Berharap Pada Ketua KPK

Masuk Koran Sindo 1 Juli 2010

Vedi R Hadiz, guru besar Murdoch University, pernah mengulas panjang-lebar tentang upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Ia berkesimpulan bahwa pemberantasan korupsi bukan soal sistem, aturan, atau ideologi. Pemberantasan korupsi adalah tentang komitmen politik ; yakni, sejauh mana Presiden dan pejabat-pejabat tinggi pemerintahan memiliki political will untuk bersungguh-sungguh memberantas korupsi tanpa pandang bulu. Watak sistemik korupsi telah menggurita sehingga menghubungkan institusi-institusi pemerintahan dalam lingkaran setan. Pemberantasan korupsi niscaya menimbulkan resistensi karena ada indikasi kuat keterlibatan orang-orang penting di dalamnya. Dalam kasus di Indonesia, korupsi sudah pada tingkat sangat mengkhawatirkan karena ia bermain di level institusi penegak hukum, sehingga membuat kredibilitas hukum jatuh di mata masyarakat.

Komitmen politik itulah yang sekarang kita rindukan karena kondisi kekinian KPK patut membuat kita waspada. Momentum reformasi dan pemberantasan korupsi terancam oleh penonaktifan dua pimpinan KPK pasca penolakan SKPP oleh pengadilan. Hak-hak istimewa KPK sebagai superbody seperti penyadapan dan penuntutan terus digerogoti. Bahkan Presiden pun pernah mengingatkan tentang wewenang KPK yang dianggap terlampau besar. Komitmen pemberantasan korupsi yang kerap mengancam kepentingan banyak pihak membuat KPK tidak disukai dan keberadaannya terus-menerus dipertanyakan oleh mereka yang tidak suka hukum ditegakkan di negeri ini. Padahal, citra positif KPK yang diraih lewat keberanian mengungkap sejumlah kasus korupsi justru menunjukkan kegagalan institusi penegak hukum lain dalam memerangi korupsi. Keberadaan KPK bukan untuk menyaingi kepolisian atau kejaksaan, tetapi untuk mengakselerasi pemberantasan korupsi yang luar biasa di Indonesia.

Di dalam situasi seperti itu lah pemilihan ketua KPK yang baru berlangsung. Nasib pemberantasan korupsi sedang dipertaruhkan. Sejumlah nama-nama beken yang tak diragukan integritasnya di mata publik ditunjuk menjadi panitia seleksi (pansel). Kita senang dengan keputusan Todung Mulya Lubis, salah satu anggota pansel, yang menolak masuk menjadi anggota dewan pembina partai Demokrat karena agenda pemberantasan korupsi saat ini jauh lebih penting baginya. Semangat non partisan memang harus dijaga oleh setiap anggota pansel supaya pansel bisa berkonsentrasi dan mengambil jarak dari lobi-lobi kekuasaan.

Dari 287 pendaftar, sebanyak 145 nama lolos administrasi. Mereka yang lulus tahap administrasi bisa dikategorikan dalam empat kritieria, mantan pengacara koruptor, jaksa, orang-orang yang belum terdengar kiprahnya dalam pemberantasan korupsi, dan orang-orang reformis. Masing-masing kelompok boleh jadi mencerminkan dua kekuatan yang sedang berseteru ; kubu koruptor dan anti koruptor. Hanya akan ada dua orang yang diajukan ke DPR yang kemudian akan memilih ketua KPK yang baru. Calon ketua KPK bukan saja harus dinilai integritas dan kapabilitasnya, tetapi sejauh mana ia memiliki akseptabilitas di mata DPR. Pada analisa terakhir, memang kepentingan politik lah yang akan menentukan selera ketua KPK. Oleh karena itu, pengawasan dan advokasi dari masyarakat sipil mutlak diperlukan untuk memastikan pemilihan ketua KPK dari awal sampai akhir berjalan sesuai dengan semangat anti korupsi.

Kita sangat berharap ketua KPK adalah seorang yang tanpa cela dan terbiasa melakukan reformasi hukum dimanapun ia bekerja. Ketua KPK bukan orang yang harus belajar lagi anatomi korupsi, tetapi orang yang hafal luar dalam bagaimana korupsi bekerja. Ia harus orang yang bernyali, tak bisa didikte, dan melawan korupsi tanpa tebang pilih sehingga mengembalikan harapan kembalinya KPK yang kuat, bersih, dan mandiri.

Sekali kita gagal, maka momentum gerakan nasional melawan korupsi akan hilang. Kepercayaan dan harapan masyarakat akan lumpuh. Dan entah kapan Indonesia akan bangkit dari keterpurukan.

Advertisements

SNMPTN dan Persaingan PTN

Tepat tanggal 16-17 Juni 2010 lalu Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia.

Seleksi yang menentukan nasib calon mahasiswa baru ini sudah menjadi tradisi tahunan. Lebih dari 400.000 ribu calon mahasiswa baru memperebutkan sekitar 80.000 kursi di 54 Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Akibatnya, dapat dipastikan akan banyak diantara mereka yang tersisih, tidak dapat melanjutkan kuliah pada tahun ini, atau terpaksa mengambil pilihan alternatif di kampus-kampus yang menyelenggarakan ujian masuk belakangan.

Yang menarik, beberapa tahun terakhir SNMPTN bukanlah satu-satunya ujian masuk PTN. Beberapa PTN menyelenggarakan ujian masuk mandiri dengan dalih ingin meningkatkan input kualitas mahasiswa. Beberapa PTN, terutama PTN unggulan, menganggap SMPTN tidak memenuhi harapan dan cita-cita mereka menuju world class university. Ujian masuk yang diselenggarakan mandiri itu sebenarnya mengadopsi sistem penerimaan mahasiswa di kampus-kampus ternama di Amerika dan Eropa. Dengan asumsi tingkat pemerataan pendidikan yang lebih baik, wajar jika kompetisi dalam sistem seperti itu bertujuan menjaring mahasiswa-mahasiswa dengan kualitas terbaik. Sedangkan kasus di Indonesia sangat berbeda. Penerapan ujian masuk mandiri di beberapa PTN tak urung membuat alokasi kursi masuk yang diperuntukkan bagi mereka yang lulus melalui SNMPTN semakin kecil. Tentu ini menimbulkan persoalan mengingat proporsi pelaksanaan SNMPTN paling representatif secara nasional dibandingkan ujian masuk mandiri. Ujian masuk mandiri biasanya dilaksanakan secara terpusat di kampus penyelenggara. Calon mahasiswa yang berada di daerah-daerah yang tak terjangkau ujian masuk mandiri termasuk kelompok yang paling dirugikan.

Alasan sebenarnya dari penyelenggaraan ujian masuk mandiri adalah tawaran mendapat sumber dana yang lebih besar. Bukan rahasia lagi kalau banyak PTN mengalami kendala finansial. Dana operasional yang diberikan pemerintah tidak pernah cukup menutupi kebutuhan operasional PTN. Melalui penyelenggaraan ujian masuk, PTN mendapat dana segar dengan kebebasan menentukan uang pendaftaran dan dana pembangunan yang dibebankan kepada setiap calon mahasiswa.

Sejumlah PTN pun berkilah sistem SNMPTN terpusat dianggap tidak saja merugikan dalam hal input kualitas mahasiswa – karena kualitas ujian yang dianggap rendah (yang tentu sangat debatable) – tetapi juga merugikan kampus secara finansial karena kongsi pembayaran dilakukan terpusat. Perguruan tinggi unggulan merasa dirugikan dua kali. Dengan demikian, pelan-pelan SNMPTN akan ditinggalkan. Hal ini kontras dengan semangat pemerintah mengevaluasi pelaksanaan pendidikan dasar melalui Ujian Nasional.

Alasan lain yang dikemukakan, ujian masuk mandiri akan membuat kualitas PTN menjadi lebih kompetitif. Mereka bebas menentukan waktu ujian dan tingkat kesulitan soal-soal yang diujikan. Padahal pada saat bersamaan, cara itu “membunuh” PTN lain yang tidak dapat menyelenggarakan ujian mandiri. Mereka hanya akan mendapat mahasiswa “kelas dua” karena kebanyakan dari calon mahasiswa unggulan tersedot habis setelah mengikuti ujian mandiri yang biasanya diselenggarakan sebelum SNMPTN dimulai.

Akar Persoalan

Justifikasi penyelenggaraan ujian mandiri sebenarnya dimulai ketika terjadi perubahan status perguruan tinggi melalui PP 152, 153, 154, dan 155 tentang Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT BHMN) sejak tahun 2000. Lima PTN yang berubah status menjadi PT BHMN ketika itu adalah UI, UGM, ITB, dan IPB. Belakangan menyusul USU, UPI, dan UNAIR. PT BHMN mensyaratkan penyelenggaraan otonomi keuangan dan tata kelola yang dilaksanakan secara transparan dan akuntabel. Kalau dilihat sejarah awal ujian masuk mandiri sebenarnya muncul tidak lama setelah PP tentang PT BHMN ditetapkan. Nama dan bentuk penyelenggaraannya bermacam-macam. Mulai dari Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI), Ujian Masuk UGM (UM UGM), Seleksi Masuk Universitas Padjajaran (SMUP), yang semuanya itu mengalokasikan jatah lebih dari 60% kursi mahasiswa. Proporsi kursi untuk mereka yang lulus SNMPTN tidak lebih dari 20% saja. Mereka yang ngotot ingin masuk PTN unggulan akan berpikir dua kali jika mencoba masuk melalui jalur SNMPTN.

Dan yang paling mengerikan dari sistem seperti ini adalah ketika melihat jumlah biaya yang harus dibayarkan calon mahasiswa kepada universitas. Sebelum ujian dimulai, beberapa PTN mengajukan formulir kesanggupan bayar yang harus diisi oleh calon mahasiswa. Angkanya fantastis. Semakin besar kesanggupan bayar si calon mahasiswa, maka kemungkinan diterima di PTN tersebut akan semakin besar. Bahkan di fakultas kedokteran salah satu PTN misalnya, minimal pembayaran sebesar 175 juta rupiah. Bagaimana mungkin dana sebesar itu sanggung dibayar oleh mereka yang tidak mampu? PTN benar-benar telah berubah menjadi ajang bisnis. Sangat Mengerikan. Perguruan tinggi tidak lagi menawarkan jasa, tetapi memperdagangkan pendidikan sebagai barang ekonomi yang bisa mereka perjual-belikan kepada yang membayar paling mahal.

Debat substansial tentang isu ini lagi-lagi berujung pada sejauh mana kontribusi negara dalam pendidikan, terutama pendidikan tinggi, karena penyelenggaraan ujian masuk mandiri adalah sah dan tak terhindarkan mengingat kebutuhan self financing yang menjadi tuntutan PTN.  Logika PTN berjalan sesuai dengan payung hukum yang membawahinya. Tetapi, pelan-pelan sistem ini akan merusak persaingan antaruniversitas dan membuat SNMPTN semakin tidak populer. Penerapan sistem yang tidak ideal akan membuat setiap PTN berlomba-lomba melaksanakan ujian masuk mandiri di tahun-tahun mendatang.

In Memoriam ; I Wayan Suwira Satria

Hujan rintik-rintik mengguyur kampus UI tadi sore. kabar mengejutkan saya terima saat makan dan ngobrol di Kantin Sastra. Niat saya bertanya ke seorang teman tentang mata kuliah yang saya lewatkan siang harinya, “eh, tadi ada kuliah filsafat kontemporer ga?” “enggak ada, kan dosen pada ngelayat ke tempat Pak Wayan” saya agak bingung lalu meneruskan, “ngapain?” teman saya dengan ekspresi lebih bingung lagi “lu ga tau, Pak Wayan meninggal, sakit jantung, hari ini jenazah nya mau dikremasi”.

seperti tersambar petir, saya terkejut. alangkah cepatnya Tuhan memanggilnya, Pak Wayan, Pembimbing Akademis saya selama empat tahun di UI. teman saya bilang semua kuliah hari ini diliburkan untuk memberi kesempatan terakhir, melayat kerumah beliau.

di kelas, yang selalu saya perhatikan dari beliau justru kebugaran tubuhnya. Badannya tinggi – tegap. Sebagai ahli filsafat timur, saya ingat, Pak Wayan pernah mengajari kami – peserta kelas filsafat india – latihan yoga, di kelas terbuka. Selain untuk kesehatan, Pak Wayan bercerita tentang kedamaian dan bagaimana memaknai konsep harmoni yang diajarkan pemikiran timur.

sekalipun interaksi saya dengan Pak Wayan terbatas, saya tahu, beliau orang yang ramah, kebapakan, dan ingin mahasiswa bimbingannya maju dan berpikiran terbuka. pernah suatu ketika ia berkata “kamu harus gesit untuk masalah akademik, saya tidak pernah mau menyusahkan kamu, saya akan bantu sejauh yang saya bisa” (ketika itu saya menghadap beliau karena ada masalah Isian Rencana Studi yang selalu menjadi momok bagi saya tiap semesternya).

ditengah kesibukannya, Pak Wayan termasuk orang yang sulit ditemui di kampus. beberapa kali saya mengkontak beliau untuk minta persetujuan mata kuliah yang saya ambil di tiap semester (bahkan sampai akhir hayatnya, Isian Rencana Studi saya semester ini belum disetujui oleh beliau), tapi beliau selalu berhalangan (atau beberapa kali sedang berada di luar kota). pernah dengan nada cukup keras, saya ditegur lewat SMS oleh Pak Wayan karena telat mengurus IRS yang sudah lewat masa berlakunya. mungkin, kesabaran beliau sudah habis karena wakil dekan juga menegur langsung lewat account SIAK NG saya yang masih belum disetujui oleh PA.

Departemen dan mahasiswa filsafat UI hari ini berduka. Drs. I Wayan Suwira Satria MM, demikian namanya tertera dengan kelengkapan gelar akademis di bagian informasi “turut berduka cita” di depan gerbang masuk UI. semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas kebaikan yang pernah Pak Wayan lakukan di dunia.

Tentang K2N Mahasiswa UI

Program K2N yang dicanangkan Universitas Indonesia satu tahun belakangan adalah satu langkah maju. Tahun lalu, mahasiswa UI dikirim ke Miangas. Tahun ini ke 12 pulau terluar Nusantara mulai dari Sabang sampe Merauke, Nabire, pulau Rote, pulau Berhala, dan banyak lagi. Dengan tema dan visi yang cukup bagus tentang strategi pertahanan pulau-pulau terluar Indonesia. Saya dengar, program ini terlaksana berkat bantuan beberapa Usahawan Swasta dan Departemen milik pemerintah. Terlepas dari carut-marutnya birokrasi dan kontroversi pembayaran uang kuliah yang semakin mahal, program ini patut diapresiasi. Alasannya sederhana. Mahasiswa generasi sekarang adalah mahasiswa dari golongan sosial-ekonomi yang terbilang mapan. Yang berasal dari golongan ekonomi lemah pasti ada dan jumlahnya tidak bisa dikatakan sedikit. Tapi saya kira, kerjasama beasiswa dan bantuan pendidikan yang dilakukan UI sangat membantu mahasiswa yang berasal dari golongan ini. Bahkan ada teman saya yang mengaku mengantongi tiga beasiswa sekaligus. “Kampus UI kampus rakyat” yang senantiasa didengungkan aktivis mahasiswa adalah jargon yang diperuntukkan memelihara semangat dan harapan anak-anak dari seluruh pelosok negeri untuk kuliah di UI. Karena percayalah, realitas UI bukan realitas Indonesia. Sangat jauh. Disini fasilitas lengkap. Transportasi Bis yang sangat nyaman, Hotspot dimana-mana, ada jalur sepeda, sarana olahraga, perpustakaan mewah, taman yang indah, danau yang menyejukkan, nuansa kampus yang seperti taman wisata. Jadi, seharusnya tak ada alasan untuk tidak pintar kuliah di UI.

Kembali ke K2N, saya keberatan dengan syarat minimal 90 SKS untuk mengikuti program ini. Justru mahasiswa sejak tahun pertama seharusnya diikutsertakan pada kerja sosial seperti ini. Bukan mengharapkan pada kegiatan-kegiatan temporer seperti baksos atau jalan-jalan sosial, sebagaimana sering dilaksanakan BEM-BEM Fakultas. Setiap mahasiswa UI seharusnya diwajibkan minimal sebulan untuk ikut program pengabdian masyarakat. Kalau tidak di tahun pertama, maka ia wajib di tahun kedua, atau ketiga, begitu seterusnya. Dan kewajiban ini harus diikuti layaknya keharusan mereka mengikuti mata kuliah wajib sebagai prasyarat kelulusan.

Perlahan-lahan, K2N ini harus diserahkan pada mahasiswa murni sebagai pengelolanya dan menjadikan kerja berbasis masyarakat luas menjadi trend setter disetiap kegiatan-kegiatan mahasiswa. Karena sudah jadi rahasia umum, logistik dan fasilitas berlebih tadi membuat mahasiswa menjauh dari realitas masyarakat. Masih untung kalau banyak mahasiswa sekarang seperti “orang yang berumah di awan” yang artinya mereka cerdas secara teori dan konsep-konsep akademik. Sekarang kondisinya, sulit sekali mencari mahasiswa dengan pikiran kritis, orisinil, apalagi idealis. Dengan program K2N, setidaknya mahasiswa UI bisa mengencangkan ikat pinggang dan semakin tersadarkan bahwa realitas Indonesia hanya bisa dimaknai lewat kedekatan dengan masyrakat kecil diluar Jawa yang tak tersentuh arus pembangunan, media massa, partai politik, dan keadilan. Mereka adalah orang Indonesia yang harus kita selami dengan sikap hormat. Di tempat-tempat yang sering kita asosiasikan dengan “ketidak-beruntungan, kemerosotan kebudayaan, keterbelakangan” itulah, bersembunyi rumah-rumah Tuhan.

Mahasiswa UI juga mendobrak dinding kuliah dengan mengasah sensitifitas sosial yang hanya berlangsung sebulan itu. Terkesan romantik memang, tapi begitulah adanya. Dimanapun dan kapanpun, selalu ada kesenjangan antara pengetahuan dan realitas. Ilmu yang teoritis per se, akan manipulatif dan cenderung mengabdi pada kekuasaan. Karena ilmu itu cara kerjanya mirip ideologi, semakin ia mengalami kekosongan dari kontradiksi-kontradiksi pandangannya, maka ia bisa menghegemoni. Dan mahasiswa yang menghambakan diri pada ilmu an sich, layak disebut keledai.

Menumbuhkan Optimisme Kita

Tulisan pengantar pada buletin BEM FIB UI dalam rangka menyambut mahasiswa baru FIB UI angkatan 2009..lumayan buat nyemangatin para ‘jiwa-jiwa muda’ ini supaya ga ‘mati muda’ 🙂

Membangun UI, sama dengan membangun Bangsa

(Usman Chatib Warsa, Mantan Rektor Universitas Indonesia)

Begitulah janji Rektor Universitas Indonesia ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini. Sungguh, saya teramat yakin dengan kata-kata diatas. Spirit awal dibukanya kampus Universitas Indonesia memang bertujuan agar seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang asal-usul ataupun latar belakang ekonominya, dapat tumbuh-berkembang membesarkan bangsa. Disinilah calon pemimpin dari tiap sektor kehidupan di gembleng dan merasakan kerasnya kompetisi. Insya Allah, UI adalah kampus yang merepresentasikan keindonesiaan.

Sebangun dengan sejarah besar UI, mahasiswa kampus ini tercatat ikut serta dalam setiap fase genting perubahan di Indonesia, sejak era pra kemerdekaan hingga sekarang. Mahasiswa UI tidak hanya identik dengan “singa gerakannya”, tapi juga produk intelektual, penalaran kritis, keberpihakan pada nasib rakyat, dan pengembangan masyarakat. Saya kira, semua akan sepakat dan memang begitulah seharusnya kita bertindak.

Tetapi, saya menyadari, dalam iklim kemahasiswaan seperti sekarang, cukup berisiko berbicara seperti ini. Setiap penegasaan terhadap cita-cita, sejarah besar, dan nilai-nilai bersama sangat mungkin terkesan naif dan menutup-nutupi kenyataan bahwa ada permasalahan serius yang sedang kita hadapi. Ada persoalan kemiskinan, pengangguran, biaya pendidikan yang makin mahal, birokrasi kampus yang berbelit, ketergantungan pemuda pada narkoba dan dan segala bentuk kesia-siaan yang membuat kita tidak yakin atas apa yang kita lakukan.

Akan tetapi, bagi saya, kita tak punya pilihan. Itulah sederet tantangan yang harus kita hadapi saat ini. Mengabaikan tantangan terpenting akan menempatkan kita sebagai generasi pertama dalam sejarah yang merasakan kehidupan yang lebih lemah daripada yang kita warisi. Hanya harapan, mimpi, dan optimisme menatap masa depan yang mampu menyelamatkan kita dari keterpurukan. Kerja keras dan kerja cerdas harus mengarahkan kesadaran kolektif kita dalam setiap usaha perubahan. Mungkin, masing-masing kita mungkin punya cerita yang berbeda. Namun, saya merasa, hal-hal yang menyatukan kita jauh lebih banyak dan lebih berarti dibandingkan perbedaan-perbedaan itu.

Itulah yang saya tawarkan untuk semua mahasiswa baru UI angkatan 2009 dan lebih khusus lagi, mahasiswa baru FIB UI 2009. Salam hormat dan bangga saya atas pencapaian kalian semua. Selamat datang di kampus perjuangan. Jangan pernah terucap kata puas dalam berjuang, karena sejatinya anda baru memulai semuanya. Yakinlah dengan kemampuan yang anda miliki, berikanlah yang terbaik karena status “mahasiswa” adalah barang mewah bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, terlebih, ditengah nasib pendidikan yang masih tanda tanya. Teman-teman mahasiswa baru, amat saya harapkan berada di garis terdepan perubahan bangsa.

Hidup Mahasiswa.!! Hidup Rakyat Indonesia.!!

Noory Okthariza (Ketua Umum BEM FIB UI 2009)

Batal ikut International Conference

Dengan berat hati, rencana keikutsertaan saya mewakili Indonesia dalam International Youth Leadership Conference di Praha bulan Juli ini terpaksa dibatalkan. Sayang sekali, karena kurang cekatan dan tidak mempersiapkan segalanya dengan serius, saya melewatkan kesempatan emas berkunjung ke Praha. Masalahnya di biaya. Saya sudah mencoba mengirimkan proposal bantuan anggaran ke beberapa instansi, tapi nihil. Padalah konferensi ini cukup prestisius karena mengangkat tema-tema kontemporer seperti Global economic crisis, social justice, dan democracy. Pesertanya 120 pemuda dari 35 negara. Peserta konferensi juga berkesempatan mengunjungi beberapa kedutaan, berjumpa dengan tokoh bisnis dan para politisi dunia, atau bahkan sekedar mendapat learning experience yang tak bisa kita dapatkan di sini. Huhf…, semoga dilain waktu saya lebih beruntung.

SATIR DUNIA KEMAHASISWAAN

Tulisan pertama saya yang dimuat sebagai kata pengantar edisi pertama Buletin BEM FIB UI “Pelangi Budaya”

. . . atau jiwa kami melayang, untuk kemerdekaan, kemenangan, dan harapan. . .Atau tidak untuk apa-apa. . .Kami bicara padamu, dalam hening di malam sepi. . . .Jika dada rasa hampa, dan jam dinding yang berdetak. . .Teruskan, teruskan jiwa kami)
(Chairil Anwar : Krawang-Bekasi, 1948)


Tonggak estafet perjuangan memang tak kan pernah henti. Sungai kehidupan terus mengalir. Sekaranglah saatnya kita berkesempatan mengenyam era kemahasiswaan yang hanya bisa dirasakan 3% saja dari total penduduk negeri ini. Tapi kemudian jumlah sedikit tak mesti membuat hasilnya menjadi kecil. Karena sejarawan sekelas Arnold Tonybee pun mengakui, mahasiswa (pemuda) adalah creative minority ; tempat awal dari segala perubahan besar, akar reformis dalam setiap momen genting lintas zaman.

Dan visi besar perubahan tak ayal memerlukan pra-kondisi untuk menggapainya. Sesuatu yang terkadang kita inginkan begitu saja hadir ditengah-tengah kita, tanpa upaya aktif menghadirkan perubahan itu. Teruntuk harapan itulah BEM FIB UI 2009 menyapa kita semua dengan visi ; Melangkah Bersama Menggenggam Cita-Cita. Suatu upaya kecil untuk menyusun kembali bata-bata kebersamaan yang sejak awal pernah diperjuangkan, merajut kembali tali persaudaraan yang selalu dicita-citakan oleh siapa saja.

Rekan-rekan sekalian. Keuniversalan cerita sebuah kebersamaan dan persaudaraan membuat sepanjang sejarah memiliki cerita emasnya masing-masing. Geloranya universal. Menumbuhkan optimisme pada siapa saja yang membacanya. Tapi itu semua tak membuat cerita kita di kampus budaya ini menjadi catatan kaki. Kita meyakini hal itu tak sampai mereduksi kekhususan cita-cita membangun kebersamaan ini. Bukan karena tak mampu, melainkan hal itu memang perlu dan harus terus diupayakan.

Meski artikulasi diatas kerap diartikan sebagai satir, hanya untuk meyakini orang akan sesuatu yang pasti tak kan pernah terjadi. Saya katakan, setiap perubahan membutuhkan harapan. Dan harapan itu harus terus-menerus dimunculkan. Bukankah kita pun merasa ingin meletakkan fondasi bagi terwujudnya FIB yang lebih baik? Ditengah-tengah keterbatasan waktu kuliah 4-6 tahun yang kita miliki?

Itu sebabnya harapan adalah harga mahal. Sebab disana terkandung nilai sekian banyak orang yang bersepakat menyerahkan kepercayaannya. Dan tak diragukan lagi setiap harapan perlu diorganisir agar ia tak tumpah ruah menjadi wacana tanpa arti. James Madison mengatakan : “If men were angels, no government would be necessary”. Sayang kita semua bukan malaikat seperti seperti yang dikatakan Madison. Itulah sebabnya kita merasa perlu berserikat dan berkumpul, sebagai bagian dari upaya menjamin harapan itu tidak pudar begitu saja.

Rekan-rekan. Tentu kita ingat lelucon ironis tentang mahasiswa yang sering digembar-gemborkan itu ; buku, pesta, cinta. Ketiganya dianggap paling menggambarkan karakteristik kehidupan mahasiswa. Tetapi, pernahkah kita menerka-nerka apa yang bisa kita berikan atas dasar tiga hal ini? Saat-saat dimana mahasiswa betah menghabiskan waktunya dengan mengurung diri untuk sesuatu bagi dirinya sendiri?

Barangkali catatan klasik tentang ironi semacam ini di Indonesia adalah dari Soe Hok Gie, dari masa dimana kampus ini masih bernama Fakultas Sastra. “Saya kecewa dengan anak-anak Sastra” tulisnya disalah satu bagian dari catatan hariannya. “Mereka lebih senang menghabiskan waktu untuk obrolan yang bagi saya tidak masuk akal” lanjutnya “Mereka mati muda belum pada saatnya.” Gie mengatakan itu lebih dari 40 tahun yang lalu. Pastinya kita tak ingin merasakan kekecewaan yang sama.

Rekan-rekan sekalian. Mengapa kita perlu bersungguh-sungguh mengupayakan satir ini? Mungkinkah karena kita hidup, ditengah konstruk mahasiswa tempat kita berkuliah ini, lalu tak sanggup menanggung beratnya tekanan sosial yang tak menoleransi idealisme, harapan, hal-hal yang sebenarnya sangat berhubungan dengan semangat menjalin kebersamaan itu?
Atau mungkin karena diam-diam kita bersepekat oleh ajakan-ajakan sepi diluar sana ; bahwa mereka yang sinis itu hanya menonjolkan aspek-aspek buruk dari kehendak baik ini. Mereka curang karena menonjolkan keburukan secuil ditengah kebaikan yang melimpah. Mereka manampilkan diri sebagai orang yang meragu.

Jamak kita mendengar nada-nada murung ihwal dunia kemahasiswaan seperti itu, terlebih tentang organisasi seperti BEM dan sejenisnya. Sebagian kita pun mungkin bertanya-tanya dalam hati ; “Bisakah para mahasiswa ini tak hanya mengkritik saja dan ikut terlibat didalamnya?”

Tapi katakanlah pesimisme mereka itu shahih ; kita hidup ditengah kepungan gejala umum kelemahan-kelemahan dunia mahasiswa yang mendera. Dengan semua itu, agaknya kita percaya bahwa kita masih mungkin mencuri peluang “Bersama Menggenggam Cita-Cita” dari situasi umum kekecewaan itu. Sebab, kita mesti memaknai kebersamaan sebagai kata kerja ketimbang kata benda ; sebagai konsep dinamis, yang harus diupayakan secara aktif, bukan sesuatu yang akan kita terima dengan pasif karena kita sangka ia dapat hadir begitu saja di kampus kita.

Dan cukuplah sejumlah baris heroik di awal tulisan ini mengabarkan kepada kita tentang arti penting sebuah perjuangan. “Kemerdekaan, kemenangan, harapan” – toh semuanya tak membuat jalannya kepengurusan organisasi ini setahun ke depan kebal dari permasalahan dan perselisihan. Dan kalaupun itu harus terjadi, ingatlah bahwa kita tak kan pernah membiarkan masalah memecah belah kita. Kita tak ingin diperbudak oleh keadaan yang mengharuskan kita melarikan diri, atau bahkan memburukkan satu dan yang lain. Kita akan ingat kembali tujuan awal kebersamaan itu.

Rekan-rekan sekalian. BEM adalah ruang bagi para pejuang yang memiliki harapan dan mahasiswa adalah agen untuk mewujudkan harapan itu. Sedangkan kampus merupakan laboratorium untuk menguji sampai sejauh mana apa yang diperjuangkan mahasiswa itu mungkin.

Kita akan selalu ingat Gie. Kita akan pastikan tak ada diantara kita yang mati muda.

Hidup Mahasiswa !!!
Hidup Rakyat Indonesia !!!