SATIR DUNIA KEMAHASISWAAN

Tulisan pertama saya yang dimuat sebagai kata pengantar edisi pertama Buletin BEM FIB UI “Pelangi Budaya”

. . . atau jiwa kami melayang, untuk kemerdekaan, kemenangan, dan harapan. . .Atau tidak untuk apa-apa. . .Kami bicara padamu, dalam hening di malam sepi. . . .Jika dada rasa hampa, dan jam dinding yang berdetak. . .Teruskan, teruskan jiwa kami)
(Chairil Anwar : Krawang-Bekasi, 1948)


Tonggak estafet perjuangan memang tak kan pernah henti. Sungai kehidupan terus mengalir. Sekaranglah saatnya kita berkesempatan mengenyam era kemahasiswaan yang hanya bisa dirasakan 3% saja dari total penduduk negeri ini. Tapi kemudian jumlah sedikit tak mesti membuat hasilnya menjadi kecil. Karena sejarawan sekelas Arnold Tonybee pun mengakui, mahasiswa (pemuda) adalah creative minority ; tempat awal dari segala perubahan besar, akar reformis dalam setiap momen genting lintas zaman.

Dan visi besar perubahan tak ayal memerlukan pra-kondisi untuk menggapainya. Sesuatu yang terkadang kita inginkan begitu saja hadir ditengah-tengah kita, tanpa upaya aktif menghadirkan perubahan itu. Teruntuk harapan itulah BEM FIB UI 2009 menyapa kita semua dengan visi ; Melangkah Bersama Menggenggam Cita-Cita. Suatu upaya kecil untuk menyusun kembali bata-bata kebersamaan yang sejak awal pernah diperjuangkan, merajut kembali tali persaudaraan yang selalu dicita-citakan oleh siapa saja.

Rekan-rekan sekalian. Keuniversalan cerita sebuah kebersamaan dan persaudaraan membuat sepanjang sejarah memiliki cerita emasnya masing-masing. Geloranya universal. Menumbuhkan optimisme pada siapa saja yang membacanya. Tapi itu semua tak membuat cerita kita di kampus budaya ini menjadi catatan kaki. Kita meyakini hal itu tak sampai mereduksi kekhususan cita-cita membangun kebersamaan ini. Bukan karena tak mampu, melainkan hal itu memang perlu dan harus terus diupayakan.

Meski artikulasi diatas kerap diartikan sebagai satir, hanya untuk meyakini orang akan sesuatu yang pasti tak kan pernah terjadi. Saya katakan, setiap perubahan membutuhkan harapan. Dan harapan itu harus terus-menerus dimunculkan. Bukankah kita pun merasa ingin meletakkan fondasi bagi terwujudnya FIB yang lebih baik? Ditengah-tengah keterbatasan waktu kuliah 4-6 tahun yang kita miliki?

Itu sebabnya harapan adalah harga mahal. Sebab disana terkandung nilai sekian banyak orang yang bersepakat menyerahkan kepercayaannya. Dan tak diragukan lagi setiap harapan perlu diorganisir agar ia tak tumpah ruah menjadi wacana tanpa arti. James Madison mengatakan : “If men were angels, no government would be necessary”. Sayang kita semua bukan malaikat seperti seperti yang dikatakan Madison. Itulah sebabnya kita merasa perlu berserikat dan berkumpul, sebagai bagian dari upaya menjamin harapan itu tidak pudar begitu saja.

Rekan-rekan. Tentu kita ingat lelucon ironis tentang mahasiswa yang sering digembar-gemborkan itu ; buku, pesta, cinta. Ketiganya dianggap paling menggambarkan karakteristik kehidupan mahasiswa. Tetapi, pernahkah kita menerka-nerka apa yang bisa kita berikan atas dasar tiga hal ini? Saat-saat dimana mahasiswa betah menghabiskan waktunya dengan mengurung diri untuk sesuatu bagi dirinya sendiri?

Barangkali catatan klasik tentang ironi semacam ini di Indonesia adalah dari Soe Hok Gie, dari masa dimana kampus ini masih bernama Fakultas Sastra. “Saya kecewa dengan anak-anak Sastra” tulisnya disalah satu bagian dari catatan hariannya. “Mereka lebih senang menghabiskan waktu untuk obrolan yang bagi saya tidak masuk akal” lanjutnya “Mereka mati muda belum pada saatnya.” Gie mengatakan itu lebih dari 40 tahun yang lalu. Pastinya kita tak ingin merasakan kekecewaan yang sama.

Rekan-rekan sekalian. Mengapa kita perlu bersungguh-sungguh mengupayakan satir ini? Mungkinkah karena kita hidup, ditengah konstruk mahasiswa tempat kita berkuliah ini, lalu tak sanggup menanggung beratnya tekanan sosial yang tak menoleransi idealisme, harapan, hal-hal yang sebenarnya sangat berhubungan dengan semangat menjalin kebersamaan itu?
Atau mungkin karena diam-diam kita bersepekat oleh ajakan-ajakan sepi diluar sana ; bahwa mereka yang sinis itu hanya menonjolkan aspek-aspek buruk dari kehendak baik ini. Mereka curang karena menonjolkan keburukan secuil ditengah kebaikan yang melimpah. Mereka manampilkan diri sebagai orang yang meragu.

Jamak kita mendengar nada-nada murung ihwal dunia kemahasiswaan seperti itu, terlebih tentang organisasi seperti BEM dan sejenisnya. Sebagian kita pun mungkin bertanya-tanya dalam hati ; “Bisakah para mahasiswa ini tak hanya mengkritik saja dan ikut terlibat didalamnya?”

Tapi katakanlah pesimisme mereka itu shahih ; kita hidup ditengah kepungan gejala umum kelemahan-kelemahan dunia mahasiswa yang mendera. Dengan semua itu, agaknya kita percaya bahwa kita masih mungkin mencuri peluang “Bersama Menggenggam Cita-Cita” dari situasi umum kekecewaan itu. Sebab, kita mesti memaknai kebersamaan sebagai kata kerja ketimbang kata benda ; sebagai konsep dinamis, yang harus diupayakan secara aktif, bukan sesuatu yang akan kita terima dengan pasif karena kita sangka ia dapat hadir begitu saja di kampus kita.

Dan cukuplah sejumlah baris heroik di awal tulisan ini mengabarkan kepada kita tentang arti penting sebuah perjuangan. “Kemerdekaan, kemenangan, harapan” – toh semuanya tak membuat jalannya kepengurusan organisasi ini setahun ke depan kebal dari permasalahan dan perselisihan. Dan kalaupun itu harus terjadi, ingatlah bahwa kita tak kan pernah membiarkan masalah memecah belah kita. Kita tak ingin diperbudak oleh keadaan yang mengharuskan kita melarikan diri, atau bahkan memburukkan satu dan yang lain. Kita akan ingat kembali tujuan awal kebersamaan itu.

Rekan-rekan sekalian. BEM adalah ruang bagi para pejuang yang memiliki harapan dan mahasiswa adalah agen untuk mewujudkan harapan itu. Sedangkan kampus merupakan laboratorium untuk menguji sampai sejauh mana apa yang diperjuangkan mahasiswa itu mungkin.

Kita akan selalu ingat Gie. Kita akan pastikan tak ada diantara kita yang mati muda.

Hidup Mahasiswa !!!
Hidup Rakyat Indonesia !!!

Pemuda dan Gerakan Stratejik-Politik

Problem besar nasional pasca reformasi agaknya bertambah banyak. Kalau dahulu tuntutan reformasi yang didengungkan oleh banyak kalangan belum membuat kita berpuas, maka tantangan dan tuntutan bangsa ke depan mengindikasikan bahwa kita mesti lebih cepat belajar. Betapa tidak, agenda-agenda mendesak silih berganti datang menghampiri republik ini. Perubahan cepat yang terjadi disekeliling kita dibandingkan dengan konsolidasi demokrasi saat ini sering berjalan satu kaki.

Bagi pemuda, tantangan paling dekat yang harus mendapat perhatian ekstra adalah proyeksi kepemimpinan bangsa. Sepuluh tahun reformasi ternyata tidak menjamin jalannya tata kelola pembangunan yang menyeluruh dan menyentuh beragam aspek di masyarakat. Walhasil, kita melihat disana-sini kesenjangan semakin merebak. Untuk itu, penguatan kepemimpinan bangsa sebagai pilar kemajuan merupakan agenda yang tak bisa ditawar lagi.

Sayangnya keinginan kuat untuk merubah keadaan itu masih terhambat oleh oligarki kekuasaan yang merajalela. Buah yang dipupuk oleh rezim orba masih kental menghiasi frame berpikir mayoritas penguasa negeri ini. Kekuasaan ternyata masih dipandang sebagai domestikasi keadaan yang harus dijaga kelanjutannya. Sehingga, setiap kali isu suksesi kepemimpinan diwacanakan, resistensi yang mengiringinya nyaris selalu bernada parokial. Figur-figur muda-berkualitas bukannya tidak ada, namun lebih kepada ketidakmampuan menembus budaya elit partai yang memiskinkan kreativitas mereka.

Mewacanakan terus isu penguatan kepemimpinan bangsa – pada kondisi tertentu – bisa menyebabkan kejenuhan sosial bila tidak dikendalikan dengan bijak. Beberapa wacana publik yang terus terjadi akhir-akhir ini mengafirmasikan kepada kita hal ini. Publik terkesan jenuh dengan isu-isu yang berkutat disekeliling mereka yang pada akhirnya menciptakan persaingan yang tidak sehat ditingkat elit. Menjawab itu, pewacanaan kepemimpinan harus bergerak sesegera mungkin menjadi sebuah political movement yang progresif.

Political movement bercirikan ide-ide yang tersebar digunakan bukan untuk dikonsumsi sebagai wacana harian semata. Ia hadir demi common interest yang diyakini kelompok tertentu. Pemuda bisa mengarahkan para loyalisnya kearah tujuan ini. Dalam tingkat tertentu, gagasan ini memerlukan landasan stratejik dan operasional yang memadai.

Pada tingkat stratejik, landasan dari gagasan ini harus mampu menguasai wacana publik melalui penyebaran ide-ide intelektual yang bisa dilakukan oleh para cendekiawan maupun aktivis pergerakan. Pergulatan wacana masih menjadi senjata andalan di era ketika sekat-sekat informasi menjadi tak berarti. Tinggal bagaimana mengelola agar wacana seperti ini tidak cepat dilupakan begitu saja.

Langkah selanjutnya adalah melakukan kaderisasi kepemimpinan politik. Perbedaan paling mencolok antara dunia politik dan bisnis adalah, belum adanya budaya meritokrasi dalam dunia politik. Regenerasi kepemimpinan masih jauh dari logika meritokrasi disebabkan masih kuatnya will to power yang dimiliki oleh penguasa. Keharusan setiap kita untuk tidak membiarkan hal ini terus terjadi melalui reaksi-reaksi kultural yang sifatnya kontinu.

Pada tataran operasionalnya, kita memerlukan serangkaian terobosan sebagai landasan kuat dalam berpijak. Pertama, harus diingat, kegagapan partai membaca situasi yang diiringi keharusan perubahan budaya politik kearah kosmopolit adalah agenda kepartaian – melalui komunikasi politik – yang harus ditunaikan secepatnya. Kita harus mulai membangun sistem dan budaya kepemimpinan kolektif sebagai syarat kondisi keberlangsungan partai modern. Singkatnya, perlu diperhatikan penguatan kelembagaan partai termasuk institusi-institusi negara lainnya sebagai pilar demokrasi.

Kedua, pemberdayaan masyarakat banyak sebagai silent majority dalam pewacanaan penguatan kepemimpinan bangsa. Pengelolaan suara masyarakat akan efektif manakala dilakukan jauh sebelum perhelatan pemilu yang menentukan dimulai. Pemberdayaan seperti ini tentunya memerlukan sensitifitas kultural yang baik dan komunikasi serta pendidikan politik yang melibatkan segenap masyarakat.

Jangan lupa, demokrasi yang kini dianut Indonesia meniscayakan perputaran uang yang tidak sedikit. Apalagi untuk sekedar dikenal oleh masyarakat melalui iklan-iklan yang bertebaran dimana-mana. Untuk itu selain penguatan semua hal diatas, kemandirian ekonomi di dalam dunia politik menjadi penting.

Modal yang cukup akan menjamin berjalannya fungsi-fungsi strategis penyebaran gagasan-gagasan besar ke masyarakat. Kemandirian ekonomi dalam politik tidaklah identik dengan korporatokrasi karena ia mengisyaratkan unit-unit usaha politik dapat berjalan secara mandiri.

Agaknya model aliansi “Ide Muda”– Kepemimpinan – Modal – akan menentukan nasib perjalanan bangsa kita ke depan. Kegagalan kita menemukan konsep yang tepat dalam menjawab tantangan kepemimpinan bangsa akan mengakibatkan ongkos sosial yang tak terkira besarnya.