan – ketika ia diundang menjadi narasumber 18 maret di tv one. Anehnya, tv one bersama segenap awak redaksi justru berusaha melakukan pembelaan dengan mengajukan “bukti” ke dewan pers. Meski pada akhirnya mereka mengaku telah melakukan kesalahan karena tidak melakukan “cover both side”. Konyol sekali. Padahal transkrip BBM antara presenter dan “markus palsu” itu telah beredar di media dan jelas-jelas memperlihatkan upaya menyembunyikan kebobrokan mereka dalam menampilkan berita.

Saya sama sekali ga yakin kalau ini adalah kasus kebohongan publik pertama yang dilakukan stasiun tv. Saya prihatin, belakangan saksikan, pers menjadi ajang pembenaran. Kebenaran bukan lagi ditentukan di arena real, tetapi dilihat dari cara berita yang disampaikan. Kebenaran politik, misalnya, dilihat seperti talkshow. Atau seperti menyaksikan “film  action”. Yang ditawarkan adalah suspense, ketegangan, orang senang melihat orang lain terpojok, tanpa bisa membela diri karena mereka tidak punya corong media.

Saya, sejak jauh-jauh hari sudah memaklumkan pada diri sendiri untuk selalu curiga atas pemberitaan di pers. Sulit sekali mencari pers yang tidak memihak.

Pers sebagai penyampai informasi, tanpa pretensi mengungkap fakta-fakta dibalik berita, tidak lebih.

Tentang Puisi

heran, mana mungkin kita bisa menikmati puisi terjemahan. seperti karya-karya Walt Whitman, jikalau dipindahkan ke bahasa Indonesia akan kehilangan maknanya. tak akan kita temukan metafor yang memukau. karena hampir kita tidak ada padanan kata yang tepat kata-per-kata, bait-per-bait, dalam tiap puisi.

Karenanya, nilai esoteris itu inheren dalam bahasa keseharian yang digunakan. kita tak akan pernah bisa turut merasakan pengalaman subjektif berbahasa yang dimiliki kebudayaan lain. yang kita bisa lakukan maksimal adalah interpretasinya, bukan maknya.

Karawang – Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi